
Sesungguhnya, Sanyo Xacti VPC-TH1 yang berwarna silver ini cukup menyenangkan. Fisiknya yang mendatar keluar dari pakem Sanyo yang selama ini mengusung camcorder kompak bergaya pistol (vertikal). Namun pengoperasiannya tetap sama mudahnya. Maklum tombol-tombol di badannya memang tidak banyak dan dipusatkan di bagian belakang unit.
Kendali Dipusatkan di Belakang
Tata letak tombol pada camcorder kompak ini baik, mudah dijangkau. Di bagian belakang unit ini hadir dua tombol yang membentuk setengah lingkaran: sisi kiri berlogo kamera dan sisi kanan berlogo video. Tekan tombol berlogo kamera untuk memanfaatkan TH1 sebagai kamera digital dengan resolusi interpolasi 2 megapixel. Tekan tombol video untuk merekam klip film HD (high definition) dalam format MP4 (MPEG4 AVC/H.264).
Jika perlu men-zoom (in/out), arahkan telunjuk Anda ke bagian atas unit. Di sana ada tuas yang cukup besar. Dorong ke kanan/kiri tuas tersebut untuk men-zoom in/out. Zoom-nya yang mencapai 30x optikal terasa halus.
Di bawah tombol kamera dan video, tepat di antara keduanya, hadir sebuah tombol kecil untuk menampilkan hasil tayangan (Play) atau memindahkan modus tampilan (Rec).
Di arah bawah kanan ada sebuah tombol bulat kecil. Inilah tombol Menu, tekanlah untuk mengatur setting video/kamera seperti auto white balance dan ISO, mengaktifkan fasilitas Face Chaser, memilih Scene, melakukan koreksi Red Eye, dan lain-lain. Di sisi kiri tampaklah tombol kecil bertuliskan SET. Tekan ini saat Anda sudah mantap memilih apa pun dari Menu.
Sebuah cover karet bulat ada di sisi kiri bawah ini. Jika diungkap akan tampak slot DC-in, alias tempat memasukkan jack adapter listrik saat kita ingin mengisi ulang daya batere Li-Ion camcorder. Saat batere camcorder diisi ulang, lampu multi-indikator di tengah atas dua tombol kamera-video akan menyala merah terang. Lampu akan padam saat daya batere sudah kembali penuh.
Memori Internal, SD/SDHC, dan Port
Begitu dikeluarkan dari dus, Sanyo Xacti VPC-TH1 sebenarnya sudah bisa langsung dipakai untuk merekam foto atau klip film. Tidak perlu repot cari kartu SD/SDHC. Sebab dalam badannya sudah tertanam memori internal. Namun karena kapasitasnya hanya 43MB, sangat disarankan Anda membeli kartu SD (sebaiknya SDHC, misalnya Kingston SDHC Video 120minutes) agar Anda puas merekam/memotret. Slot SD/SDHC yang terpasang ini mendukung pemakaian kartu SDHC dengan kapasitas maksimal 32GB.
Buka/kembangkan layar LCD-nya. Di bagian dalam panel yang tadinya tertutup LCD itu terlihat slot karet memanjang dekat pinggir belakang unit. Cungkillah cover karet tersebut, dan Anda akan mendapatkan slot SD/SDHC. Dorong masuk kartu Anda ke sini (kami menggunakan Kingston SDHC Video 8GB), dan kembalikan cover karet tersebut.
Di bagian bawah panel dalam ini kita akan melihat dua port berjajar. Yang paling kiri adalah port USB yang juga merangkap sebagai port AV (audio video). Sedangkan di sebelahnya adalah terminal mini HDMI. Ya, camcorder ini memang dapat merekam klip video dalam format HD (High Definition) 1280x720 30fps. Rekaman video akan berakhiran MP4, sehingga dapat langsung di-upload ke situs YouTube. Tentu juga boleh dinikmati di layar TV yang juga sudah mendukung HD (sayang kabel HDMI tidak disertakan), atau ditransfer ke PC.
Di panel dalam ini, di atas port USB/AV dan (mini) HDMI, kita juga akan melihat sebuah tombol On/Off. Tekanlah agak lama untuk menyalakan camcorder. Pada unit yang kami coba, dibutuhkan waktu sekitar 8,84 detik setelah tombol On ditekan sebelum camcorder siap digunakan. Begitu dinyalakan, camcorder akan mengeluarkan bunyi ‘cring’ yang cukup nyaring. Jika terasa mengganggu, bunyi ini – juga bunyi saat shutter ditekan - bisa dinoaktifkan dari menu Setting. Tekan lagi tombol On saat Anda ingin mematikan camcorder, dan tunggulah sekitar 1 detik sebelum menutup
O ya, agar camcorder Sanyo Xacti TH1 bisa digunakan, batere Li-Ion yang disediakan harus dimasukkan ke bagian bawah unit. Geserlah kunci untuk slot batere di bagian belakang tengah unit, lalu balikkan camcorder dan buka cover batere. Setelah batere dimasukkan, jangan lupa menggeser kembali kunci slot batere tersebut.
Foto dan Video
Untuk memantau subjek bidikan, kita harus menggunakan LCD yang lebar, 3”. Layar LCD ini boleh diputar ke arah depan, jika Anda ingin merekam diri sendiri misalnya. Warna-warna tampak tajam dan jernih di LCD yang bisa diputar sampai 285 derajat itu. Di luar ruangan, di bawah cahaya matahari, layar masih bisa dilihat dengan cukup baik.
Adanya tombol khusus berlogo kamera membuat camcorder ini bisa menjelma menjadi sebuah kamera digital. Dual camera, begitu sebutan Sanyo. Cuma saat bertindak sebagai kamera digital, resolusi rekam TH1 tidak setinggi saat berfungsi sebagai camcorder. Resolusi maksimal kamera ‘aslinya’ 1,1 megapixel, tetapi dapat diinterpolasi sampai 2 megapixel.
Namun enaknya, pengaturan yang bisa dilakukan cukup banyak, mirip kamera digital sesungguhnya. ISO bisa dipilih antara Auto, 50, 100, 200, 400, 800, dan 1600. Koreksi Red Eye pun tersedia. Sementara pilihan Scene – agar tidak repot mengatur sendiri setting exposure dan white balance - terdiri dari Full Auto, Sports, Portrait, Landscape, Night Vew Portrait, Snow & Beach, Fireworks, dan Lamp.
Untuk fokus, tersedia Multi zone exposure metering, Center weighted, dan Spot metering. Exposure bisa dipilih antara Programed Exposure, Shutter preferred, Aperture preferred, dan Manual. Sedangkan White Balance terdiri dari Auto, Sunny, Cloudy, Fluorescent, Incandescent, dan pengaturan manual One Push.
Hasil bidikan foto maupun video, selama pencahayaan cukup, terlihat baik, tajam. Warna-warna tampak hidup, cerah. Namun pada kondisi yang temaram, misalnya di dalam ruang, hasil foto kurang sempurna. Ada noise yang cukup mengganggu. Ini khususnya bila kita menggunakan setelan Full Auto. Kondisi ini bisa sedikit diakali dengan mengaktifkan setelan Soft yang ada di Menu. Namun yang diperbaiki di sini hanyalah kontras, tanpa penajaman gambar.
Kurang optimalnya kualitas gambar juga terjadi pada klip video yang diambil di dalam ruangan yang pencahayaannya kurang. White balance dan backlight camcorder terlihat membutuhkan waktu agak lama untuk menyesuaikan diri. Hasil rekaman pun cenderung gelap. Namun di luar ruangan, kualitas gambar klip video tampak bagus, dengan warna-warna yang tajam.
Enaknya, saat sedang asyik merekam video kita juga boleh memotret. Tidak perlu pindah moda ke kamera terlebih dulu. Cukup tekan tombol Kamera saat kita asyik merekam gambar bergerak.
Namun kita juga bisa mendapatkan gambar diam (foto) dari hasil rekaman gambar bergerak (video). Caranya mudah, kendati membutuhkan ketelitian. Masuklah ke moda Playback, lalu pilih klip video yang ingin kita ambil gambar diamnya. Putar klip tersebut, atau jalankan frame per frame saat mem-pause klip, lalu tekan tombol SET dan goyangkan ke kiri/kanan untuk memilih frame yang ingin Anda jadikan foto. Bila sudah ketemu, tekan tombol Kamera. Pilih format gambar yang diinginkan (16:9 atau 4:3), maka salinan dari frame itu akan disimpan sebagai foto dalam format JPG. Klip videonya sendiri tidak diganggu-gugat.
Kejar Wajah
Ada fasilitas menarik pada TH1, yakni Face Chaser. Ini berlaku tidak cuma di moda video, tetapi juga kamera digital. Fitur yang jamak ditemui pada kamera digital terbaru ini (juga dikenal sebagai Face Detection) harus lebih dulu diaktifkan dari Menu.
Ketika Face Chaser aktif, saat Anda menekan setengah tombol bidik video atau kamera, sebuah kotak segi empat hijau akan membingkai wajah orang yang terdeteksi dalam tampilan LCD-nya. Kamera bisa mengejar lebih dari satu wajah, dengan syarat kedua mata orang itu menghadap ke depan. Jika ada orang yang menghadap ke arah samping, Face Chaser tidak akan bekerja. Demikian juga bila orang yang akan diambil gambar (diam/bergerak) itu menggunakan kacamata.
Tidak masalah bila subjeknya bergerak, karena kita bisa mengatur scene yang sesuai, misalnya Sports. Guncangan tangan saat merekam juga bisa dikurangi dengan fitur Image Stabilizer yang bersifat elektronis. Sayangnya – mungkin karena tangan kami yang kurang mantap menggenggam kamera – biasanya hasil rekaman gambar diam terlihat kurang fokus, kabur. Memang perlu membiasakan diri untuk mendorong, bukan menekan, tombol kamera/video agar camcorder tidak goyang.
Zoom 30x
Seperti telah disinggung di atas, TH1 mengemaskan zoom optikal yang sangat panjang, mencapai 30x. Ini kira-kira setara dengan 43mm sampai 1290mm. Karena itu kita bisa saja merekam adegan burung yang sedang bercengkerama di pucuk tiang antena rumah misalnya.
Akan tetapi panjangnya zoom itu juga menyebabkan tampilan pada LCD camcorder akan terlihat berguncang kuat. Karena itulah sangat disarankan untuk menggunakan tripod jika ingin menggunakan zoom optikal secara maksimal. Toh sudah disediakan lubang tripod di bagian bawah camcorder.
Rekam Suara
Gambar bergerak, alias klip video, akan direkam bersama suara yang menyertainya. Untuk mengurangi suara-suara yang tak diinginkan, seperti angin, tersedia Wind Noise Reduction dan 3D Noise Reduction. Saat kami coba, fitur ini mampu meredam sedikit suara angin.
Peletakan mikropon di bagian depan unit, di atas flash dan di bawah lensa, membuat suara yang ada di arah depan camcorder terekam cukup kuat, kendati ada sedikit distorsi. Suara mereka, termasuk pemegang camcorder, yang ada di arah belakang akan terekam cukup jelas, khususnya jika rekaman dilakukan di dalam ruang.
O ya, dalam kaitan dengan suara, camcorder ini ternyata bisa difungsikan sebagai pemutar musik. Masukkan saja file musik ke kartu atau memori internalnya, lalu pilih file tersebut dan tekan tombol Play. Alunan musik terdengar cukup baik, tidak pecah.
Daya Tahan Batere
TH1 datang standar dengan kemasan batere Li-Ion DB-L50 3,7V yang berkapasitas 1900mAh. Awalnya kami agak cemas dengan daya tahan batere. Sebab berdasarkan pengalaman menggunakan camcorder Sanyo seri lain, batere cepat sekali terkuras habis dayanya, bahkan tidak mampu bertahan untuk mengisi kartu memori 1GB dengan rekaman video.
Untunglah hal ini tidak terjadi pada TH1. Ketika kami gunakan untuk merekam video maupun foto – bergantian maupun bersamaan – batere tersebut bertahan cukup panjang. Sayang kami tidak sempat menghitung dengan tepat lamanya waktu tersebut. Namun klaim Sanyo yang mengatakan batere mampu bertahan 200 menit saat merekam video, atau 470 foto, bisa jadi tidak terlalu berlebihan.
Agar daya batere tidak cepat terkuras, jangan selalu menyala/matikan camcorder saat sedang tidak dipakai. Manfaatkan saja moda stand-by yang tersedia. Caranya, ketika camcorder tidak lagi akan dipakai untuk merekam, tutup saja layar LCD-nya tanpa menekan tombol Off. Maka camcorder akan masuk ke moda stand-by. Kelak bila perlu merekam, kita tinggal mengembangkan layar LCD dan langsung bisa mulai beraksi tanpa menunggu camcorder melakukan startup. Lumayan untuk menghemat waktu dan juga daya bukan?
Apalagi batere Li-Ion DB-L50 yang ada membutuhkan waktu 4 jam 53 menit untuk pulih ke kondisi 100%. Pengisian ulang daya batere harus dilakukan saat batere terpasang dalam camcorder dengan menggunakan kabel daya dan power adapter yang disertakan. Agak repot memang, karena selama pengisian ulang berlangsung camcorder hanya bisa difungsikan dalam jarak dekat. Ini karena kabel yang disertakan tidak terlalu panjang. Akan jauh lebih menyenangkan apabila Sanyo bersedia menyertakan charger batere eksternal plus batere cadangan sehingga kita dapat tetap beraktivitas dengan TH1 ketika batere diisi ulang bukan?
Kemudahan Transfer
Hasil rekaman video maupun foto tentu menjadi berkurang nilainya jika hanya dapat dinikmati di layar LCD camcorder yang terbatas lebarnya itu. Karena itu kemudahan transfer hasil rekaman juga penting. Untuk keperluan ini Sanyo menyediakan kabel USB.
Begitu kabel USB dikoneksikan ke komputer dan camcorder (camcorder harus dinyalakan), di layar TH1 akan tampil pilihan transfer. Pilihlah Computer dan USB Connection. Pilihan selanjutnya adalah untuk menjadikan camcorder sebagai Card Reader, MTP, Screen Capture, dan PC Camera.
Pilihlah Card Reader, dan TH1 akan berfungsi layaknya sebuah card reader dan membaca isi kartu SD/SDHC yang ada. Kita tinggal menandai file-file mana saja – video dan foto – yang akan dipindahkan ke harddisk komputer yang terhubung. Laju transfer file cukup gegas. Tujuh puluh file foto dan klip video yang sudah kami rekam dan menyita ruang 2,08GB tuntas disalin ke PC Pentium 4 3GHz dalam waktu 3 menit 56,41 detik.
Saat camcorder terkoneksi komputer, kita juga dapat merekam aktivitas di layar komputer ke camcorder. Caranya, pilihlah Screen Capture. Maka apa pun yang ada di layar, seperti foto tampilan berbagai aplikasi yang sedang Anda buka, dll, akan direkam ke camcorder, persis seperti kita menggunakan fasilitas Print Screen dengan keyboard. Untuk Screen Capture ini, aplikasi Xacti Screen Capture 1.1 yang disertakan dalam CD sebaiknya dipasang terlebih dulu. Aplikasi inilah yang akan menyimpan tampilan layar komputer sebagai image dalam kamera.
Pilihan lainnya, PC Camera, berfungsi menjadikan camcorder sebagai Webcam, alias USB video, seperti pada mayoritas notebook dan netbook saat ini.
Selain ditransfer ke komputer, hasil rekaman dapat pula dinikmati di layar TV. Tinggal tancapkan kabel AV yang disertakan ke port AV TV Anda. Akan lebih mantap lagi jika Anda menggunakan TV yang sudah mendukung HD (high definition) sehingga hasil rekaman video dalam format HD terlihat lebih baik. Cuma untuk yang satu ini, Anda harus menyiapkan kabel HDMI sendiri.
Software Video Editing
Dalam CD yang disertakan, selain Xacti Screen Capture 1.1, Sanyo menyertakan software ArcSoft TotalMedia Extreme for Sanyo. Software ini dapat digunakan untuk playback dan juga menyunting klip-klip video.
Jika mau cepat, manfaatkan saja fitur editing in-camera. Tanpa menggunakan bantuan PC, kita dapat secara cepat melakukan penyuntingan kecil-kecilan, seperti membuang bagian klip yang dirasa tidak menarik, atau menggabung-gabungkan klip-klip yang ada.
Hasil suntingan langsung disimpan di kartu memori yang bercokol dalam format MP4, dan bisa dinikmati saat itu juga, langsung dari camcorder. Atau kalau mau, boleh langsung di-upload ke YouTube atau Flickr. Tentu saja untuk ini kita harus mengkoneksikan camcorder ke PC yang memiliki fasilitas Internet (gunakan moda Card Reader). Atau nikmati hasil sunting cepat itu di layar TV.
Sebagai bonus, Sanyo juga membundelkan Adobe Reader 9 dan Panorama Maker 4. Yang disebutkan terakhir mampu ‘menjahit’ beberapa foto menjadi lebih lebar, alias panorama.
Sanyo Xacti VPC-TH1 adalah camcorder HD (high definition) kompak yang sangat bersahabat, mudah dipakai oleh siapa pun, termasuk pemula. Selain untuk merekam adegan bergerak, camcorder ini bisa dijadikan kamera digital. Dipakai sebagai pemutar musik pun tak masalah. Semua hasil rekaman– video, audio, dan foto – akan disimpan dalam kartu SD/SDHC yang harus dibeli sendiri.
Satu-satunya kekurangsukaan kami adalah adanya jeda di saat video sedang direkam ke kartu SDHC. Ketika menggunakan kartu SDHC Video Kingston yang berkapasitas 8GB, kami perlu menunggu 12,34 detik sebelum bisa mulai merekam klip video lagi. Karena itu pastikan kartu SD/SDHC yang Anda pilih juga mendukung kecepatan transfer.
Selain dalam warna silver, Sanyo Xacti VPC-TH1 tersedia dalam pilihan warna casing biru dan merah.
PLUS: HD; mudah dioperasikan; merangkap sebagai kamera digital; bundel software video editing.
MINUS: Fokus kurang tajam bila kurang cahaya; ada jeda saat rekam ke SDHC; kabel HDMI opsional.
SKOR PENILAIAN
(maksimal 5)
-Kinerja : 4
-Fasilitas : 4
-Penggunaan : 4
-Harga : 3,9
SKOR TOTAL : 3,98
SPESIFIKASI Sanyo Xacti VPC-TH1
Pixel efektif: Foto 1,1 megapixel, Video HD 0,97 megapixel, Video SD 1,1 megapixel
Sensor: CMOS 1,6” 1,1 megapixel (total)
Media rekam: Kartu memori SD/SDHC maks. 32GB; memori internal 43MB
Format rekam:
- Foto: JPEG (DCF, DPOF, Exif Ver2.2)
- Video: ISO standard MPEG-4 AVC/H.264 (.MP4)
- Audio: 48kHZ sampling, 16bit, 2ch, AAC
Resolusi:
- Foto: 2MP (1600x1200), 1,1MP (1184x888), 0,9MP [16:9] (1280x720), 0,3MP (640 x480)
- Continuous shots: 2M (1600x1200), 13fps/Maks. 29 foto; 1,1MP (1184x888), 13fps/Maks. 30 foto
- Video: HD-SHQ (1280x720) 30 fps/ 9Mbps; TV-HR (640x480) 60 fps/6Mbps; TV-SHQ (640 x480) 30 fps/3Mbps
Lensa: 30x optical zoom lens; Aperture: F=1.8(W) – 4.3(T)
Fokus: f=2.5 sampai 75.0mm
Kisaran foto standar: 50cm to infinity (wide), 1.0m to infinity (tele)
Super macro: 1cm – 1m (wide)
Zoom digital: Saat rekam maks. 50x., Playback maks. 25x
Sensitivitas low light: 11 lux (Auto mode, 1/30 sec.), 3 lux (High-sensitivity/ Lamp mode, 1/15 sec.)
Sensitivitas foto: Auto (ISO 50 – 200), Manual (ISO 50/100/200/400/800/1600, Switching system)
Image stabilizer: Digital Image Stabilizer (electronic)
Timer: 2 dan 10 detik
Mikropon audio: Built-in stereo, Speaker: Built-in monaural (L+Rch mixed output)
Layar LCD: 3”, TFT color widescreen LCD display, 230.000 pixel (7-level brightness, bisa diputar sampai 285 derajat)
Dukungan bahasa: Inggris, Jepang, Perancis, Jerman, Spanyol, Italia, Belanda, Rusia, Portugis, Turki, Thai, Korea, Simplified Chinese, Traditional Chinese
Interface AV output Video: HDMI/Composite video, NTSC/PAL, USB 2.0
Batere: Lithium-ion DB-L50 3,7V 1900mAH
Klaim daya tahan batere:
- Foto: sekitar 470 bidikan
- Klip video kontinu: sekitar 200 menit
- Putar ulang (playback) kontinu: sekitar 570 menit
Dimensi: 5,33x5,73x1,05 cm
Bobot (dengan batere dan kartu SD/SDHC): 284 gram
Pilihan warna casing: merah, biru, silver
Situs Web: www.sanyo.com
Garansi: 1 tahun
Harga kisaran*: Rp 4 juta
* Minggu pertama Mei 2009.
* Datascrip, (021) 654-4515.
TIP: Memilih Camcorder HD
Memilih camcorder HD (high definition) sebenarnya tidak beda dengan memilih model SD (standard definition). Kita harus sama-sama mencermati spesifikasi lensa, tipe media, dan juga desain badan camcorder.
Selain perhatikan dua hal khas HD di bawah ini.
1. Aspect ratio CCD dan resolusi
Walaupun banyak produsen mengatakan menggunakan sensor aspect 16:9, geometri sensor sebenarnya hanya penting jika resolusi yang ditawarkan rendah. Contoh, frame dari video 1080i memiliki dimensi 1920x1080 pixel. Dan karena sifatnya interlaced, dimensi vertikalnya harus minimal 540 pixel (garis-garis vertikal dipadukan – interlaced – untuk menghasilkan image full 1080 pixel). Jadi Anda harus memilih sensor yang minimal 1,04 megapixel (1920x540).
Namun sensor 1,04 megapixel dengan aspect ratio 4:3 bisa saja memiliki terlalu sedikit pixel-pixel horisontal dan lebih dari cukup pixel vertikal yang menghasilkan total yang sama. Inilah mengapa ada vendor yang menunjukkan bahwa produknya yang menggunakan tiga CCD, masing-masing dengan resolusi video efektif 1,08 megapixel, memiliki aspect ratio 16:9.
Singkatnya, jika resolusi sensor dibagi 1920, jumlahnya minimal akan 540 (untuk 1080i) atau 720 (untuk 720p). Jadi Anda tidak perlu menguatirkan aspect ratio.
2. Output HDMI
Salah satu cara termudah menikmati video HD adalah dengan menghubungkan camcorder ke HDTV dan menekan tombol Play. Namun tanpa HDMI output di camcorder (dan di HDMI input di TV), hasilnya bisa mengecewakan. Jadi perhatikan apakah camcorder HD itu menyediakan port HDMI.
Jika Anda menggunakan koneksi analog atau bahkan FireWire, video HD akan dikonversi menjadi SD (standard definition).
