Akses Data 300 Mbps Lewat 4T4R - Kompas.com
kolom

Akses Data 300 Mbps Lewat 4T4R

Moch S. Hendrowijono
Kompas.com - 17/12/2016, 09:52 WIB
KompasTekno/ Fatimah Kartini Bohang Ilustrasi Menara telekomunikasi

TEKNOLOGI telekomunikasi terus berkembang tanpa henti, siklusnya makin lama makin singkat. Bukan hanya merepotkan operator karena mau tidak mau harus membelinya kalau tidak mau tergilas zaman tetapi yang paling keteteran adalah regulasi, peraturan perundangan, yang selalu tertinggal jauh.

Ketika dunia mulai mengadopsi 3G pada awal dekade 2000, operator di Indonesia baru mulai mengomersilkan layanan generasi ketiga itu pada 2006, padahal pada saat sama 4G LTE (long term evolution) sudah mulai diuji coba di banyak negara. Hingga kini, 2016, investasi operator untuk mengembangkan layanan 3G yang lebih fokus pada layanan data belum juga impas, karena 60 persen pelanggan masih suka layanan generasi kedua, 2G, yang berupa suara dan SMS.

Upaya menggiring pelanggan 2G ke layanan 3G sangatlah sulit, sebab citra 3G yang lebih cenderung ke akses data adalah mahal karena boros pulsa. Ponselnya pun ponsel pintar yang pastinya lebih mahal dibanding ponsel fitur yang kalaupun mengirim data paling tinggi dengan kecepatan 64 kbps (kilo bit per detik).

Di sisi lain, masyarakat mulai menyukai ponsel pintar sekadar sebagai tren, tetapi penggunaannya tetap saja untuk suara dan SMS. Kalaupun digunakan sesuai kemampuan ponsel, akses datanya yang menurut operator bisa sampai 42 mbps (megabit per detik), kenyataannya paling tinggi 7 mbps.

Generasi keempat (4G LTE) dimulai tahun 2011 di dunia dan Indonesia baru memperkenalkannya tahun 2014 dan mengomersialkan pada akhir 2015 yang lewat CA (carrier aggregation) bisa didapat akses data sampai 150 mbps. Caranya dengan menggabungkan lebar pita di spektrum berbeda, misalnya10 MHz di spektrum 1800 MHz dengan 10 MHz di spektrum 2100 MHz. Jika ditambah 10 MHz lagi akses datanya mencapai 200 mbps, dan harus dengan 20+20 atau 20+10+10 MHz untuk dapat 300 mbps.

Teknologi CA tidak segera dinikmati pelanggan karena hanya ponsel 4G LTE kelas tinggi yang bisa mengaksesnya. Apalagi, jarang yang bisa mengalokasikan spektrum 20 MHz sepenuhnya, atau 10 MHz masingmasing pada empat spektrum berbeda.

Pada triwulan akhir 2016, XL Axiata dan Telkomsel memperkenalkan generasi 4,5 dengan memanfaatkan lebar pita 20 MHz di spektrum 1800 MHz, yang disebut generasi 4,5 (4,5G), 4X4 MIMO (multiple in multiple out). MIMO beda dengan CA yang menggunakan 2 antena transmit (pemancaran) dan 4 antena receive (penerimaan) atau 2T4R.

Di 4,5G digunakan 4T4R, tiap dari empat transmit memancar ke masing-masing 4 receive yang membuat akses datanya dua kali lebih kuat sehingga bisa didapat sampai 300 mbps. Mengirim data satu giga hanya dalam kurang dari lima detik dan latensi di 4T4R lebih rendah dibanding di 4G LTE karena hanya kurang dari 10 milidetik.

Sampai 1.000 Mbps

Tidak semua operator di Indonesia bisa mengomersialkan 4T4R karena dibutuhkan 20 MHz di satu spektrum. Bahkan yang memilikinya, misalnya Telkomsel yang punya 20 MHz di 1800 MHz tidak dapat memanfaatkan semua frekuensi itu karena 60 persen di antaranya, sama dengan operator lain, masih diduduki pelanggan 2G.

XL Axiata dan Telkomsel memindahkan sebagai pelanggan 2G ke spektrum 900 MHz, sementara Telkomsel menambahnya dengan memanfaatkan frekuensi unlicenced 5,8 Mhz yang biasanya digunakan untuk wifi, yang namanya LAA (licenced assisted access).

Dengan pemilikan 45 juta pelanggan dan jumlah frekuensi 52,5 MHz sama dengan Telkomsel yang punya 163 juta pelangan, XL Axiata lebih leluasa menggunakan 20 MHz dari 22,5 MHz miliknya di spektrum 1800 MHz-nya.

Keleluasaan akan juga didapat ketika operator berpeluang memenangkan lelang dua kanal (10 MHz) tersisa dari 2,1 GHz dan 30 MHz di spektrum 2,3 MHz awal tahun depan. Kedua spektrum itu sekaligus akan dinyatakan sebagai teknologi netral sebagai syarat dapat digunakan untuk layanan 4G.

Kecepatan akses data dapat ditingkatkan dari “hanya” 300 mbps menjadi sampai seribu Mbps (1 giga), dengan QAM (quadruple amplitude modulation – aplitudo modulasi yang dikuadratkan) menjadi 16T16R. Dengan akses data secepat itu, video ultra high definiton (UHD) atau bahkan SUHD (super UHD) bisa tampil dengan halus di layar ponsel.

Namun menurut hitungan, pengosongan spektrum 1800 MHz dan 900 MHz dari pelanggan 2G rasanya belum akan terjadi kurang dari lima tahun ke depan. Tetapi pengosongan kanal 2,1 GHz untuk 3G dapat terjadi pada dua tahun mendatang karena semua pelanggan 3G akan dipindahkan ke 4G dan 5G.

Kehebohan teknologi ini tampaknya tidak akan menjadi masalah karena sifat masyarakat Indonesia umumnya lebih memperhitungkan tarif dibanding peduli terhadap teknologi yang digunakan. Sementara tarif yang dianggap mahal, paket data Rp 50.000 untuk 2 giga, masih jauh lebih murah dibanding di China Mobile yang senilai Rp 100.000 untuk satu giga.

Selain itu hingga kini di pasar belum ada ponsel yang dapat digunakan untuk 4T4R, kecuali misalnya Samsung Galaxy S7 Edge atau iPhone7, semua versi Eropa. Kabarnya XL Axiata baru akan mengomersialkan 4,5G ini bertepatan dengan Asian Games 2018.

Telkomsel didukung Huawei, Ericsson dan Nokia serta ZTE sudah mendahului dengan memperkenalkan pengalaman berselancar cepat dengan 4T4R ke publik awal Desember lalu. Konsumen dapat mencobanya di 11 Grapari di sembilan kota, Jakarta, Bandung, Medan, Pontianak, Denpasar, Mataram, Makasar, Menado dan Ambon.

Telkomsel mengklaim teknologi ini akan menjadi tahapan sebelum memperkenalkan teknologi GSM generasi kelima (5G) di Indonesia beberapa tahun ke depan.

EditorTri Wahono

Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM