Agate Studio, Pengembang Game Dengan Modal Awal "Passion"

Dibaca:
Komentar :
Agate Studio

Kru Agate Studio, September 2011

KOMPAS.com - Indahnya masa kanak-kanak dengan dikelilingi beragam permainan baik tradisional maupun digital, membuat para pendiri Agate Studio pernah bermimpi ingin membuat game sendiri.

Mereka sama-sama kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang saat itu mayoritas sedang menjalani kuliah tingkat tiga. Sebanyak 16 orang berkumpul, berbagi dahsyatnya pengalaman bermain game di masa kecil dan ingin membuat hal serupa yang lebih dahsyat, minimal, untuk diri mereka sendiri.

"Saya merasakan sendiri, masa-masa bermain Final Fantasy dengan levelnya, dengan musiknya, rasanya bahagia dan bangga banget kalau bisa main dan menang. Saat itu saya gak bisa membayangkan kalau saya yang membuat sendiri game yang saya mainkan," kenang Andhika H. Estrada, co-founder, Chief Development Officer saat ditemui Kompas.com di kantor Agate Studio di kawasan Setiabudi Bandung, Sabtu (10/12/2011).

Berkat pengalaman bermain game yang kurang lebih sama dan keinginan membuat game yang sama kuatnya, sebanyak 16 orang mahasiswa tersebut sepakat untuk sering bertemu dan mereka memulai membangun game di laboratorium, tetapi saat itu tak ada satu pun game yang berhasil dihasilkan.

Proyek pertama yang akhrinya mereka kerjakan dimulai tahun 2008 bernama "Ponporon" untuk konsol game Xbox 360 yang dibuat dalam waktu satu bulan. Namun, tak ada penghasilan dari game itu. Meski demikian pada April 2009, mereka memutuskan untuk mendirikan sebuah perusahaan, dengan nama Agate Studio.

"Agate disepakati begitu saja tanpa ada filosofi. Kami suka kata yang berawalan A agar selalu berada di awal. Lalu mengapa studio? Karena Studio adalah tempat untuk kami mengkreasikan game, tempat untuk bermain bersama, bukan tempat yang semata untuk bekerja," ungkap Andrew P. Budianto, Guild Master Agate Studio.

Gaji Pertama Rp 50 ribu per bulan
Agate Studio kemudian memulai membuat game dengan tiga game untuk XBox, yang kali ini lebih serius. Semua yang tergabung di Agate Studio mengumpulkan modal untuk kelangsungan hidup perusahaan baru mereka.

Modal itu dikembalikan lagi dalam bentuk gaji yang mereka bagi rata, Rp 50 ribu per bulan. "Dari situlah passion bekerja. Dengan gaji segitu kami bertahan selama enam bulan pertama, tanpa pemasukan," jelas Estrada.

Kini, Estrada mengaku gaji karyawan sudah jauh di atas UMR Jakarta (Rp 1.290.000) dan jumlah karyawan yang semula hanya 16 orang sudah bertambah menjadi 60 orang dalam waktu hampir dua tahun.

Terbalik, Dari Pasar Global baru kemudian Pasar Lokal
Menyadari pasar Indonesia yang belum memadai untuk menjual game, Agate Studio memutuskan untuk menjual game mereka ke pasar global terlebih dahulu sejak tahun 2009.

Mereka memasukkan game-game mereka ke beberapa portal game dan mulai mendapatkan penghasilan dari sana. Setelah dirangkul Nokia Developer, Agate Studio mulai menjual karya mereka di pasar lokal.

Memenangkan Beragam Penghargaan
Kini Agate Studio telah menghasilkan 100 lebih game dalam waktu hampir dua tahun berdiri. Dengan kapasitas ruangan dan fasilitas yang semakin lengkap, serta jumlah kru yang bertambah, membuat Agate Studio bisa membuat 20 game di waktu yang bersamaan.

Selain itu, mereka sudah mendapatkan beragam penghargaan diantaranya :

  • Kaskus Favorit Winner of Inaicta 2009
  • Most Growth Company Action Coach 2010
  • People's Choice Mochi Award - Flash Gaming Summit 2010, San Francisco
  • Winner Indigo Fellowship 2010
  • First Winner Teknopreneur Award 2010
  • Two Awards in iMulai Microsoft 2011
  • Champion of CIMN clicks of the year 2011
  • Winner Bubu Awards web game - Football Saga, Jakarta 2011

Editor: Reza Wahyudi

 

TERBARU
Internet
Minggu, 21 September 2014 13.13 WIB
Media Sosial, Ambil yang Perlu dan Penting Saja
Software
Minggu, 21 September 2014 11.11 WIB
Trend Micro Jaga "Gamer" di Android
e-Business
Minggu, 21 September 2014 10.10 WIB
Alasan Intel Seriusi "Internet of Things"
Gadget
Sabtu, 20 September 2014 16.16 WIB
Pose Terpopuler Saat ”Selfie”
Gadget
Sabtu, 20 September 2014 13.22 WIB
SmartEyeglass, Kacamata Pintar Besutan Sony
TERPOPULER
Jumat, 19 September 2014 11.23 WIB
Baru Keluar Toko, iPhone 6 Jatuh ke Trotoar
Jumat, 19 September 2014 14.14 WIB
Pendiri Apple Akhirnya Berhenti Pakai Android
Rabu, 17 September 2014 17.16 WIB
Galaxy Note 4 dan Edge "Mendarat" di Jakarta
Senin, 15 September 2014 15.38 WIB
Begini Cara Intel "Buang" Kabel dari Monitor
Kamis, 18 September 2014 17.07 WIB
"Jual Cepat" Redmi 1S Dikeluhkan Lelet, Ini Kata Lazada
Selasa, 16 September 2014 07.32 WIB
Android One Meluncur di India, Indonesia Berikutnya
Senin, 15 September 2014 09.17 WIB
Samsung: iPhone 6 Plus "Terinspirasi" Galaxy Note