U19 banner dropdown

Komunikasi Rumah Sakit dan Pasien Belum Efektif

Kompas.com/Dhoni Setiawan

Sekitar 30 pasien rawat jalan yang berasal dari luar Jakarta diusir dari RSCM karena bangunan yang sebelumnya mereka tempati akan segera direnovasi menjadi World Class Hospital.

JAKARTA, KOMPAS.com - Mengantisipasi kesalahpahaman atau konflik dengan pasien, tenaga kesehatan di rumah sakit, seperti perawat dan dokter, harus bisa mempraktikkan komunikasi yang efektif dengan pasien. Paling tidak dokter harus bisa dan bersedia menjelaskan secara runtut dan jelas mengenai rencana tindakan yang akan dilakukan.

Demikian dikemukakan Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan Farid M Husain seusai seminar ”Peran Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) dalam Mengantisipasi Tren Perubahan”, Sabtu (19/12) di Jakarta.

”Perlu didorong peningkatan kualitas sumber daya manusia di rumah sakit agar lebih pintar berkomunikasi. Dunia kerumahsakitan sudah masuk era baru perlindungan dan keselamatan pasien. Kasus Prita Mulyasari dan Omni Internasional terjadi karena tak ada komunikasi yang efektif,” kata Farid.

Keahlian berkomunikasi dengan pasien ini, lanjut Farid, perlu dipelajari dokter dan tenaga lain yang terlibat dalam pelayanan kesehatan sejak di bangku pendidikan bersamaan dengan ilmu kesehatan dan kedokteran yang lain.

Poin penilaian

Ketua Umum Persi Sutoto menambahkan, komunikasi antara pasien dan dokter ini sebenarnya secara tidak langsung menjadi salah satu poin penilaian akreditasi rumah sakit.

Di dalam pedoman program keselamatan pasien Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia yang telah disahkan Menteri Kesehatan itu disebutkan, rumah sakit harus mempunyai dokter penanggung jawab pelayanan. Bukan hanya itu, dokter tersebut juga harus menjelaskan secara rinci kepada pasien tindakan-tindakan yang akan dan telah dilakukan.

Kini penilaian akreditasi yang dilakukan secara berkala tiga tahun sekali, kata Farid, akan makin fokus pada perlakuan rumah sakit terhadap pasien sejak pasien masuk rumah sakit hingga ke sistem rujukannya. Jika pelayanan rumah sakit terhadap pasien tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, rumah sakit itu tak akan lulus akreditasi.

”Sekarang baru sekitar 60 persen rumah sakit yang lulus akreditasi dari jumlah keseluruhan rumah sakit yang ada, sekitar 1.300 rumah sakit,” ujarnya.

Guru besar Kedokteran Forensik dan Studi Medikolegal Universitas Indonesia, Herkutanto, dan anggota Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), Budi Sampurna, mengingatkan agar rumah sakit menerjemahkan dan mempertajam sekaligus membuat pedoman mengenai perilaku insan kerumahsakitan yang baik, termasuk dalam hal ini komunikasi. (LUK)

Editor: jimbon

 

TERBARU
e-Business
Rabu, 24 September 2014 09.05 WIB
Samsung, Pedagang Sembako yang Jadi "Raja Gadget"
Internet
Rabu, 24 September 2014 08.16 WIB
Internet Mati Total, Rugi Rp 90 Miliar Per Jam
Internet
Rabu, 24 September 2014 08.05 WIB
14 Perangkat Apple Hadirkan Video Klip Unik
Internet
Rabu, 24 September 2014 07.39 WIB
Onno Purbo Bersuara Soal Internet Mati Total
e-Business
TERPOPULER
Selasa, 23 September 2014 08.22 WIB
iPhone 6 Dibongkar, Profit Tinggi Apple Terungkap
Senin, 22 September 2014 08.05 WIB
Galaxy A5, Smartphone "Murah" Rasa "Premium"?
Jumat, 19 September 2014 11.23 WIB
Baru Keluar Toko, iPhone 6 Jatuh ke Trotoar
Selasa, 23 September 2014 10.36 WIB
Video 6 Menit Ungkap Kejanggalan Antrean iPhone 6
Jumat, 19 September 2014 14.14 WIB
Pendiri Apple Akhirnya Berhenti Pakai Android
Rabu, 24 September 2014 06.25 WIB
Internet Indonesia Terancam Mati Total
Rabu, 17 September 2014 17.16 WIB
Galaxy Note 4 dan Edge "Mendarat" di Jakarta
Jumat, 19 September 2014 10.02 WIB
Inilah Pemilik iPhone 6 Pertama di Dunia