Mengenal Teknologi "Fast Charge" dan "Sensor Kamera Pintar" dari Oppo - Kompas.com

Mengenal Teknologi "Fast Charge" dan "Sensor Kamera Pintar" dari Oppo

Oik Yusuf
Kompas.com - 23/02/2017, 17:01 WIB
Oppo Super VOOC diklaim sebagai teknologi fast charging terkencang di dunia dengan kecepatan pengisian baterai hanya 15 menit.

KOMPAS.com - Teknologi pengisian baterai cepat alias fast charging adalah salah satu fitur yang mulai banyak diterapkan di smartphone bikinan berbagai pabrikan, tak terkecuali pula Oppo.

Perusahaan asal China ini memiliki teknologi fast charging bernama Voltage Open Loop Multi-step Constant-Current Charging (VOOC). Pada Mobile World Congress 2016 di Barcelona, Spanyol, Februari tahun lalu, fitur tersebut diperbarui menjadi Super VOOC.

Dibanding teknologi VOOC terdahulu yang mampu mengisi 75 persen kapasitas baterai perangkat dalam 30 menit, kerja Super VOOC lebih cepat dalam hal charging.

Super VOOC sanggup mengisi baterai berkapasitas 2.500 mAh dari keadaan kosong hingga 100 persen penuh, hanya dalam waktu 15 menit sehingga diklaim sebagai sebagai teknologi fast charging tercepat di dunia.

Apa rahasianya? Berbeda dari teknologi fast charging besutan pihak lain yang umumnya menerapkan pengisian baterai dengan voltase tinggi, Super VOOC justru mengandalkan voltase rendah di kisaran 5V yang aman dan sesuai dengan standar untuk charging smartphone.

Penggunaan voltase rendah itu dipadukan dengan algoritma pulse-charge yang secara dinamis mengatur arus untuk mengisi baterai perangkat dalam waktu singkat.

Menurut keterangan dari pihak Oppo, sebagaimana dirangkum KompasTekno, Kamis (23/2/2017), dibandingkan voltase tinggi, penggunaan voltase rendah pada Super VOOC memiliki keuntungan berupa suhu perangkat yang lebih dingin.

Teknologi fast charging dengan voltase tinggi memerlukan konverter untuk menurunkan voltase sebelum daya dipasok ke baterai. Proses ini melepaskan banyak energi dalam bentuk panas sehingga tidak efisien.

Keuntungan lain dari Super VOOC yang adem, ponsel bisa tetap nyaman dipakai selagi mengisi baterai, baik untuk menonton video, browsing, ataupun bermain game tanpa membuat tangan pengguna kepanasan.

Dengan teknologi fast charging lain, ponsel akan beralih ke mode pengisian biasa (bukan fast charging) apabila dipakai saat sedang terhubung ke charger. Ini diperlukan untuk mencegah panas supaya tidak terlalu tinggi.

Teknologi Super VOOC diwujudkan melalui kombinasi tiga komponen, yakni baterai jenis baru dengan komposisi kimia rahasia, charger dengan hardware kelas militer (military grade) yang didesain tangguh, dan kabel khusus (USB Type-C atau micro-USB).

SmartSensor penstabil gambar

Dalam kesempatan yang sama di MWC 2016, Oppo turut memperkenalkan inovasi kedua berupa teknologi penstabil gambar (optical image stabilizer, OIS) untuk kamera ponsel. Fitur bernama SmartSensor ini pun menganut mekanisme berbeda dibandingkan teknologi lain yang sejenis.

OIS di dunia kamera biasanya terdiri dari dua tipe, yakni yang diterapkan di lensa dan sensor. Smartphone umumnya menerapkan OIS di bagian lensa karena keterbatasan tempat di modul kamera yang kecil.

OIS di lensa bekerja dengan motor coil yang menggerakkan elemen-elemen lensa ke arah yang berlawanan dari goyangan untuk menstabilkan gambar, seperti bisa dilihat dalam video ilustrasi di bawah.


Dengan SmartSensor dari Oppo yang menggunakan teknologi micro-electro-mechanical system (MEMS), tugas menstabilkan gambar dari goyangan ini dipindahkan dari lensa ke sensor kamera.

Alih-alih menggerakkan komponen lensa, sensorlah yang melakukan hal tersebut untuk meredam goyangan. Prinsip serupa sebelumnya sudah dipakai di beberapa kamera digital (DSLR dan mirrorless) yang menggunakan penstabil gambar berbasis sensor (In-Body Image Stabilizer/IBIS).


Bedanya dengan IBIS di kamera digitral, teknologi MEMS membuat SmartSensor berukuran sangat kecil sehingga bisa ditempatkan di dalam modul kamera smartphone. Ketebalannya disebut sebanding dengan dua lembar kertas. SmartSensor pun diklaim sebagai image stabilizer terkecil di dunia untuk perangkat jenis apapun.

Lalu, manfaat apa yang didapat dengan memindahkan image stabilizer dari lensa ke sensor? Ada beberapa keuntungan dari hal ini.

Pertama, OIS pada lensa hanya mampu mengoreksi goyangan di dua sumbu, yakni pitch axis dan yaw axis. SmartSensor mampu mengoreksi goyangan di sumbu lain, yakni roll axis, di samping pitch dan yaw sehingg mampu meredam dengan lebih efektif.

GSM Arena Ilustrasi tiga sumbu gerakan (pitch, yaw, dan roll) yang bisa dikoreksi oleh SmartSensor.
Kedua, SmartSensor mampu bekerja dengan sangat cepat. OIS di lensa biasanya memiliki jeda "start up" setidaknya 50 milidetik sebelum mulai siap meredam goyangan. Proses serupa pada SmartSensor hanya memakan waktu 15 milidetik.

Ketiga, OIS di lensa umumnya memiliki tingkat presisi antara 3 hingga 5 mikrometer, sementara SmartSensor mampu mengoreksi getaran hingga 0,3 mikrometer, atau 10 kali lebih akurat.

Ukuran tiap fotodioda (pixel) pada sensor kamera biasanya berkisar di angka 1 mikrometer. Ini berarti SmartSensor mampu membuat koreksi pada skala hanya sepertiga pikse. Stabilisasi pixel-level ini merupakan yang pertama kali diterapkan di smartphone.  

Terakhir, yang tak kalah penting, SmartSensor memiliki konsumsi daya lebih rendah dibandingkan OIS pada lensa yang menggunakan motor coil. Penggunaan listrik SmartSensor hanya berkisar di angka 10 miliwatt atau 50 kali lebih rendah dari OIS berbasis lensa.

Dengan berbagai kelebihan di atas SmartSensor diklaim mampu menghasilkan tangkapan gambar yang tajam, bebas buram akibat goyangan di situasi yang kurang ideal sekalipun, misalnya di malam hari atau saat menonton konser musik.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisOik Yusuf
EditorDeliusno
SumberOppo
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM