Kiat Memotret Foto "Cityscape" Memukau Halaman 2 - Kompas.com

Kiat Memotret Foto "Cityscape" Memukau

Oik Yusuf
Kompas.com - 17/03/2017, 19:20 WIB
Yuliandi Kusuma/ Instagram Salah satu foto cityscape Kota Jakarta hasil jepretan Yuliandi Kusuma.

Pilih point of interest

Teknik komposisi yang umum dipakai di fotografi landscape juga berlaku saat memotret cityscape. Yuliandi menganjurkan agar memilih obyek yang bisa menjadi point of interest.

Fungsinya sebagai "jangkar" yang akan menarik mata ketika melihat foto, sebelum mengalihkan pandangan ke bidang lain dalam frame.

"Ini perlu dilakukan untuk memandu pandangan mata saat melihat foto, karena semua hal bakal tampak serupa dari ketinggian," jelas Yuliandi.

 

Sudirman Cityscape 3 ???????????????????????????? #cityscape #jakarta #landscape #urbanscape #urban #rooftop #nightscape

A post shared by yuliandi.land (@yuliandi.land) on Feb 23, 2017 at 7:24pm PST

Fotografer dapat memakai aneka macam obyek sebagai point of interest. Bisa berupa landmark, gedung tertentu yang ditonjolkan, atau bisa juga berupa momen yang menarik seperti ketika suatu daerah tertutup cuaca atau disinari matahari dari sela-sela awan.

Jika memungkinkan, sebaiknya jangan menaruh point of interest di daerah pinggir frame agar tidak tampak miring karena efek distorsi lensa.

Baca: Jokowi Jadi Bahan Uji Coba Kamera Baru Kaesang

Pilih waktu dan tempat yang tepat

Layaknya foto landscape pula, pemilihan tempat dan waktu pemotretan bisa memberikan efek yang sangat kentara pada hasil foto.

Untuk mendapatkan nuansa biru pada langit menjelang malam, pemotretan bisa dilakukan pada "blue hour", yakni saat senja atau pagi hari di mana matahari berada di bawah horizon.

Apabila sudah malam, maka langit akan tampak gelap, sementara pemotretan saat siang hari cenderung datar karena tidak ada nyala lampu.


Untuk mengatasi foto yang warnanya kurang menarik karena faktor waktu atau cuaca kurang mendukung (misalnya sedang mendung), Yuliandi menyarankan agar coba mengubahnya menjadi hitam putih.

"Apabila ingin mendapatkan cahaya lampu maksimal dari gedung-gedung, sebaiknya memoret saat weekday karena lampu gedung cenderung dimatikan malam hari di akhir pekan," kata Yuliandi.

"Akrab" dengan sekuriti

Demi memperoleh foto-foto yang luas dan dramatis dari atap gedung, biasanya diperlukan proses perizinan yang cukup memakan waktu.

Untuk mempermulus urusan ini, Yuliandi menyarankan agar mendekati pihak sekuriti gedung. Tentu, fotografer juga harus berkomitmen untuk menjaga keamanan diri sendiri dan orang lain.

"Ingat-ingat keselamatan dan harus jago melobi satpam," pungkasnya.

Baca: Apa Itu Kamera Mirrorless, Bedanya dengan DSLR?

Page:
PenulisOik Yusuf
EditorDeliusno
Komentar
Close Ads X