Rabu, 22 Februari 2017

Harbolnas Banyak Diskon Palsu, Panitia Minta Pembeli Lebih Cermat

Yoga Hastyadi Widiartanto/Kompas.com Ketua Harbolnas 2016, Miranda Suwanto

JAKARTA, KOMPAS.com - Seperti tahun sebelumnya, Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 2016 diwarnai diskon palsu. Menanggapi hal ini, Ketua Harbolnas 2016 Miranda Suwanto mewanti-wanti agar pelanggan belanja online lebih cermat dalam memilih barang diskon.

“Konsumen pun harus 'pintar-pintar' milih barang. Kalau kita ke toko-toko dan tidak langsung beli. Hal begini juga mestinya kita lakukan saat belanja online,” ujar Miranda saat ditemui KompasTekno dalam acara Paparan Hasil Harbolnas 2016, di Jakarta, Senin (19/12/2016).

Baca: Harbolnas Diwarnai Diskon Palsu, Panitia Mengaku Tak Berdaya

Dia menambahkan, panitia sebenarnya sudah mengimbau agar situs e-commerce memberikan potongan harga yang sewajarnya saat Harbolnas 2016 berlangsung. Harapannya tidak ada yang menampilkan diskon palsu.

Namun toh akhirnya, saat penyelenggaraan Harbolnas pada 12 - 14 Desember lalu, tetap saja ada merchant atau penjual yang menampilkan diskon palsu di sejumlah situs belanja.

“Panitia Harbolnas hanya gabungan dari e-commerce saja, jadi kami kembalikan ke masing-masing e-commerce. Mereka yang bisa memberikan sanksi pada penjual. Kalau kami, tidak bisa memberikan sanksi, jadi cuma mengimbau saja,” tutur Miranda yang juga aktif sebagai Senior Vice President Strategic Partnership & Business Development Lazada Indonesia itu.

Dia berharap, saat Harbolnas digelar lagi pada tahun depan, sudah tidak ada penjual-penjual yang menawarkan diskon palsu. Tidak menutup kemungkinan pada tahun berikutnya, panitia Harbolnas akan berkoordinasi dengan lembaga hukum demi menangani masalah diskon palsu tersebut.

Baca: Transaksi Harbolnas 2016 Diprediksi Capai Rp 3,3 Triliun

Seperti diketahui, pelanggan belanja online sempat mengeluhkan masalah diskon palsu yang sempat terjadi di ajang Harbolnas 2016. Salah satu bentuknya adalah tampilan harga yang dinaikkan dengan tidak wajar untuk kemudian didiskon ke harga normal.

Sebagai contoh, salah satu merchant yang berjualan di situs Lazada Indonesia menawarkan ponsel Xiaomi Redmi Note 4 dengan harga asli Rp 99 juta. Harga asli tersebut kemudian diklaim mendapat diskon, sehingga konsumen bisa menebusnya dengan harga Rp 2.175.000.

Padahal, itu merupakan harga asli ponsel. Dengan kata lain, diskon yang ditawarkan hanyalah rekaan semata.

Penulis: Yoga Hastyadi Widiartanto
Editor : Deliusno
TAG: