U19 banner dropdown

Tas Rajut Lokal Tembus Ekspor

Dibaca:
Komentar :
KOMPAS/DAHLIA IRAWATI

Astuti menyelesaikan tas rajut merek Kaboki di Pabrik Kaboki di Pasuruan, Selasa (8/5). Tas rajut buatan dalam negeri dari PT Velesia ini menembus pasar ekspor sejak tahun 1980-an.

Pasuruan, Kompas - Tas rajut buatan lokal rupanya telah menembus pasar luar negeri sejak puluhan tahun lalu. Pasar tas rajut yang murni buatan tangan tersebut dipasarkan di Benua Eropa, Amerika, dan sejumlah negara di Asia. Keunggulan tas ini, kuat, tak berbulu, dan warna tahan lama.

”Pasar tas rajut buatan kami ini cukup besar. Dalam sekali kirim (tiga bulan) bisa 10.000 tas terjual untuk pasar luar negeri. Adapun pasar lokal penjualan kami bisa 1.000 tas sebulan,” tutur Iva Darojatun, Manajer Keuangan PT Velesia, perusahaan tas rajut di Sukorejo, Pasuruan, Jawa Timur, Selasa (8/5).

Pasar tas rajut murni buatan tangan ini antara lain ke Jepang, Amerika Serikat, Kanada, serta negara-negara Arab dan Eropa. Tas rajut kualitas ekspor dipasarkan dengan merek The Sak, sedangkan pasar domestik diberi label Kaboki.

Harga tas kualitas ekspor berkisar Rp 800.000-Rp 2 juta per tas. Untuk pasar domestik Rp 80.000-Rp 300.000 per tas. Meliputi tas tangan, selempang, atau tas punggung.

Tas rajut ini terbuat dari benang polipropilena atau benang bijih plastik. Keunggulannya kuat, tidak berbulu, dan warna tahan lama tidak gampang pudar.

”Kami mengekspor tas sejak tahun 1980-an. Dua tahun ini kami fokus menggarap pasar lokal. Kami ingin tas rajut buatan dalam negeri juga dicintai di dalam negeri sendiri,” tutur Iva.

Selama ini, Iva melihat pasar dalam negeri banyak dibanjiri produk luar yang kualitasnya kadang tak begitu bagus. ”Padahal, kualitas tas rajut buatan tangan-tangan perajin dalam negeri terbukti laris di pasar luar negeri. Artinya, sangat sayang kalau produk berkualitas bagus ini justru tidak bisa dinikmati oleh konsumen dalam negeri,” katanya.

Marini Sjamsu, Manajer Personalia PT Velesia, mengatakan, tas rajut itu dibuat oleh sekitar 3.000 perajin dari sejumlah daerah di Jawa Timur, seperti Banyuwangi, Jember, Malang, serta sejumlah wilayah di Jawa Barat dan Bali.

”Perajin kami hampir sebagian besar merupakan perempuan yang tinggal di pedesaan. Mereka kami beri benang dan gambar produk, lalu dikerjakan. Hasil dari mereka akan kami proses lagi untuk kemudian menjadi satu produk jadi yang siap dipasarkan,” kata Marini.

Berbeda dengan produk lain, tas rajut ini diakui belum banyak pesaing utamanya dari produk asing. ”Tidak seperti produk lain yang harus bersaing dengan produk asing, tas rajut ini tidak ada saingan dari luar negeri. Produk buatan tangan tas rajut Indonesia disukai karena menonjolkan seni dan kualitas rajutan,” kata Marini.

Untuk menguatkan kecintaan dan pemasaran tas rajut di pasar lokal, pabrik yang hampir seluruh karyawannya adalah perempuan (dan berasal dari warga sekitar Pasuruan) itu juga membuka tur perusahaan. ”Rajutan adalah seni khas dalam negeri. Makanya, kami ingin mengajak orang mencintai tas rajut dalam negeri. Itu sebabnya, perusahaan terbuka bagi siapa saja yang ingin melihat proses pembuatan tas rajut kami,” kata Iva. (DIA)

Editor:

 

TERBARU
Gadget
Kamis, 23 Oktober 2014 10.32 WIB
November, Samsung Gear S Masuk Indonesia
Hardware
Kamis, 23 Oktober 2014 10.17 WIB
Dibongkar, Ada Sony di Galaxy Note 4
Gadget
Kamis, 23 Oktober 2014 10.06 WIB
Diam-diam, Samsung Keluarkan Galaxy S5 Plus
e-Business
Rabu, 22 Oktober 2014 17.37 WIB
Menkominfo Baru Diumumkan Malam Ini?
Gadget
TERPOPULER
Kamis, 16 Oktober 2014 12.58 WIB
Wajah Jokowi di Majalah "Time" Bikin Heboh Medsos
Senin, 20 Oktober 2014 17.10 WIB
Diprotes, Bolt Ubah Paket Langganan Internet
Jumat, 17 Oktober 2014 06.06 WIB
Apple Rilis Tablet Super Tipis, iPad Air 2
Rabu, 22 Oktober 2014 10.21 WIB
Kiprah "Smartphone" Nokia Resmi Berakhir
Senin, 20 Oktober 2014 13.26 WIB
"Netizen" Sambut Presiden Jokowi dengan Aneka Kartun
Senin, 20 Oktober 2014 11.02 WIB
Becak Terguling, iPhone 6 Terbakar
Jumat, 17 Oktober 2014 20.48 WIB
iPad Baru Datang, iPad Lama Turun Harga
Selasa, 21 Oktober 2014 12.11 WIB
Galaxy S6 Diharapkan Jadi Penyelamat Samsung