Kamis, 30 Maret 2017

Uber Dikabarkan Rugi Rp 10,7 Triliun

Quartz CEO Uber Travis Kalanick

KOMPAS.com — Tahun 2016 agaknya bukan tahun kesuksesan Uber. Pada akhir kuartal ketiga lalu, layanan ride-sharing tersebut dikatakan merugi hingga 800 juta dollar AS atau setara Rp 10,7 triliun.

Hal ini disampaikan sumber dalam yang enggan jika identitasnya disebutkan. Jika benar, informasinya beririsan dengan informasi yang terendus pada Agustus 2016 lalu.

Kala itu, tepatnya saat Uber memaparkan laporan kuartal kedua kepada para investor, Head of Finance Uber, Gautam Gupta, mengumumkan bahwa kerugian Uber semakin menggunung.

Faktor utamanya adalah subsidi yang masih terus diberikan Uber untuk para mitra pengemudinya. Belum lagi, promo-promo gencar digelar untuk menarik minat masyarakat.


Advertisment

Angka kerugiannya bersifat privat untuk publik karena Uber belum membuka saham perdana alias IPO. Hanya, beberapa orang dalam kemudian membocorkannya kepada awak media.

Mereka mengatakan, Uber merugi 520 juta dollar AS (Rp 6,9 triliun) pada kuartal pertama 2016 dan 850 juta dollar AS (Rp 11,3 triliun) pada kuartal kedua 2016, sebagaimana dilaporkan Bloomberg dan dihimpun KompasTekno, Selasa (20/12/2016).

Jika ditambah kerugian pada kuartal ketiga, maka total kerugian Uber selama sembilan bulan pada 2016 lebih kurang 2,2 miliar dollar AS atau setara Rp 29,4 triliun. Kerugian itu belum termasuk bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi.

Pendapatan dan valuasi naik

Di tengah kerugian yang melanda, pendapatan Uber sebenarnya naik dan sesuai target. Perusahaan layanan ride-sharing asal San Francisco itu meraup 3,76 miliar dollar AS atau setara Rp 50,3 triliun selama sembilan bulan beroperasi di 2016.

Hingga tutup tahun, pendapatan Uber diprediksi bisa mencapai 5,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 73,7 triliun. Dengan pendapatan yang terus menanjak sesuai target, nilai valuasi Uber pun kuat.

Jika ada yang berminat membeli Uber saat ini, setidaknya perlu merogoh kocek 69 miliar dollar AS atau setara Rp 924 triliun. Nilai valuasi itu bahkan lebih besar ketimbang gabungan General Motors Co dan Twitter Inc.

Baca juga: Bukan Lagi Minyak, Kini Teknologi Jadi Perusahaan Paling Bernilai

Jadi, intinya kerugian Uber sebenarnya dikarenakan kondisi lebih besar pasak daripada tiang. Pendapatannya yang meningkat tak cukup mengakomodasi pengeluaran yang juga semakin membeludak.

Pasalnya, kendaraan Uber semakin banyak, transaksi yang dibuat tiap harinya semakin besar, tetapi subsidi yang masih diberlakukan pun ikut melonjak.

Menurut sumber dalam, total transaksi dari pemesanan kendaraan oleh penumpang Uber selama sembilan bulan adalah 14,2 miliar dollar AS atau setara Rp 190 triliun.

Ketika dipangkas untuk membayar mitra pengemudi, pemasukan Grab tersisa 3,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 49 triliun. Pemasukan itu belum dikurangi biaya operasional dan kebutuhan lain perusahaan.

Pihak Uber enggan berkomentar soal desas-desus kerugian bisnisnya. Bocoran yang diumbar sumber dalam pun belum bisa dipercaya sepenuhnya.

Baca: Pelajaran dari Kasus Argo Kuda Uber di Jakarta

Penulis: Fatimah Kartini Bohang
Editor : Reska K. Nistanto
Sumber: Bloomberg,
TAG: