Kamis, 23 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
HOMEINTERNETCYBERLIFEGADGETLIFESTYLEE-BUSINESSTELECOMSOFTWAREHARDWARESTARTUPLOKALINDEKS
Rencana Sensor Konten di Twitter Bikin Marah
Aditya Panji | Wicaksono Surya Hidayat | Senin, 30 Januari 2012 | 12:52 WIB
|
Share:
daily mail
Changes: Twitters role as the modern bastion of free speech is now at risk as the fledgling firm moves forward with an aggressive expansion strategy

KOMPAS.com — Kabar bahwa Twitter akan melakukan penyensoran konten di negara-negara tertentu membuat marah para aktivis dan demonstran ini. Twitter selama ini digunakan kelompok aktivis dan demonstran di seluruh dunia untuk menyampaikan pesan dan gagasan mereka.

Para aktivis pun memprotes rencana Twitter tersebut. Mereka meminta agar Twitter tidak melakukan hal itu.

"Ini adalah kabar yang sangat buruk," tulis aktivis Mesir bernama Mahmoud Salem. Selanjutnya, ia menulis, "Apakah Twitter akan mengkhianati kami?"

Protes juga datang dari China. Meskipun Twitter telah diblokir di China, tetapi masih banyak aktivis yang menggunakan microblogging 140 karakter ini. Aktivis China Ai Weiwei menulis, "Jika Twitter melakukan sensor, saya akan berhenti menggunakan Twitter."

Organisasi hak asasi manusia di Amerika Serikat, Reporters Without Borders, mengirim surat kepada Twitter dan menyatakan keprihatinan yang mendalam. Twitter selama ini dianggap mendukung kebebasan berekspresi, tetapi langkah Twitter kali ini dianggap membatasi kebebasan berekspresi.

Menurut pihak Twitter, hal ini dilakukan untuk menjaga ketertiban dan stabilitas hukum di suatu negara. Sistem sensor baru Twitter kali ini akan menghapus konten dalam skala lokal, bukan global.

Misalnya, konten pro-Nazi tidak akan muncul di Jerman dan Perancis karena kedua negara ini melarang konten tersebut atas alasan sejarah dan budaya. Namun, konten pro-Nazi tetap akan muncul di negara lain yang tidak melarangnya.

Nantinya, pihak Twitter akan mengirim pemberitahuan setiap kali kicauan (tweet) penggunanya disensor.

Jika Twitter melakukan sensor, saya akan berhenti menggunakan Twitter.
-- Ai Weiwei, aktivis China


Ketika Calon Dokter Jadi Pengusaha Start-up Digital

Di balik aplikasi SpotDokter...

KOMPAS.com
© 2008 - 2012 KOMPAS.com - All Rights reserved