Kamis, 30 Maret 2017

Kiat Memotret Foto "Cityscape" Memukau

Yuliandi Kusuma/ Instagram Salah satu foto cityscape Kota Jakarta hasil jepretan Yuliandi Kusuma.

KOMPAS.com - Gedung-gedung tinggi dengan kerlip lampu beraneka rupa, jalanan gemerlap seolah sungai cahaya, dan biru temaram langit senja, pemandangan hutan beton perkotaan saat malam hari memang tak kalah memukau dibanding hutan sungguhan.

Dalam seni visual -termasuk fotografi- penggambaran lanskap urban lazim disebut dengan istilah cityscape. Meski bisa menghasilkan jepretan yang indah, proses pemotretannya pada sore atau malam hari kerap menimbulkan tantangan tersendiri lantaran situasi yang dihadapi.

Bagaimana cara memperoleh foto cityscape yang memukau? Fotografer Yuliandi Kusuma dari Digital Camera Indonesia yang kerap memotret cityscape berbagi sejumlah tips dalam sebuah workshop beberapa waktu lalu. Berikut selengkapnya.

Hati-hati


Advertisment

Pertama dan terutama, menurut Yuliandi, memotret cityscape yang seringkali dilakukan dari ketinggian gedung di area terbuka menuntut kehati-hatian ekstra.

Angin sering berembus kencang, belum lagi faktor cuaca seperti hujan dan petir yang mesti diantisipasi dengan benar untuk menyelamatkan diri sendiri dan peralatan.

Supaya stabil dalam melakukan long exposure di tengah terpaan angin, tripod bisa ditambahi beban seperti tas. Biasanya terdapat kait di bagian pangkal kaki tripod yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan ini.

Long exposure dengan kecepatan rana lama (hitungan beberapa detik atau lebih) diperlukan untuk mengumpulkan cahaya cukup di waktu malam hari. Teknik ini juga membuat benda bergerak seperti awan atau air terlihat mulus, buram karena gerakan alami. Lampu-lampu kendaraan di jalanan pun akan tampak seperti sungai cahaya.

Selain menjaga keselamatan diri, dia mewanti-wanti agar fotografer juga menjaga keamanan orang lain. “Peralatan seperti tripod, atau bahkan tutup lensa mesti dijaga agar jangan sampai jatuh. Bahaya karena bisa mencederai orang yang ada di bawah,” katanya.

Baca: Kamera Mirrorless Tumbuh Pesat di Indonesia

Bawa lensa ultra wide dan superzoom

Yuliandi Kusuma/ Instagram Lensa ultra-wide angle atau fisheye bisa dipakai untuk menangkap pemandangan luas yang dramatis.
Foto pemandangan seperti cityscape biasanya identik dengan sudut pandang lebar lensa ultra-wide yang dramatis. Namun foto tak mesti melulu menggunakan lensa jenis itu.

Yuliandi merekomendasikan untuk turut membawa lensa tele atau superzoom karena ada kalanya obyek atau sepotong pemandangan yang bisa dibingkai lebih indah dengan perspektif tele.

Dia mencontohkan sebuah foto pencakar langit Jakarta yang dilatarbelakangi gunung Salak. Gunung bisa tampak sedemikian dekat atau besar karena efek background compression dari sudut pandang tele.

Yuliandi Kusuma/ Instagram Sebaliknya, lensa tele atau superzoom bisa dipakai untuk fokus ke satu area dan memberi efek background compression yang membuat obyek di latar belakang tampak besar.
"Dengan mengisolasi suatu area, kita bisa mendapat pola yang menarik," tuturnya. “Semakin tinggi, kita bisa memakai lensa superzoom dengan lebih nyaman. Sebaliknya, semakin rendah biasanya lebih enak pakai lensa wide karena lebih luas."

Soal depth of field, tergantung ukuran sensor, biasanya bukaan sekitar F11 sudah cukup untuk mendaptkan ruang tajam yang lebar dari jarak dekat hingga jauh. Tapi tak dilarang pula memakai aperture lebar untuk memainkan efek depth of field/bokeh.

 

 

Blok M ???????????????????????????? #cityscape #jakarta #landscape #urbanscape #urban #rooftop #nightscape #cityview

A post shared by yuliandi.land (@yuliandi.land) on Feb 24, 2017 at 6:15am PST

 Seimbangkan exposure dengan graduated ND filter


Wikimedia Commons Filter graduated ND memiliki sebagian permukaan berwarna gelap untuk mengurangi tingkat kecerahan di lokasi tersebut, biasanya untuk area langit.
Salah satu tantangan dalam fotografi landscape (juga cityscape) adalah menyeimbangkan exposure langit dan obyek-obyek di darat. Kedua area ini kerap memiliki perbedaan exposure yang sangat kentara, terutama ketika matahari belum sepenuhnya terbenam.

Ketika exposure langit pas, exposure ground bisa underexposed sehingga gelap. Begitu juga sebaliknya, ketika mengatur exposure yang pas untuk ground, bagian langit bisa overexposed sehingga kelewat terang.

Untuk mengakali hal tersebut, aksesori yang lazim dipakai adalah filter graduated ND. Filter ini mengurangi cahaya di bagian atas frame saja (langit) sampai batasan tertentu. Graduated ND tersedia dalam berbagai macam jenis, tergantung tingkat kekuatan pengurangan cahaya dan gradasi di batas area terang dan gelap.

 

Tiffen Contoh perbandingan foto yang diambil dengan dan tanpa filter graduated ND, dari pabrikan filter Tiffen.

Oik Yusuf/ KOMPAS.com Tool Graduated Filter di tab Develop Adobe Lightroom, sisi kanan antarmuka. Fungsinya mirip filter graduated ND. Parameter yang bisa diatur bukan hanya perbedaan exposure saja, melainkan juga temperatur warna, highlights, shadows, kontras, dan lain-lain.
Software pengolah gambar seperti Adobe Lightroom juga menyediakan tool “Graduated Filter” yang memiliki fungsi mirip filter graduated ND, meski efektivitasnya terbatas karena berbasis manipulasi software.

Semakin luas rentang dynamic range kamera, semakin luas pula rentang tone yang bisa ditangkap mulai dari area gelap hingga area terang sehingga mempermudah pengaturan exposure saat editing. Biasanya, semakin besar sensor kamera, maka semakin luas pula rentang dynamic range.

Baca: Pasaran Kamera Terjun Bebas karena Smartphone

 

 

 

 

Pilih point of interest

Teknik komposisi yang umum dipakai di fotografi landscape juga berlaku saat memotret cityscape. Yuliandi menganjurkan agar memilih obyek yang bisa menjadi point of interest.

Fungsinya sebagai "jangkar" yang akan menarik mata ketika melihat foto, sebelum mengalihkan pandangan ke bidang lain dalam frame.

"Ini perlu dilakukan untuk memandu pandangan mata saat melihat foto, karena semua hal bakal tampak serupa dari ketinggian," jelas Yuliandi.

 

Sudirman Cityscape 3 ???????????????????????????? #cityscape #jakarta #landscape #urbanscape #urban #rooftop #nightscape

A post shared by yuliandi.land (@yuliandi.land) on Feb 23, 2017 at 7:24pm PST

Fotografer dapat memakai aneka macam obyek sebagai point of interest. Bisa berupa landmark, gedung tertentu yang ditonjolkan, atau bisa juga berupa momen yang menarik seperti ketika suatu daerah tertutup cuaca atau disinari matahari dari sela-sela awan.

Jika memungkinkan, sebaiknya jangan menaruh point of interest di daerah pinggir frame agar tidak tampak miring karena efek distorsi lensa.

Baca: Jokowi Jadi Bahan Uji Coba Kamera Baru Kaesang

Pilih waktu dan tempat yang tepat

Layaknya foto landscape pula, pemilihan tempat dan waktu pemotretan bisa memberikan efek yang sangat kentara pada hasil foto.

Untuk mendapatkan nuansa biru pada langit menjelang malam, pemotretan bisa dilakukan pada "blue hour", yakni saat senja atau pagi hari di mana matahari berada di bawah horizon.

Apabila sudah malam, maka langit akan tampak gelap, sementara pemotretan saat siang hari cenderung datar karena tidak ada nyala lampu.


Untuk mengatasi foto yang warnanya kurang menarik karena faktor waktu atau cuaca kurang mendukung (misalnya sedang mendung), Yuliandi menyarankan agar coba mengubahnya menjadi hitam putih.

"Apabila ingin mendapatkan cahaya lampu maksimal dari gedung-gedung, sebaiknya memoret saat weekday karena lampu gedung cenderung dimatikan malam hari di akhir pekan," kata Yuliandi.

"Akrab" dengan sekuriti

Demi memperoleh foto-foto yang luas dan dramatis dari atap gedung, biasanya diperlukan proses perizinan yang cukup memakan waktu.

Untuk mempermulus urusan ini, Yuliandi menyarankan agar mendekati pihak sekuriti gedung. Tentu, fotografer juga harus berkomitmen untuk menjaga keamanan diri sendiri dan orang lain.

"Ingat-ingat keselamatan dan harus jago melobi satpam," pungkasnya.

Baca: Apa Itu Kamera Mirrorless, Bedanya dengan DSLR?

Page:

Penulis: Oik Yusuf
Editor : Deliusno
TAG: