

JAKARTA, KOMPAS.com — Dulu baterai itu besar dan berat. Namun, kini tebal sebuah baterai bisa saja kurang dari 1 milimeter, lebih enteng dari 1 gram. Satu lagi—dan ini yang menyenangkan—baterai pun dihasilkan secara efektif biaya melalui sebuah proses cetak.
Adalah para peneliti di Fraunhofer Research Institution for Electronic Nano Systems ENAS pimpinan Prof Dr Reinhard Baumann yang mengungkapkan baterai mungil yang bisa dicetak (printable). Prototipe baterai baru ini terbentuk dari paduan zinc anode dan manganese cathode yang dapat di-silk screen printed dan dilapisi dengan non-printed template cover.
Proses silk screen-printing yang digunakan ini serupa dengan yang dipakai untuk mencetak kaus. Sejenis bibir karet menekan pasta cetak melalui sebuah lapisan ke substrat. Bagian-bagian yang tidak akan dicetak ditutupi oleh cover template. Proses ini menyebabkan sejumlah besar pasta cetak bisa diberikan, dan lapisan-lapisan individual menjadi hanya sedikit lebih tebal jika dibandingkan rambut.
Hasilnya adalah baterai-baterai mungil yang bebas-merkuri dengan bobot kurang dari 1 gram dan ketebalan kurang dari 1 milimeter. Setiap baterai bisa menghasilkan tegangan listrik sebesar 1,5 volt. Jika beberapa baterai ditempatkan bersisian, bisa dihasilkan tegangan sampai 6 volt.
Namun, dalam proses kimia saat menghasilkan daya listrik, lapisan anoda dan katoda perlahan-lahan berdisipasi. Akibatnya, daya baterai tidak dapat bertahan lama. Karena usianya yang relatif singkat itu, baterai mungil yang ramah lingkungan ini lebih cocok untuk mendayai produk khusus, seperti kartu ucapan yang bisa berbicara/bernyanyi, atau kartu elektronik bank.
Institut Fraunhofer telah memproduksi baterai-baterai ini di lab, dan berharap bisa memproduksinya secara massal pada akhir tahun ini. “Target kami adalah bisa memproduksi massal baterai ini dengan harga satu digit sen per buahnya,” kata Dr Andreas Willert (Group Manager di ENAS).
