Pangkal Pinang, Kaya Sejarah, Sepi Turis

PANGKAL PINANG, KOMPAS.com - Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terkenal dengan kecantikan pantai-pantainya. Apalagi sejak ketenaran novel dan film Laskar Pelangi dengan latar belakang Belitung. Wisatawan yang datang ke provinsi ini pun semakin meningkat.

Namun, Bangka tak hanya memiliki pantai. Bangka kaya akan sejarah, terutama Kota Pangkal Pinang yang sudah berkembang sejak tahun 1757 saat Kesultanan Palembang membangun kota ini.

"Tambang timah di Pangkal Pinang sudah sejak masa itu. Lalu VOC mengembangkan pertambangan timah, kemudian Inggris. Tahun 1914, peralihan dari pemerintahan Inggris ke Belanda," tutur Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Kota Pangkal Pinang Akhmad Elvian kepada Kompas.com di Pangkal Pinang, Jumat (4/5/2012).

Oleh karena itu, menurut Elvian, wisata sejarah menjadi salah satu fokus pengembangan pariwisata di Pangkal Pinang. Sebab, lanjutnya, terdapat 21 bangunan dan situs tua bersejarah di Pangkal Pinang.

"Ada gereja tua depan alun-alun yang menjadi titik nol. Lalu rumah residen pejabat Belanda dan Tamansari Wilhelmina di sebelahnya. Ini baru di sekitar alun-alun," jelasnya.

Sayangnya, potensi wisata sejarah ini belum tenar di kalangan wisatawan. Sebagai perbandingan, Elvian mengungkapkan data tahun lalu, lebih dari 700 wisatawan mancanegara yang datang ke Pangkal Pinang.

Angka ini relatif sedikit, mengingat orang Belanda senang melakukan "napak tilas" dan wisata sejarah di Indonesia. Apalagi, terdapat dua kerkhof (kuburan Belanda) di Pangkal Pinang. Pihak Disbudparpora Pangkal Pinang bahkan memiliki daftar lengkap nisan-nisan yang ada di kuburan tersebut, sehingga cocok untuk wisata ziarah bagi orang Belanda.

"Memang masih sedikit, karena kami baru mulai mempromosikan ini. Baru-baru ini kami kedatangan 15 travel agent dari Belanda untuk fam trip. Rencananya kami akan ikut Disbudpar provinsi untuk promosi ke Belanda," jelasnya.

Para biro perjalanan wisata dari Belanda yang diundang pemerintah daerah setempat sempat melakukan ziarah ke kuburan Belanda. Selain itu, kedatangan mereka juga dalam rangka membuat paket wisata sejarah di Pangkal Pinang.

Menurut pengamatan Kompas.com, kondisi kerkhof di Jalan Sekolah tidak terawat. Banyak batu-batu nisan tak bernama dan berlumut. Selain kawasan alun-alun merdeka yang sarat dengan situs bersejarah, wisata sejarah lainnya bisa di Museum Timah dan rumah-rumah peninggalan Belanda di Jalan Sanggul Dewa, Tamansari.

Editor: I Made Asdhiana

 

TERBARU
Gadget
Internet
Sabtu, 5 September 2015 16.17 WIB
Cara agar Posting Foto di Facebook Tidak "Pecah"
Software
Sabtu, 5 September 2015 13.15 WIB
26 Model Ponsel Android Menyimpan Virus Posesif
Software
Sabtu, 5 September 2015 10.17 WIB
Chrome Tak Lagi Kuras Baterai Laptop, Caranya?
Gadget
Sabtu, 5 September 2015 08.29 WIB
Alcatel Onetouch Watch Sudah Dijual di Indonesia
TERPOPULER
Kamis, 3 September 2015 10.31 WIB
Terlalu Seksi, Model Cantik Ini "Diblokir" Snapchat
Senin, 31 Agustus 2015 19.58 WIB
Programer Direkrut Google Hanya gara-gara "Googling"
Kamis, 3 September 2015 09.54 WIB
Predator 6, Smartphone Gaming dari Acer
Rabu, 2 September 2015 10.46 WIB
Apa Alasan Google Ubah Logo?
Senin, 31 Agustus 2015 10.48 WIB
Ini Bocoran Harga Duo iPhone 6S
Selasa, 1 September 2015 11.54 WIB
Foxconn Batal Bangun Pabrik Ponsel di Indonesia
Rabu, 2 September 2015 08.43 WIB
Google Punya Logo Baru
Rabu, 2 September 2015 09.20 WIB
Evolusi Logo Google dari Masa ke Masa
Selasa, 1 September 2015 09.55 WIB
Daftar Lengkap "Jalan Pintas" untuk Windows 10