Senin, 20 Mei 2013
Selamat Datang   |    Register   |  

Symantec: 'Jailbreak' dan 'Rooting' bikin Ponsel Rentan Virus

Dibaca:
Komentar :
Jamdesign - Shutterstock

Jamdesign - Shutterstock
JAKARTA, KOMPAS.com - Pertumbuhan perangkat mobile yang pesar belakangan ini turut meningkatkan jumlah program berbahaya yang mengincar pengguna smartphone.

Dari sekian banyak jumlah pemakai smartphone, mereka yang telah melakukan jailbreak atau rooting pada ponsel ternyata lebih rentan terkena serangan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Symantec dalam acara Symantec Update di Jakarta, hari Selasa (7/8/2012).

Selain dari faktor sumber aplikasi yang diperoleh bukan dari sumber resmi, ada elemen teknis yang membuat ponsel jailbreak atau rooting lebih rentan terhadap malware.

“Beberapa program jahat membutuhkan akses fungsi tertentu untuk melakukan aksinya, yang hanya dimungkinkan apabila smartphone sudah di-root atau jailbreak,” ujar Technical Consultant Symantec Indonesia Fransiskus Andi Indromojo dalam acara.

Dia melanjutkan, beberapa malware bahkan hanya dapat berjalan di perangkat yang sudah di-jailbreak atau root.

Bulan April lalu, Symantec merilis Security Threat Report Volume 17 yang antara lain melaporkan bahwa jumlah ancaman terhadap platform mobile meningkat sebesar 93 persen pada 2011 dibandingkan 2010, sementara jumlah kumulatif keluarga malware yang tercatat pada 2011 mencapai 67 buah.  

Celah keamanan baru pada platform mobile di 2011 berjumlah 315, naik dibandingkan 2010 yang mencatat sebanyak 163.

Banyak dari ancaman mobile ini datang dalam bentuk program yang disusupi malware. Karena itu, Symantec mengingatkan agar pengguna tak sembarangan men-download dan menjalankan aplikasi dari smartphone.

“Tampilan programnya bisa saja meyakinkan dan aplikasinya sendiri benar-benar berfungsi. Tetapi bisa jadi diam-diam program tersebut mengirim sms premium ke luar negeri,” ujar Fransiskus.

Jenis ancaman yang melakukan hal ini pada ponsel korban mencapai 24 persen dari total malware. Lainnya melakukan pencurian data (28 persen), memata-matai pengguna (25 persen), dan menyusupkan tojan atau downloader (16 persen).  

Untuk kalangan korporat yang banyak menerapkan cloud computing agar karyawan dapat bekerja melalui perangkat mobile, resiko keamanan yang dihadapi dari malware berupa kebocoran atau pencurian data rahasia.

Ditinjau darii jenis platform, meski platform open source lebih memudahkan pembuat malware untuk membuat program jahat dan mendistribusikannya, Fransiskus mengatakan tak ada kecenderungan platform mobil tertentu lebih rentan menjadi korban.

“Sama saja baik open maupun closed source, karena tak ada data tentang berapa banyak device yang sudah di-jailbreak.”

Editor: Reza Wahyudi

 

TERBARU
e-Business
Internet
Senin, 20 Mei 2013 11.47 WIB
Tamasya di Taman Bermain Google - 2
Gadget
Software
Senin, 20 Mei 2013 10.32 WIB
Game Horor Bandung Sukses Galang Rp 250 Juta
Gadget
Senin, 20 Mei 2013 09.58 WIB
"Iron Man" Bisa Isi Baterai Gadget
TERPOPULER
Sabtu, 18 Mei 2013 17.46 WIB
YouTube Bakal Bebas "Buffering"
Minggu, 19 Mei 2013 15.13 WIB
iPhone 5 Meledak di Bangkok
Minggu, 19 Mei 2013 14.18 WIB
Penyesalan Intel Menolak Tawaran Apple
Jumat, 17 Mei 2013 17.19 WIB
Microsoft Ejek Google di Parodi Iklan Chrome
Jumat, 17 Mei 2013 16.00 WIB
Sitra Wimax Hentikan Layanan Internet
Sabtu, 18 Mei 2013 11.28 WIB
Bill Gates Rebut Gelar Orang Terkaya di Dunia
Jumat, 17 Mei 2013 13.21 WIB
Terobosan Google untuk Mengubah Dunia
Sabtu, 18 Mei 2013 13.27 WIB
Seperti iPhone, iPad Juga Bisa BBM-an?