Selasa, 28 Maret 2017

Apple Kembali Gugat Qualcomm

iFixit Pengoprekan pertama iPhone 7 Plus.

KOMPAS.com - Gugatan yang diajukan Apple pada Qualcomm terkait tudingan kecurangan dalam biaya lisensi belum juga selesai, namun pembuat iPhone itu sudah menambahnya dengan gugatan baru.

Informasi yang beredar menyebutkan Apple mengajukan dua gugatan. Keduanya sama-sama diajukan melalui institusi hukum di China.

Pada gugatan pertama, Apple meminta ganti rugi sekitar lebih dari 145 juta dollar AS atau setara Rp Rp 1,936 triliun. Alasannya adalah tindakan Qualcomm yang dinilai melanggar regulasi anti-monopoli di China sekaligus menyalahgunakan posisinya sebagai produsen chipset dominan.

Namun, saat ini belum ada penjelasan lebih detil mengenai alasan tersebut. Gugatan yang diajukan di China itu bisa jadi merupakan buntut gugatan terhadap Qualcomm di AS.


Advertisment

Sementara itu pada gugatan kedua, Apple fokus pada persoalan paten. Dalam hal ini, Apple meminta pengadilan untuk menengahi perjanjian kesepakatan antara kedua belah pihak.

Seperti diketahui, Apple menggugat Qualcomm dengan tudingan bahwa raksasa chipset mobile tersebut memanfaatkan dominasinya untuk membuat tarif lisensi yang sangat mahal.

Dan di AS sendiri memang sudah ada klaim yang menyebut bahwa Qualcomm tidak memenuhi standar mengenai paten yang adil, masuk akal dan tanpa diskriminasi (FRAND).

Sebagaimana dilansir KompasTekno dari The Verge, Jumat (27/1/2017), Qualcomm mengatakan pihaknya telah siap-siap mempertahanan diri dan model bisnisnya dari segala gugatan tersebut.

“Gugatan yang dilakukan anak usaha Apple di China itu merupakan bagian dari upayanya untuk mendapatkan tarif lisensi teknologi yang lebih murah,” komentar penasihat hukum Qualcomm, Don Rosenberg.

“Tarif yang kami tawarkan sudah diterima oleh lebih dari 100 perusahaan China dan Apple bahkan tidak mau mempertimbangkan tawaran itu,” imbuhnya.

Sebelumnya, Federal Trade Commission AS (FTC) juga mengajukan gugatan pada Qualcomm dengan tudingan serupa. FTC mempersoalkan tarif lisensi Qualcomm yang mahal dan ancaman untuk tidak memasok modem jika klien mereka menolak.

Penulis: Yoga Hastyadi Widiartanto
Editor : Reza Wahyudi
Sumber: The Verge,
TAG: