Sudah Distop, Windows XP Diperbarui Lagi Gara-gara Virus WannaCry - Kompas.com

Sudah Distop, Windows XP Diperbarui Lagi Gara-gara Virus WannaCry

Deliusno
Kompas.com - 15/05/2017, 18:48 WIB
Microsoft Logo booting Windows XP

KOMPAS.com - Microsoft mengambil langkah tidak biasa dalam menghadapi ancaman ransomware WannaCry. Raksasa software tersebut memutuskan merilis patch atau penambal celah keamanan untuk Windows XP, sistem operasi lawas yang telah dihentikan dukungannya, bagi semua konsumen.

Langkah ini dinilai tidak biasa. Pasalnya, Microsoft biasanya menagihkan biaya tertentu untuk menghadirkan dukungan tambahan hanya bagi perusahaan yang menggunakan Windows lawas, seperti Windows XP.

"Melihat bisnis dan individu terdampak serangan cyber, seperti yang dilaporkan hari ini (WannaCry), sangat menyakitkan," ujar Microsoft, sebagaimana KompasTekno rangkum dari The Verge, Senin (15/5/2017).

"Kami mengambil langkah yang sangat tidak biasa dengan menghadirkan pembaruan keamanan bagi semua konsumen untuk melindungi platform Windows yang termasuk dalam dukungan tambahan saja, termasuk Windows XP, Windows 8, dan Windows Server 2003," imbuh tim Microsoft.

Microsoft sendiri telah menghentikan dukungan terhadap Windows XP sejak tahun 2014 lalu. Penghentian dukungan ini termasuk tidak dirilisnya lagi update dari keamanan OS tersebut.

Sebagaimana diinformasikan oleh blog tersebut, Windows lawas yang bisa mendapat pembaruan keamanan spesial ini di antaranya adalah Windows Server 2003 SP2, Windows XP SP2, Windows XP SP3, Windows XP Embedded SP3, dan Windows 8. Semua versi tersebut sudah termasuk versi x86 dan x64.

Pembaruan tersebut bisa didapatkan melalui tautan berikut ini.

WannaCry merupakan ransomware versi baru yang dibuat dengan memanfaatkan tool senjata cyber milik dinas intel Amerika Serikat, NSA, yang pada April lalu dicuri dan dibocorkan oleh kelompok hacker Shadow Broker.

Begitu berhasil menginfeksi komputer, WannaCry akan mengunci data dan sistem dengan enkripsi sehingga tidak bisa diakses. Ransomware ini kemudian meminta “tebusan” senilai Rp 4 juta dalam bentuk mata uang virtual Bitcoin yang transaksinya tidak bisa dilacak.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisDeliusno
EditorReska K. Nistanto
SumberThe Verge,
Komentar
Close Ads X