Potensi E-Commerce Rp 180 T, Aplikasi Jadi Tantangannya - Kompas.com

Potensi E-Commerce Rp 180 T, Aplikasi Jadi Tantangannya

Sri Noviyanti
Kompas.com - 13/01/2016, 09:41 WIB
Thinkstock/Daviles Ilustrasi e-commerce


JAKARTA, KOMPAS.com –
Pemerintah berkeyakinan e-commerce akan menjadi penggerak ekonomi pada masa depan. Sejumlah situs web penjualan online membuktikan diri bisa terus tumbuh dan berkembang bahkan sudah masuk kategori layak investasi. Peluang dan tantangan membentang bersamaan. Seperti apa?

Hingga 2020, perputaran uang di perdagangan online ini diperkirakan mencapai 130 miliar dollar AS. Memakai kurs Rp 13.900 per dollar AS, nilai itu setara lebih dari Rp 180 triliun. Pada 2015, total nilai transaksi perdagangan lewat internet bernilai sekitar 20 miliar dollar AS, melanjutkan lompatan dari taksiran 8 miliar dollar AS pada 2013 dan 13 miliar dollar AS pada 2014.

“Untuk mencapai (nilai taksiran pada 2020) itu,  pemerintah akan mewadahi 200 teknopreneur baru tiap tahun,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Selasa (12/1/2016). “Kami ingin e-commerce tumbuh cepat,” imbuh dia, sembari menyebutkan kebutuhan dana mencapai kisaran 6 juta dollar AS hingga 7 juta dollar AS untuk program itu per tahun.

Program tersebut mengacu pada peta arah pengembangan e-commerce yang dicanangkan bersama oleh 8 kementerian dan lembaga pada 2015. “(Roadmap) sudah finalisasi,” kata Rudiantara. Pada tahap tersebut tengah disiapkan regulasi untuk para pelaku e-commerce.

Menurut Rudiantara, regulasi itu merupakan kerangka peraturan terkait industri e-commerce. Isinya mencakup panduan perdagangan online,terutama terkait layanan internet, metode pembayaran (payment gateway), dan perpajakan. “Termasuk kemudahan apa yang harus diberikan e-commerce ke sektor pasar modal sehingga investasinya terbuka untuk asing,” ungkap Rudiantara.

Rudiantara menyoroti pula makin maraknya pebisnis yang merambah dunia aplikasi digital. Perencanaan terstruktur, ujar dia, akan menjadi penentu perkembangan aplikasi tersebut. Sebagai contoh, Rudiantara menyebut Bukalapak.com yang sekarang berusia enam tahun.

Thinkstock Ilustrasi penggunaan telepon genggam untuk aktivitas sehari-hari

Situs e-commerce tetap tumbuh hingga usia itu, menurut Rudiantara adalah prestasi tersendiri. “E-commerce ini tidak bisa lagi disebut sebagai startup karena sudah mencapai tingkatan (investasi) Seri C,” imbuh dia. Seri C yang dia sebut merujuk pada investasi tingkat empat di lantai bursa, di bawah seed funding, Seri A, dan Seri B.

Untuk masuk kategori pendanaan Seri C, perusahaan minimal berusia empat tahun. Nilai investasi untuk kategori tersebut berkisar 25 juta dollar AS hingga 100 juta dollar AS. (Baca juga: 2020, Indonesia Bisa Jadi Negara E-Commerce Terkuat)

Capaian dan tantangan

Founder dan CEO Bukalapak.com, Ahmad Zaky, mencatat pada 2015 jumlah pelapak di situs web-nya melompat lebih dari tiga kali lipat dalam setahun. Pada 2015, sebut dia, tercatat 510.000 penjual terdaftar, dari 145.000 pada 2014.

Jumlah barang dagangan yang ditawarkan melalui situs e-commerce ini pun melonjak lebih dari lima kali lipat. “Jumlah barang yang diperdagangkan naik dari 1,4 juta barang menjadi 7,5 juta barang pada akhir tahun sebelumnya,” sebut dia.

Nilai transaksi tumbuh pula hingga tujuh kali lipat pada 2015 dibandingkan setahun sebelumnya. “Ini jauh lebih besar bila dibandingkan kenaikan dari 2013 ke 2014 yang tumbuh 5 kali lipat,” tambah Zaky.

Padahal, kenang Zaky, pada saat dia mengawali situs dagang itu tak banyak yang berminat menawarkan barang dagangan di sana. “Kami sampai harus mengundang usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk hadir sebagai pelapak,” ujar dia, saat perayaan ulang tahun situs web-nya itu, Selasa.

Dengan rentetan data tersebut, Zaky memperkirakan rata-rata pendapatan pelapak pada 2015 naik dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. “Peningkatan pendapatan itu bahkan lebih besar dari pertumbuhan gaji kita (sebgaai karyawan),” ujar dia sembari bercanda.

Tubagus Ari, salah satu pelapak—sebutan bagi pemilik barang yang ditawarkan lewat situs ini—yang hadir mengamini perkiraan Zaky. “Kalau saya tidak lagi dua kali lipat tapi lebih dari itu,” ujar dia yang memasarkan aneka peranti digital lewat situs web itu.

Ari mengaku menjual pula produk yang sama lewat toko konvensional dan punya situs web sendiri. Namun, kata dia, penjualan terbanyak didulang dari penawaran lewat toko online bersama ini. “Menariknya lagi, ada banyak event di situs seperti ini. Pernah dalam dua hari, lebih dari 300 kamera laku terjual (karena event itu),” ungkap dia.

Bahkan Zaky sekalipun tak menyangka ada perkembangan secepat ini untuk “pasar online”-nya. “Lima tahun lalu, ponsel masih benda premium. Siapa sangka sekarang hampir semua orang punya smartphone dan terhubung lewat internet,” kata dia.

Zaky tak menampik, situs web-nya bisa dibilang “menumpang” perkembangan teknologi digital ini. “(Namun), kami ingin berbuat sesuatu untuk Indonesia, utamanya para pelaku UMKM,” kata dia. Zaky berharap, ketika perekonomian para pelapak meningkat maka keluarga mereka bisa melahirkan, menumbuhkan, dan merawat generasi muda cerdas.

Blog Google Riset Google dan TNS Australia mendapati tren situs yang paling banyak dibuka di kawasan Asia, berdasarkan negara. Riset ini dilakukan pada Juni 2015.

Dari perkiraan 93,4 juta pengguna internet di Indonesia pada 2015, ditaksir 77 persen di antaranya memakai teknologi ini untuk pencarian informasi atau produk serta belanja online. Riset terbaru Google yang digelar pada Juni 2015 mendapati, situs web belanja online merupakan yang paling banyak dibuka pengguna internet Indonesia memakai smartphone.

Menurut riset Google itu, pemilik smartphone di Indonesia menjadikan peranti itu sebagai alat komunikasi utama—termasuk untuk berselancar di dunia maya—meski punya komputer dekstop atau tablet. Penetrasi smartphone ke Indonesia diperkirakan  mencapai 43 persen populasi. Sayangnya, jumlah aplikasi yang terbenam di dalam smartphone orang Indonesia justru tercatat terendah di Asia, sekitar 31 persen saja.

Menurut riset Google tersebut, tantangan untuk kawasan Asia—termasuk Indonesia—adalah menghadirkan inovasi baru untuk aplikasi. Penting bagi penyedia layanan aplikasi, kata riset itu, menyediakan tuntunan yang runut bila ingin aplikasi besutannya laris di kawasan ini.

Berpikir kreatif dengan menghasilkan aplikasi terintegrasi dari kebutuhan penggunaan itu, lanjut rekomendasi tersebut, akan menjadi pintu “penglaris”. Sejauh ini, aplikasi yang paling banyak terpasang di ponsel pintar orang-orang Asia adalah instant messaging—macam Whatsapp dan Line—disusul media sosial dan mesin pencari.

PenulisSri Noviyanti
EditorPalupi Annisa Auliani
Komentar