Parodi "Mana Palunya" Ceu Popong Beredar di YouTube - Kompas.com

Parodi "Mana Palunya" Ceu Popong Beredar di YouTube

Reska K. Nistanto
Kompas.com - 10/10/2014, 14:48 WIB
TRIBUN / DANY PERMANA
Pimpinan sementara DPR RI Popong Otje Djunjunan (kiri) bersama Ade Rizky Pratama memimpin sidang paripurna pemilihan pimpinan DPR 2014-2019 di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (2/10/2014).

JAKARTA, KOMPAS.com — Insiden palu yang "hilang" saat sidang perdana DPR RI 2014-2019 beberapa waktu lalu ramai dibicarakan pengguna media sosial di Indonesia.

Adalah pimpinan sementara sidang paripurna DPR RI, Popong Otje Djunjunan, atau akrab dipanggil Ceu Popong, yang jadi "bintang" dalam insiden lucu tersebut.

Politisi Partai Golkar berusia 76 tahun ini terlihat sibuk mencari-cari palu sidang yang digunakan untuk mengesahkan keputusan sidang saat rapat pemilihan pimpinan DPR, Kamis (2/10/2014).

Kini, potongan video celotehan Ceu Popong yang kental dengan logat Sunda tersebut dijadikan satu dan dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi parodi yang menarik dengan nuansa Sunda. Yang pertama mengunggah klip video tersebut di situs YouTube adalah Eka Gustiwana.

Eka merupakan "artis" speech composing, teknik yang digunakan untuk mengubah dialog dalam potongan klip video untuk kemudian disusun berdasarkan iringan lagu yang dibuat.

Keahlian ini memang dimiliki Eka yang hobi mengaransemen lagu secara digital.

Sebelumnya, karya Eka yang bisa dinikmati di akun YouTube-nya adalah parodi video Arya Wiguna yang mengungkapkan kekesalannya dengan berapi-api terhadap Eyang Subur, awal 2013 lalu.

Video Arya Wiguna dengan cepat disusul speech composing pembawa berita Jeremy Teti, yang juga gubahan dari Eka. Dia lalu kembali menelurkan sejumlah video speech composing lain dengan melibatkan berbagai tokoh, mulai dari komedian Dodit Mulyanto, penyanyi Syahrini, hingga calon presiden Prabowo Subianto dan Joko Widodo.

Video speech composing Ceu Popong hasil karya Eka Gustiwana bisa dilihat dengan mengunjungi tautan berikut ini.

PenulisReska K. Nistanto
EditorReza Wahyudi
Komentar