Senin, 21 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
HOMEINTERNETCYBERLIFEGADGETLIFESTYLEE-BUSINESSTELECOMSOFTWAREHARDWARESTARTUPLOKALINDEKS
Bina Storage Engineer, NetApp Target Top 2 Networked Storage
Selasa, 7 Juli 2009 | 17:08 WIB
|
Share:
Wiwiek Juwono
Country Manager NetApp Indonesia, Filipina, dan Vietnam Steven Law.

JAKARTA, KOMPAS.com – Dengar NetApp, pasti yang teringat adalah networked storage. Memang, NetApp besar dan bergelut hanya di bidang yang satu itu.

Saat ini, menurut Steven Law (Country Manager, NetApp Indonesia, Filipina, Vietnam), di tanah air NetApp sudah duduk di peringkat 2 networked storage, di bawah HP. “Kami ingin tetap ada di Top 2,” tegasnya.

Salah satu cara NetApp untuk membesarkan pasarnya adalah membina lebih banyak NetApp certified data storage engineer lokal. “Di Indonesia jumlahnya masih terbatas. Ini setara dengan security engineer. Ujiannya bisa makan waktu bertahun-tahun, karena dia harus bisa data migration, recovery dan restore data,” jelas Steven.

“Harapannya dalam satu tahun ke depan, (NetApp certified storage engineer lokal) bisa tumbuh dari 18 menjadi 25,” tambah Steven sambil menekankan akan pentingnya sertifikasi.

Di Indonesia, NetApp menyasar tiga sektor: energi, telekomunikasi dan jasa keuangan. Salah satu kliennya yang sudah mengimplementasikan virtualisasi di tingkat storage (dan server) adalah Bakrie Telecom.

Saat ini, kata Steven, akan terjadi ledakan pertumbuhan data. Ia mengutipkan data Gartner yang menyebutkan bahwa pada kurun 2007 – 2012 terjadi pertumbuhan installed terabyte sebanyak 6,5x.

“Storage sudah menjadi komponen utama pengeluaran TI, juga sumber utama konsumsi listrik. Walaupun jumlah server-nya tidak bertambah, teteapi konsumsi daya meningkat karena jumlah disk-nya bertambah, “jelas Steven yang menyitir data lembaga riset IDC tahun 2008. “Dulu storage itu nomor 4, tapi sekarang duduk di nomor 2,” tambahnya.

Sayangnya, pertumbuhan biaya storage yang 50% itu tidak diikuti dengan peningkatan anggaran TI. Karena itulah efisiensi storage menjadi penting. Tahapan untuk mengefisienkan itu, jelas Steven, adalah bergeser ke data center generasi berikut, yakni dengan melakukan sentralisasi TI, menstandarkan tawaran, memvirtualisasikan dan mengkonsolidasikan infrastruktur, melakukan otomasi, dan melakukan self-service. “Indonesia baru sampai tahap menstandarkan tawaran,” ungkap Steven. Ia memperkirakan pergeseran ke data center mungkin membutuhkan waktu 2 – 3 tahun.


Pengguna Mig33 Sudah 50 Juta, Bagaimana Caranya?

Mig33 menjadi Facebook-nya...

KOMPAS.com
© 2008 - 2012 KOMPAS.com - All Rights reserved