Petani Kalsel Kesulitan Menoreh Karet

Dibaca:
Komentar :
KOMPAS/HAMZIRWAN

Ilustrasi: Seorang petani karet di Desa Alue Buloh, Kecamatan Birem Bayeun, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, tengah mengumpulkan bahan olahan karet rakyat (bokar) di kebun, Kamis (25/8/2011). Harga bokar yang berkisar Rp 12.500 per kilogram-Rp 13.500 per kg agak turun menjelang Lebaran kali ini.

BANJARMASIN, KOMPAS.com - Memasuki musim hujan, para petani karet di sejumlah di Kalimantan Selatan kembali kesulitan menoreh getah karet. Akibatnya produksi getah menurun hingga 30 persen dari musim kemarau.

Kosim, Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan Kecamatan Batangalai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, yang dihubungi dari Banjarmasin, Kamis (10/11/2011), menuturkan, hujan membuat aktivitas menyadap sulit dilakukan. Air hujan tidak saja membasahi pohon, tetapi juga alur sadapan. Air hujan masuk ke cawan tempat menampung getah.

"Akibatnya, getah bercampur air dan mengurangi kualitas karet. Getah juga sulit membeku, karena bercampur air," ujarnya.

Menurut Kosim, petani setempat biasanya mampu menoreh 180-200 kilogram getah per hektar setiap bulannya pada musim kemarau . Pada musim hujan seperti ini hanya sekitar 100 kilogram.

Masalah sulitnya menyadap muncul, sejak sekitar dua bulan terakhir dan sejak November curah hujan di Batangalai Timur kian besar. Hampir setiap hari hujan turun meski hanya sebentar.

"Saat puncak musim hujan nanti, hampir semua petani dipastikan tidak bisa beraktivitas karena hujan turun sepanjang hari," ucap Kosim.

Ironisnya, lanjut pria yang baru mendapat anugerah sebagai penyuluh swadaya kehutanan terbaik se-Kalsel 2011 itu, berkurangnya produksi karet tidak mempengaruhi harga jual di tingkat petani. Saat ini harga satu kilogram karet hanya Rp 13.000-Rp 14.000, sama seperti ketika masih musim kemarau.

"Untuk menjual hasil panen tidak ada kesulitan, karena barangnya sedikit. Berapapun jumlahnya, tetap dibeli oleh pedagang yang datang ke kampung. Soal harga memang mereka yang menentukan, petani tidak bisa berbuat banyak," kata Kosim.

Madroji, Ketua Kelompok Tani Alam Subur Desa Mangkauk, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar, menambahkan, selain aktivitas penyadapan, masalah lain yang muncul ketika musim hujan adalah jamur. Parasit ini menyerang bagian daun lalu merembet ke ujung batang. Tanaman karet yang biasa terkena adalah yang masih muda.

"Untuk mengatasi bisa diobati dengan fungisida, dengan cara disemprotkan. Dalam sepekan biasanya akan menghilang. Namun, akhir-akhir ini ada juga yang susah dihilangkan," ujarnya.

Menurut Madroji, pengobatan paling tepat dilakukan saat musim kemarau. C urah hujan dan kelembaban yang tinggi selama musim hujan membuat jamur mudah tumbuh. Jamur berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman.

 

 

 

 

 

 

Editor: Agus Mulyadi

 

TERBARU
e-Business
Internet
e-Business
Gadget
Sabtu, 19 April 2014 08.43 WIB
Ini Dia Tablet Nokia Buatan Tahun 2001
Gadget
Jumat, 18 April 2014 19.06 WIB
Tips Membersihkan File Sampah di Android
TERPOPULER
Rabu, 16 April 2014 17.13 WIB
Galaxy S5 Dibongkar, Profit Samsung Terungkap
Senin, 14 April 2014 16.27 WIB
Android Lenovo 8-Core Cuma Rp 1,5 Juta?
Senin, 14 April 2014 11.33 WIB
Begini Cara Samsung "Menyiksa" Galaxy S5
Rabu, 16 April 2014 11.27 WIB
Apple Kembali Buka Lowongan di Jakarta
Rabu, 16 April 2014 10.49 WIB
Beredar, Bocoran Tampilan Android 4.5 Lollipop
Kamis, 17 April 2014 08.10 WIB
Dijual Rp 17 Juta, Google Glass Ludes