Sendratari Prambanan dan Teknologi "Sepanggung" demi Para Milenial - Kompas.com

Sendratari Prambanan dan Teknologi "Sepanggung" demi Para Milenial

Reska K. Nistanto
Kompas.com - 12/10/2016, 20:21 WIB
Sembilan Matahari Video Mapping candi Prambanan oleh tim Sembilan Matahari.

Yogyakarta, KOMPAS.com - Lantai panggung terbuka di kawasan Candi Prambanan yang biasa dipakai mementaskan Sendratari Ramayana, Senin (10/10/2016) malam tiba-tiba retak.

Patahan retakan mengular dari tengah panggung ke tepi-tepiannya. Suara retakan disusul gemuruh batu berjatuhan menggema. Para penari yang ada di atas panggung pun berlarian.

Panggung tersebut ternyata tak benar-benar retak. Kejadian tersebut merupakan potongan adegan itu adalah bagian dari pementasan drama tari dari sanggar asuhan seniman Yogyakarta kenamaan, Didik Nini Thowok.

Malam itu, untuk pertama kalinya di Candi Prambanan, dipentaskan sendratari yang ditambahi dengan teknologi visual video mapping garapan studio Sembilan Matahari.

Menggunakan 16 proyektor dengan tingkat lumens (kecerahan) yang tinggi dari Epson (mulai dari 10.000 hingga 25.000 lumens), Sembilan Matahari memproyeksikan video dan animasi ke lantai panggung, latar, dan tiga candi utama di kompleks Candi Prambanan.

Sentuhan teknologi visual ini diharapkan bisa menarik minat generasi milenial untuk menonton seni pertunjukan budaya. Setidaknya begitulah yang disampaikan oleh CEO sekaligus pendiri Sembilan Matahari, Adi Panuntun kepada KompasTekno seusai acara.

"Ini lebih kepada kita melihat potensi bahwa budaya bisa dikemas dengan media baru sehngga bisa menjemput zaman," ujar Adi.

Reska K. Nistanto/KOMPAS.com Adi Panuntun, CEO dan Founder Sembilan Matahari.
"Nilai-nilai luhur (cerita budaya) bisa ditransfer dengan kemasan menarik ke generasi milenials," imbuhnya.

Perpaduan kemasan yang menarik, sentuhan teknologi, dan tarian-tarian kontemporer, diharapkan bisa menjadi jembatan budaya bagi generasi muda masa kini untuk kembali menonton pertunjukan seni budaya yang mulai ditinggalkan.

Dengan demikian, mereka tak melulu menonton pertunjukan modern, seperti konser musik atau film di bioskop. Melainkan juga sendratari, wayang kulit, dan wayang orang yang sudah diberi sentuhan modernisasi.

Paket pentas budaya dengan pendekatan teknologi ini juga menciptakan peluang baru bagi industri pariwisata dengan konsep creative tourism.

"Saat ini Sendratari Ramayana hanya dipentaskan beberapa kali saja seminggu, di hari-hari kosong itulah bisa disisipkan tarian yang lebih kontemporer, sehingga penonton bisa memilih," kata Adi.

Pihak pengelola Taman Wisata Candi Prambanan sendiri melalui Marketing Director, Ricky Siahaan mengakui bahwa konsep video mapping di pentas Sendratari bisa mendatangkan lebih banyak wisatawan.

Namun demikian, pihak pengelola juga meski bekerja sama dengan balai konservasi dan pelestarian cagar budaya, agar kegiatan-kegiatan yang dimaksud tidak sampai merusak situs-situs sejarah.


Mengapa video mapping?

Lantas, mengapa Sembilan Matahari memilih teknik video mapping dari konsep-konsep pertunjukan lainnya?

"Video mapping bisa memadukan pertunjukan visual dengan drama tari, sifat video yang luas bisa mengikuti permukaan obyek," kata Adi.

Selain itu, dengan ditambahkannya citra visual pendukung cerita di atas panggung, cerita menjadi lebih menarik diikuti.

Sebagai contoh, lantai panggung tidak monoton berwarna putih saja, melainkan bisa disulap menjadi layaknya hijaunya padang rumput, tandusnya tanah gersang, atau menambahkan obyek-obyek lain yang sulit, seperti sungai, dan efek-efek seperti gempa tadi.

KompasTekno sendiri saat melihat pertunjukan Sendratari Roro Jonggrang dibuat terkesima saat adegan Roro Jonggrang dikutuk oleh Bandung Bondowoso menjadi batu.

Penari yang memerankan Roro Jonggrang berdiri di satu titik di mana latar belakangnya menampilkan efek visual menarik yang menceritakan transformasi Roro Jonggrang menjadi patung batu candi.

Reska K. Nistanto/KOMPAS.com Sendratari Roro Jonggrang yang dipercanting dengan video mapping di pangung terbuka kompleks Candi Prambanan, Yogyakarta.
Ada pula efek tanah yang merekah, batu-batu berjatuhan saat adegan gempa bumi yang merusak Candi Prambanan ratusan tahun silam.

Adegan-adegan sulit seperti itu menjadi lebih mudah diceritakan dengan bantuan video mapping.

Sebelumnya, Candi Prambanan memang telah dihiasi dengan sinar lampu warna-warni yang menarik. Namun dengan proyeksi video mapping seperti ini bisa membuat cerita, sehingga bukan hanya cahaya lampu saja, namun juga efek visual yang lebih dramatis.

Bagaimana cara melakukannya?

Teknik video mapping Sembilan Matahari ditampilkan dengan memutar video resolusi Full HD. Video tersebut bisa berupa animasi 2D, 3D, dan sebagainya.

Video kemudian diproyeksikan ke permukaan bidang, seperti lantai panggung, latar (background), dan permukaan candi dengan bukan hanya satu, melainkan banyak proyektor.

Proyektor-proyektor tersebut masing-masing memproyeksikan potongan-potongan gambar, yang apabila dirangka menjadi satu, terlihat sebagai satu kesatuan gambar yang utuh.

"Video dibuat dengan software animasi 2D dan 3D, untuk software (multi display) sendiri kami memakai Dataton Watchout," terang Adi.

Tantangan

Video mapping di Candi Prambanan ini bukan kali pertama bagi Sembilan Matahari. Sebelumnya, studio asal Bandung itu pernah mempercantik visual Museum Sejarah dengan animasi video cantik.

Gedung Merdeka Bandung, Benteng Kuto Besar di Palembang juga pernah dipercantik dengan efek video mapping Sembilan Matahari.

Namun khusus untuk video mapping di Candi Prambanan lalu, tim Sembilan Matahari mengaku sedikit kesulitan. Pasalnya, permukaan video mapping di candi berbeda dari bangunan-bangunan sebelumnya.

"Kalau candi kan konturnya tidak rata, ada lekukan-lekukan, obyeknya juga berwarna gelap, jadi butuh proyektor dengan lumensy tinggi," kata Adi.

Selain mengalami kendala dari obyek candi, kendala dari segi hardware dan teknis operasional juga ditemui.

Lokasi di alam terbuka membuat semua peralatan, termasuk kabel, proyektor, komputer, dan sebagainya bisa terpapar cuaca, termasuk angin dan hujan.

"Namun kita punya tim yang kuat dan bisa bekerja cerdas, jadi bisa mengakali kalau kondisi hujan, ada angin harus bagaimana," ujar Adi.

Proyek selanjutnya

Setelah proyek video mapping di Candi Prambanan, tim dari Sembilan Matahari tak lekas berpuas diri. Mereka mengatakan sudah merencanakan satu proyek yang lebih besar lagi, yakni mempercantik Candi Borobudur yang dimensinya lebih besar.

Dengan dimensi yang lebih besar,  jumlah proyektor yang dibutuhkan menurut Adi bisa jadi dua kali lipat dari jumlah proyektor yang dipakai di Candi Prambanan.

Kepada KompasTekno, Adi mengatakan proyek video mapping di Candi Borobudur itu rencananya akan ditampilkan pada malam pergantian tahun 2017 nanti.

"Kita akan menyiapkan untuk di Candi Borobudur di malam pergantian tahun nanti, semoga banyak pihak-pihak yang mendukung," pungkasnya.

Reska K. Nistanto/KOMPAS.com Sendratari Roro Jonggrang yang dipercanting dengan video mapping di pangung terbuka kompleks Candi Prambanan, Yogyakarta.
.

PenulisReska K. Nistanto
EditorReza Wahyudi
Komentar
Close Ads X