Harga Karet Anjlok, Petani Tahan Penjualan

Dibaca:
Komentar :
KOMPAS/HARYO DAMARDONO

Tutur (56), petani Dusun Laban, Desa Bangunsari, Kecamatan Pageruyung, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, mencari sisa tetes getah karet alam (lhem) di areal perkebunan milik PTPN XIX. Setiap kilogram lhem yang didapat dijual kepada pedagang pengumpul seharga Rp 1.400. Untuk mengumpulkan 5 kg lhem, Tutur harus mengais dari pagi hingga sore.

BANYUMAS, RABU — Petani karet di Kabupaten Banyumas sudah empat bulan ini menahan penjualan karet, menyusul memburuknya harga karet sejak krisis global berlangsung. Rata-rata setiap petani karet saat ini menyimpan dua sampai empat kuintal karet mentah.

Sanwikarta, petani karet di Desa Klinting, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Rabu (14/1), mengatakan, saat ini harga jual karet mentah kepada tengkulak hanya berkisar Rp 9.000 sampai Rp 9.500 per kilogram.

Harga itu sama sekali tak memberikan keuntungan bagi petani karena sebelum krisis global harga karet mentah mencapai Rp 20.000 per kilogram. "Masalahnya, nilai kerugiannya itu bukan karena tak bisa menutupi biaya produksi, tetapi nilai ekonominya itu sendiri. Lha wong karet kan memang tetap dibutuhkan masyarakat, harga karetnya pun harus layak bagi petani," katanya.

Menurut Ketua Kelompok Tani Karet Asri Desa Klinting Imam Sutoyo, kemungkinan petani karet di desanya baru mau menjual karet kalau harga beli karet mentah dari tengkulak mencapai Rp 13.000 per kilogram. Setidaknya harga karet mentah itu harus berada di atas Rp 12.000 per kilogram.

Dikhawatirkan kalau harga karet mentah di bawah Rp 10.000 per kilogram, nilai karet akan anjlok. Apalagi, lanjut Imam, saat ini mulai banyak petani di desanya yang bersemangat mengembangkan perkebunan karet. Salah satu alasannya karena biaya produksi karet yang relatif murah, tetapi nilai jual karet yang tinggi.

Hingga 2008 kemarin, perluasan kebun karet di desanya mencapai 200 hektar dari sebelumnya hanya kurang dari 100 hektar. Tiga desa lainnya di Kecamatan Somagede juga ikut memperluas kawasan kebun karet, masing-masing berkisar 100 hektar. Produksi karet rakyat di Banyumas pun cukup besar, meski baru berjalan kurang dari tiga tahun belakangan ini.

Menurut staf Bidang Bina Usaha dan Perijinan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Banyumas, Edi Suharyanto, dari total lahan 130,26 hektar kebun karet dapat menghasil 60,5 ton karet mentah per tahun.

Total produksi itu pun, lanjutnya, belum ditambah dengan potensi produksi karet yang ada. Hal itu karena selama 2008 Pemerintah Kabupaten Banyumas dan pemerintah pusat sudah memberikan bantuan bibit karet hingga 6.565 bibit karet.

"Animo petani Banyumas sekarang ini cukup besar terhadap perkebunan karet. Karena itu, walaupun harganya sekarang anjlok, petani lebih memilih menahan penjualan," katanya menjelaskan.

Editor:

 

TERBARU
Gadget
Minggu, 26 Oktober 2014 10.15 WIB
Diancam "Smartphone Zoom", Apa Akal Canon?
e-Business
Minggu, 26 Oktober 2014 09.12 WIB
Happy Run: Olahraga, Amal dan Taiwan
e-Business
Sabtu, 25 Oktober 2014 15.08 WIB
Perusahaan Aplikasi Taksi Disuntik Rp 1 Triliun
Internet
Sabtu, 25 Oktober 2014 14.20 WIB
Kegiatan Taiwan Excellence di Indonesia 2014
Internet
Sabtu, 25 Oktober 2014 13.10 WIB
Indosat Gandeng Google untuk Peringatan Dini Tsunami
TERPOPULER
Senin, 20 Oktober 2014 17.10 WIB
Diprotes, Bolt Ubah Paket Langganan Internet
Rabu, 22 Oktober 2014 10.21 WIB
Kiprah "Smartphone" Nokia Resmi Berakhir
Kamis, 23 Oktober 2014 17.23 WIB
Kaesang Putra Jokowi "Nge-blog" JKT48 dan Jomblo
Senin, 20 Oktober 2014 13.26 WIB
"Netizen" Sambut Presiden Jokowi dengan Aneka Kartun
Senin, 20 Oktober 2014 11.02 WIB
Becak Terguling, iPhone 6 Terbakar
Kamis, 23 Oktober 2014 14.13 WIB
Hitung Soal Matematika Pakai Kamera Ponsel
Selasa, 21 Oktober 2014 12.11 WIB
Galaxy S6 Diharapkan Jadi Penyelamat Samsung
Kamis, 23 Oktober 2014 10.17 WIB
Dibongkar, Ada Sony di Galaxy Note 4
Senin, 20 Oktober 2014 14.29 WIB
Ucapan Selamat untuk Jokowi Iklankan Prosesor