Biaya Produksi Petani Padi Melonjak 50 Persen


CILACAP, KOMPAS.com — Datangnya musim hujan seiring awal masa tanam menyebabkan biaya produksi petani melonjak hingga 50 persen. Mereka kian terjepit di tengah kenaikan harga pupuk dan ancaman puso akibat anomali iklim.

Kasiman (54), petani Desa Menganti, Kecamatan Kesugihan, Cilacap, Senin (16/1/2012), mengaku biasanya membutuhkan pupuk urea sebanyak enam kuintal untuk keperluan tanaman padi seluas satu hektar. Artinya, mereka harus mengeluarkan biaya pembelian pupuk sekitar Rp 2,4 juta atau naik dibandingkan dengan sebelumnya yang Rp 1,7 juta.

Selain dihadapkan pada biaya pemupukan, para petani juga harus menghadapi persoalan biaya upah pekerja yang semula Rp 35.000 per hari menjadi Rp 40.000 per hari. "Belum lagi ancaman gagal panen akibat anomali iklim," keluhnya.

Abdul Turmudji (41), petani Desa Sidobunder, Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen, mengatakan, datangnya musim hujan saat awal masa tanam menyebabkan beban petani membengkak. Bahkan, biaya produksi naik 50 persen karena tanaman padi rusak akibat serangan hama dan angin kencang. Mutu gabah pun ikut turun dari sisi kadar air ataupun kadar hampa.

Dia menuturkan, biaya produksi saat musim hujan naik dari semula hanya Rp 6 juta sekarang bisa Rp 8 juta-Rp 9 juta per hektar. Sebagian besar untuk membeli obat pencegah hama tikus dan wereng yang meningkat. "Selama 100 hari masa tanam, minimal harus empat kali pengobatan. Setiap kali pengobatan butuh Rp 250.000," ujarnya.

Menurut Turmudji, musim hujan seperti sekarang memicu penurunan mutu produksi padi karena terpaan angin kencang dan hujan deras. Petani tidak bisa untung karena harga jual gabah hanya menutup 75 persen biaya produksi.

Menurut Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kebumen Dharmawan, kondisi tersebut seharusnya menjadi acuan pemerintah agar tahun ini segera menetapkan HPP yang baru. HPP gabah kering panen sesuai Inpres Nomor 7 Tahun 2009 sebesar Rp 2.640 dan Rp 2.685 per kilogram seharusnya naik menjadi Rp 3.100 dan Rp 3.155 di tingkat petani dan gudang.

Sementara HPP untuk gabah kering giling (GKG) harus naik dari Rp 3.300 dan Rp 3.345 menjadi Rp 3.880 dan Rp 3.930 per kilogram. Adapun HPP beras sudah waktunya naik dari Rp 5.060 menjadi Rp 6.075 per kilogram.

 

TERBARU
e-Business
Rabu, 27 Agustus 2014 17.50 WIB
Ini Rekanan Impor Xiaomi di Indonesia
Software
Rabu, 27 Agustus 2014 16.36 WIB
Instagram Hadirkan Aplikasi Hyperlapse
Gadget
Gadget
Rabu, 27 Agustus 2014 14.55 WIB
Xperia T3 Resmi Masuk Indonesia
Internet
Rabu, 27 Agustus 2014 14.40 WIB
Berapa Harga Android Pertama Xiaomi di Indonesia?
TERPOPULER
Kamis, 21 Agustus 2014 08.13 WIB
Google Street View Sudah Hadir di Jakarta
Minggu, 24 Agustus 2014 10.10 WIB
Ditantang, Bos Cantik Yahoo Pun Basah-basahan
Kamis, 21 Agustus 2014 19.44 WIB
Apakah Anda Tertangkap Kamera Google di Indonesia?
Minggu, 24 Agustus 2014 15.43 WIB
"Mimin" Kaskus Tantang Luna Maya dan Syahrini Mandi Es
Kamis, 21 Agustus 2014 13.47 WIB
Begini Cara Akses Google Street View Indonesia
Sabtu, 23 Agustus 2014 16.06 WIB
Bocor, Lekukan iPhone 6 Makin Jelas Terlihat
Senin, 25 Agustus 2014 14.23 WIB
Operator Tiongkok Tak Sengaja "Sebar" iPhone 6
Jumat, 22 Agustus 2014 16.25 WIB
Lenovo S850 "Warna Cantik" Dijual Rp 2,9 Juta
Senin, 25 Agustus 2014 13.09 WIB
Pendiri WhatsApp Umumkan "600 Juta" Sambil Mencibir