Tas Rajut Lokal Tembus Ekspor

Pasuruan, Kompas - Tas rajut buatan lokal rupanya telah menembus pasar luar negeri sejak puluhan tahun lalu. Pasar tas rajut yang murni buatan tangan tersebut dipasarkan di Benua Eropa, Amerika, dan sejumlah negara di Asia. Keunggulan tas ini, kuat, tak berbulu, dan warna tahan lama.

”Pasar tas rajut buatan kami ini cukup besar. Dalam sekali kirim (tiga bulan) bisa 10.000 tas terjual untuk pasar luar negeri. Adapun pasar lokal penjualan kami bisa 1.000 tas sebulan,” tutur Iva Darojatun, Manajer Keuangan PT Velesia, perusahaan tas rajut di Sukorejo, Pasuruan, Jawa Timur, Selasa (8/5).

Pasar tas rajut murni buatan tangan ini antara lain ke Jepang, Amerika Serikat, Kanada, serta negara-negara Arab dan Eropa. Tas rajut kualitas ekspor dipasarkan dengan merek The Sak, sedangkan pasar domestik diberi label Kaboki.

Harga tas kualitas ekspor berkisar Rp 800.000-Rp 2 juta per tas. Untuk pasar domestik Rp 80.000-Rp 300.000 per tas. Meliputi tas tangan, selempang, atau tas punggung.

Tas rajut ini terbuat dari benang polipropilena atau benang bijih plastik. Keunggulannya kuat, tidak berbulu, dan warna tahan lama tidak gampang pudar.

”Kami mengekspor tas sejak tahun 1980-an. Dua tahun ini kami fokus menggarap pasar lokal. Kami ingin tas rajut buatan dalam negeri juga dicintai di dalam negeri sendiri,” tutur Iva.

Selama ini, Iva melihat pasar dalam negeri banyak dibanjiri produk luar yang kualitasnya kadang tak begitu bagus. ”Padahal, kualitas tas rajut buatan tangan-tangan perajin dalam negeri terbukti laris di pasar luar negeri. Artinya, sangat sayang kalau produk berkualitas bagus ini justru tidak bisa dinikmati oleh konsumen dalam negeri,” katanya.

Marini Sjamsu, Manajer Personalia PT Velesia, mengatakan, tas rajut itu dibuat oleh sekitar 3.000 perajin dari sejumlah daerah di Jawa Timur, seperti Banyuwangi, Jember, Malang, serta sejumlah wilayah di Jawa Barat dan Bali.

”Perajin kami hampir sebagian besar merupakan perempuan yang tinggal di pedesaan. Mereka kami beri benang dan gambar produk, lalu dikerjakan. Hasil dari mereka akan kami proses lagi untuk kemudian menjadi satu produk jadi yang siap dipasarkan,” kata Marini.

Berbeda dengan produk lain, tas rajut ini diakui belum banyak pesaing utamanya dari produk asing. ”Tidak seperti produk lain yang harus bersaing dengan produk asing, tas rajut ini tidak ada saingan dari luar negeri. Produk buatan tangan tas rajut Indonesia disukai karena menonjolkan seni dan kualitas rajutan,” kata Marini.

Untuk menguatkan kecintaan dan pemasaran tas rajut di pasar lokal, pabrik yang hampir seluruh karyawannya adalah perempuan (dan berasal dari warga sekitar Pasuruan) itu juga membuka tur perusahaan. ”Rajutan adalah seni khas dalam negeri. Makanya, kami ingin mengajak orang mencintai tas rajut dalam negeri. Itu sebabnya, perusahaan terbuka bagi siapa saja yang ingin melihat proses pembuatan tas rajut kami,” kata Iva. (DIA)

Editor:

 

TERBARU
e-Business
Kamis, 2 April 2015 16.31 WIB
Begini Cara Sony Pertahankan Bisnis Xperia
e-Business
Kamis, 2 April 2015 16.17 WIB
Toko Online "Tees.co.id" Mendapat Suntikan Dana
Gadget
Kamis, 2 April 2015 15.27 WIB
Membandingkan Xiaomi Redmi 2 dan Redmi 1S
Hardware
Kamis, 2 April 2015 15.02 WIB
MediaTek Siap Pasok Smartphone Mahal
e-Business
Kamis, 2 April 2015 14.34 WIB
Sony Janji Xperia 4G Pakai Komponen Lokal
TERPOPULER
Selasa, 31 Maret 2015 11.37 WIB
Resmi, WhatsApp Android Sudah Bisa Telepon Gratis
Rabu, 1 April 2015 13.47 WIB
Resmi, Ini Harga Xiaomi Redmi 2 di Indonesia
Selasa, 31 Maret 2015 15.37 WIB
Berapa Harga Zenfone 2 Versi RAM 4 GB di Indonesia?
Selasa, 31 Maret 2015 16.58 WIB
Asus Zenfone 2 Ternyata Dirakit di Batam
Minggu, 29 Maret 2015 16.12 WIB
13 Tragedi Kecelakaan Pesawat yang Disengaja
Sabtu, 28 Maret 2015 09.08 WIB
Pilot Germanwings Dobrak Pintu dengan Kapak?
Sabtu, 28 Maret 2015 15.08 WIB
Apa Syarat Menjajal WhatsApp Call?