
Jakarta, Kompas -
Demikian dikemukakan Direktur Eksekutif BIC Kristanto Santosa, Selasa (14/4) di Jakarta. ”Hasil inovasi dari para inovator nonlembaga itu diharapkan mudah implementasinya,” ujarnya.
Pada 2008, BIC untuk pertama kalinya menerbitkan buku berisikan 100 inovasi yang sebagian besar dihasilkan para periset institusi pemerintah, seperti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), serta beberapa PTN.
Menurut Kristanto, dari evaluasi BIC ada 21 hasil inovasi paling diminati, 17 inovasi sudah berjalan, dan tujuh inovasi pada tahap intermediasi. Materi inovasi paling diminati yaitu makanan dan bahan bangunan.
”Untuk inovasi bidang makanan, misal inovasi teknologi penebar umpan ikan tenaga surya atau mesin penghitung ikan. Kemudian di bidang bahan bangun alternatif, seperti inovasi penggunaan material bambu untuk papan,” kata Kristanto.
Mengenai tidak optimalnya inovasi para periset institusi pemerintah, menurut Kepala Pusat Inovasi LIPI Bambang Subiyanto, itu karena mekanisme yang tidak menunjang.
LIPI tengah menggodok pola badan layanan umum untuk aplikasi hasil-hasil riset supaya bisa diproduksi. Ketentuan yang akan dirumuskan antara lain 40 persen keuntungan bagi periset, 30 persen untuk institusi induk LIPI, dan 30 persen untuk unit institusi Pusat Inovasi LIPI.
Penyebab lainnya, menurut Sekretaris Dewan Riset Nasional Tusy A Adibroto, sektor industri selama ini masih lebih banyak mengandalkan inovasi teknologi dari asing.
