Selasa, 28 Maret 2017

Sony Diretas, Rahasia Snapchat Terungkap

Ilustrasi

KOMPAS.com - Emosi pendiri layanan pesan instan Snapchat Evan Spiegel campur aduk. “Saya merasa ingin menangis sepanjang pagi,” katanya, seperti dikutip Kompas Tekno dari BBC, Jumat (19/12/2014).

Apa pasal? Rupanya, Snapchat ikut menjadi “korban” peretasan Sony Pictures baru-baru ini. Melalui e-mail, Spiegel pernah menguraikan rencana masa depan perusahaannya secara mendetail dengan eksekutif Sony Michael Lynton yang juga duduk sebagai anggota dewan direksi Snapchat.

Rencana inilah yang terbongkar gara-gara peretas menyusup ke sistem Sony Pictures. Informasi Snapchat yang bocor termasuk sensitif, seperti data keuangan dan akuisisi yang tidak dipublikasikan.

Informasi tersebut membeberkan ambisi masa depan Snapchat, layanan instant messaging dimana pesan yang terkirim -termasuk foto dan video- akan segera menghilang beberapa saat setelah dibuka.


Advertisment

Disebutkan bahwa Snapchat telah membeli Vergence Labs, perusahaan pembuat kacamata mirip Google Glass yang dilengkapi kamera tersembunyi. Terungkap pula bahwa Snapchat menghabiskan jutaan dollar AS untuk membeli Scan.me, perusahaan pembuat QR code dan platform iklan iBeacon.

“Perasaan saya macam-macam setelah rencana bisnis kita dibocorkan ke publik kemarin malam,” kata Spiegel dalam memo yang dilayangkan kepada karyawan Snapchat. “Jelas saya marah dan merasa hancur.”

Kendati demikian, pihak Snapchat tidak berencana mengajukan gugatan hukum terhadap Sony Pictures atau pihak lain manapun.

Sony Pictures sendiri tengah babak belur akibat serangan hacker yang dilancarkan pada akhir November lalu. Peretas membocorkan data rahasia dari sekitar 15.000 karyawan studio film Hollywood itu, juga sejumlah film yang belum dirilis.

Terakhir, Sony Pictures dibuat bertekuk lutut dengan membatalkan rencana screening perdana The Interview, film komedi bertema pembunuhan terhadap pemimpin Korut Kim Jong Un yang diduga menjadi motif peretas membobol sistemnya.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Oik Yusuf
Editor : Reza Wahyudi
Sumber: BBC,
TAG: