Filosofi Kung Fu dan Kisah di Balik Akuisisi UCWeb oleh Alibaba - Kompas.com

Filosofi Kung Fu dan Kisah di Balik Akuisisi UCWeb oleh Alibaba

Sabrina Asril
Kompas.com - 03/05/2015, 08:08 WIB
KOMPAS.com/Sabrina Asril Presiden of Alibaba Business Group Yu Yongfu.
BEIJING, KOMPAS.com - Bulan Juni 2014, menjadi momen penting bagi Alibaba Grup, sebuah perusahaan e-commerce terbesar di Cina dalam mengembangkan sayap bisnisnya. Alibaba mengakuisisi UCWeb yang ketika itu sedang berjaya dengan produk unggulannya, UCBrowser.

Yu Yongfu, CEO UCWeb yang kini menjadi Presiden of Alibaba Mobile Business pun berbagi kisah dengan Kompas.com soal akuisisi yang disebut sebagai akuisisi termahal sepanjang sejarah industri internet di negara Tirai Bambu itu.

Bertempat di Holiday Inn Hotel, Beijing, Kamis (30/4/2015), Yongfu bercerita soal perubahan yang kini terjadi pada bisnis Alibaba, kultur kerja yang disebutnya menerapkan filosofi Kung Fu, persaingannya dengan produk keluaran Amerika Serikat, hingga rencananya mengembangkan bisnis di Indonesia.

Berikut kutipan wawancaranya:

Kompas.com: Setelah UCWeb diakuisisi Alibaba, apa perbedaan yang paling terasa?

Yongfu: Ada beberapa aspek yang berbeda, Alibaba selama ini terkenal dengan e-commerce jadi setelah akuisisi mobile business, Alibaba berubah. Sekarang Alibaba tidak lagi fokus di e-commerce tapi juga sudah ke bisnis mobile, seperti browser, search engine, jadi kita konsolidasikan semua bisnis yang ada, termasuk e-commerce.

Selain itu, kami juga punya banyak sumber daya untuk berkembang dan juga teknologi, jadi kita bisa berkembang dengan lebih cepat, secara internasional. Bisnis yang kami geluti ini memang ada beberapa kategori, kita bisa gabungkan semua sumber daya yang ada dengan teknologi dan data. Hingga kini, bisnis kami melibatkan 8.000 orang, dan 80 persen di antaranya adalah untuk penelitian dan pengembangan.

Kompas.com: Apakah ada perbedaan budaya kerja setelah akuisisi itu?

Yongfu: Kita punya perbedaan dan persamaan kultur. Kultur kerja kami memasukkan nilai kesederhanaan dan keindahan seperti matahari dan teknologi. Ketika dua perusahaan bergabung, kultur itu tetap dipertahankan secara konsisten. Menurut saya, seharusnya banyak perusahaan juga tetap seperti itu, jadi saat kami merger, tidak ada perbedaan pendapat karena sudah sama-sama menerapkan kultur tadi.

Sejauh ini, setelah akuisisi oleh Alibaba, kami punya kultur seperti post senior seperti di perkuliahan. Kalau di awal kuliah, ada freshman, sophomore, junior, dan senior. Nah, jadi kita ini kayak post senior. Jadi apa yang kami terapkan di sini sekarang adalah teknologi, self driven (inisiatif untuk maju), passionate.

Ini yang kami terapkan kepada karyawan kami. Jadi seperti kalau di China seperti Kung Fu. Gerakannya tidak penting, tapi yang lebih penting adalah inti dari Kung Fu itu sendiri. Ketika menjadi Kung Fu master, Anda tidak terlalu mementingkan gerakannya tapi yang Anda lihat adalah Anda mengerti Kung Fu itu sendiri, jadi seperti mengerti inti dariKung Fu itu sendiri.

Kompas.com: Dengan nilai seperti itu, UCWeb menepis anggapan bahwa akuisisi diprediksi berujung kepada kegagalan salah? Apakah akuisisi ini membuat UCWeb lebih mudah masuk pasar internasional?

Yongfu: Ini dua hal berbeda. Pertama, sekarang ini saya menjadi bagian dari perusahaan global dan bisa mengambil keputusan besar. Sementara hal yang kedua, sebelum kami merger dengan Alibaba, kami sudah pikirkan banyak hal seperti IPO, pengguna dan teknologi, jadi setelah akuisisi, kita melakukan berbagai cara supaya menarik user kepada kami.

Sekarang menjadi lebih mudah bagi kami untuk mengembangkan jumlah pengguna baik secara domestik, mau pun internasional. Karena sekarang UCWeb sudah bisa fokus kembangkan pengguna ke jumlah yang lebih besar. Selama tahun lalu, dan triwulan terakhir, kita bisa melihat jumlah penggunanya naik tinggi. dan ini akan bisa lebih tinggi lagi.

Kompas.com: Apa rencana Anda untuk pasar Indonesia ke depan?

Pertanyaan dijawab oleh Jonathan Zhong (Country Manager International Business Department UCWeb): Untuk pasar Indonesia, yang utamanya kita lakukan adalah menambah jumlah pengguna. Kami coba berikan layanan terbaik kepada pengguna, mengajak Indonesia untuk terbiasa menggunakan produk kami karena lebih mudah untuk mencari informasi supaya lebih menikmati menggunakan internet, jadi itu yang sedang kita lakukan sekarang dan kami akan terus melakukan itu di masa-masa mendatang.

Ini sangat penting bagi kami, untuk bisa memberikan pengalaman terbaik kepada pengguna dan membiarkan mereka dapat nilai tambah.

Yongfu: Saya ingin menambahkan, Indonesia sangat penting. pasar terbesar ketiga secara internasional bagi kami dan Indonesia sedang dalam langkah yang cepat dalam pertumbuhan ekonominya, jadi itulah mengapa sangat penting bagi kami secara strategis.

Selain itu, saya ingin berikan perbandingan antara kami dengan perusahaan Amerika Serikat (AS), orang selalu pikir kalau perusahaan AS adalah perusahaan global karena mereka punya server yang didistribusikan di banyak negara, tapi sebenarnya yang mereka lakukan hanya mengubah bahasanya menjadi bahasa setempat supaya produknya diterima oleh masyarakat sekitar.

Tapi yang kami lakukan di sini, tidak hanya mengubah bahasanya menjadi lokal tetapi juga server, teknologi, dukungan yang berbeda di setiap pasarnya. jadi ini yang membuat kami menonjol di antara perusahaan lain. Sekarang ini, tim kami di Indonesia sedang berusaha mendengarkan dan bertindak sesuai dengan permintaan dari pengguna lokal. Dan kami siap merespons dengan cepat dan secara terbuka, apa yang diinginkan oleh pengguna.

Kompas.com: Dari sisi bisnis, seberapa penting Indonesia bagi Anda dan dalam jangka panjang apa saja yang Anda lakukan di Indonesia?

Yongfu: Kami melihat Indonesia sebagai negara yang sangat mandiri, jadi kita berusaha memuat konten lokal (glocalize) untuk pasar indonesia. Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial. karena negaranya punya ribuan pulau. jadi seperti model negara mobile pertama yang cocok untuk pengembangan mobile internet.

Jika dibandingkan dengan Jepang, Jepang juga adalah negara kepulauan, tapi Indonesia itu sangat beda. Jadi pengembangannya akan berbeda, jadi inovasinya pun akan pasti berbeda. jadi memang harus ada kreativitas lebih untuk masuk ke pasar indonesia.

Di Tiongkok, kami juga punya strategi glocal. Glocal adalah perpaduan global dan lokal, jadi kami maju ke pasar global dengan memasukkan tim lokal untuk menawarkan pasar yang berbeda, terutama untuk pasar sebesar Indonesia. Jadi ini strategi yang kami lakukan di Indonesia dan juga negara lainnya, temasuk di Tiongkok.

Jika melihat industri mobile internet di Tiongkok, kita bekerja sama dengan service provider, application, phone device, developers, carriers. Misalnya untuk UCWeb, bagaimana kita bisa membuat ekosistem, tidak hanya bagaimana membuatnya, tapi bagaimana orang bisa berkontribusi. Ini hal yang sedang kami pikirkan.

Untuk pasar indonesia, kami berpikir tidak hanya bekerja sama dengan mitra lokal tetapi juga dengan memberikan investasi kepada mereka. Jadi ini yang sedang kami pikirkan. Jadi bisa dalam bentuk kerja sama tapi juga melakukan investasi.

Kompas.com: Sekarang UCBrowser sudah menjadi nomor satu di indonesia, bagaimana cara untuk mempertahankannya?

Yongfu: Pengguna tidak pernah memikirkan siapa developer-nya, tapi bagaimana pengalaman yang mereka dapatkan, apa yang mereka lihat, apa keuntungan yang bisa didapat, jadi kalau kami bisa berinovasi di situ, kita tidak akan berhenti dapat pengguna baru.

Kompas.com: Sudah buka kantor cabang di indonesia?

Jonathan Zhong: Ya kami baru saja buka cabang di Indonesia, representative office. Di Mega Kuningan, Lotte Shoping Avenue.

Kompas.com: Jadi apakah akan rekrut banyak orang Indonesia?

Jonathan Zhong: Sudah, kita sudah rekrut orang indonesia. Sekarang ini total ada 12 pegawai di kantor cabang Indonesia, kami akan terus menambah pekerja lokal. Jadi 50-50. Setengah dari Tiongkok, setengah dari Indonesia dan kami masih akan terus mencari tenaga lokal untuk memenuhi tujuan kami menerpaklan glocal konten.

Yongfu: untuk bisa lebih berkembang di regional, porsi lokal seharusnya 80 persen. Bukan hanya 50 persen seperti yang disebutkan tadi, jadi kalau di Indonesia seharusnya 80 persen tenaga lokal.

Kompas.com Koneksi internet di Indonesia kan lambat, apakah ini akan menghambat bisnis Anda?

Yongfu: Sebenarnya itu malah menjadi kesempatan bagi kami karena kami juga berniat membuat orang terkoneksi. Sekarang ini Indonesia sedang dalam under development status, masih dalam pengembangan. Jadi ini merupakan kesempatan bagi kami. Jadi kami tidak terlalu memikirkan trafik cepat atau lambat yang penting bisa terhubung. Tapi yang kami khawatirkan justru traffic jam (tertawa)

Kompas.com: Apakah Alibaba juga mau bisnis e-commerce di Indonesia?

Yongfu: Saya serahkan jawabannya kepada Alibaba Group. Saya tidak bisa menjawab semua yang berhubungan dengan e-commerce.

PenulisSabrina Asril
EditorReza Wahyudi
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM