Kamis, 23 Maret 2017

Google "Bunuh" Metode Verifikasi CAPTCHA

LifeHacker Captcha

KOMPAS.com - Selama ini, Google menggunakan sistem verifikasi CAPTCHA (Completely Automated Public Turing test to tell Computers and Humans Apart) untuk mengidentifikasi apakah pengguna internet adalah manusia atau robot.

Anda tentu familiar dengan sistem yang beredar sejak 2009 tersebut. Terlebih, pada 2013 lalu, sistem itu diperbarui dengan embel-embel kalimat "I'm not a robot" yang menjadikannya semakin tampak di permukaan.

Nah, seiring perkembangan zaman, Google sesumbar telah menemukan metode baru yang lebih baik dari CAPTCHA, sebagaimana dihimpun KompasTekno, Senin (13/3/2017) dari LifeHacker.

Raksasa mesin pencari itu tak lagi secara terang-terangan mengidentifikasi penggunanya dari depan, melainkan dari belakang (background). Sistem ini disebut dengan "invisible CAPTCHA" alias CAPTCHA yang tak terlihat.


Advertisment

Pengguna tak akan lagi diminta mengeklik sesuatu untuk membuktikan dirinya manusia atau robot. Google akan dengan sendirinya mengidentifikasi melalui algoritma yang merekam kebiasaan pengguna saat berselancar internet.

"Ini adalah kombinasi machine learning dan analisis mendalam yang mampu beradaptasi dengan ancaman yang lebih baru," kata perwakilan Google.

Di satu sisi, pengguna tak perlu lagi ribet mengklik gambar tertentu pada beberapa kotak, hanya untuk membuktikan diri sebagai manusia. Ini tentu akan menghemat waktu, terlebih invisible CAPTCHA disebut lebih akurat dalam mengidentifikasi manusia.

Namun, di sisi lain, ini juga mengindikasikan Google akan semakin jauh lagi merekam dan menganalisa tindakan pengguna internet. Hal ini tak berarti buruk, namun bagi sebagian orang yang tak suka "terlacak", bisa jadi agak terganggu.

Penghapusan CAPTCHA sudah mulai berlaku secara perlahan. Mungkin Anda sudah tak lagi melihat "I'm a robot", mungkin Anda juga masih bisa melihatnya. Perlahan semuanya akan beralih ke invisible CAPTCHA.

Baca: Karamel, Captcha Unik Buatan Startup Indonesia

Penulis: Fatimah Kartini Bohang
Editor : Reska K. Nistanto
Sumber: Lifehacker,
TAG: