Facebook Pakai Kecerdasan Buatan untuk Perangi Terorisme - Kompas.com

Facebook Pakai Kecerdasan Buatan untuk Perangi Terorisme

Fatimah Kartini Bohang
Kompas.com - 17/06/2017, 17:17 WIB
TRIBUNNEWS/HERUDIN Warga dan anggota Ormas melakukan aksi solidaritas mengecam aksi teror, di depan Gedung Cakrawala, Jakarta Pusat, Jumat (15/1/2016). Aksi yang bertemakan #KAMITIDAKTAKUT menyerukan persatuan diantara masyarakat Indonesia untuk tidak takut aksi terorisme. Aksi solidaritas diisi dengan meletakkan bunga di depan lokasi kejadian teror.

KOMPAS.com - Aksi teroris atau pelaku teror semakin sering terdengar belakangan ini. Facebook sebagai platform jejaring sosial yang kerap menjadi wadah sosialisasi oknum teroris merasa bertanggung jawab untuk mencari solusi atas permasalahan ini.

Dalam postingan terbaru Facebook di laman Newsroom-nya, layanan tersebut mengumbar beberapa inisiatif untuk memberantas aksi terorisme. Selain bekerja sama dengan berbagai pihak dan merekrut tenaga kerja khusus untuk mengidentifikasi gejala terorisme di Facebook, layanan tersebut juga memanfaatkan teknologi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

“Kami ingin mencari konten berbau terorisme secara cepat, sebelum para pengguna Facebook melihatnya,” begitu tertera pada Newsroom Facebook, sebagaimana dihimpun KompasTekno, Sabtu (17/6/2017).

Baca: Facebook Ingin Bantu Perangi Teroris

Ada empat teknologi Facebook berbasis AI yang saat ini dikerahkan untuk membasmi penyebaran konten terorisme di lamannya, sebagai berikut.

Pertama, Image Matching. Teknologi ini memungkinkan foto atau video berbau terorisme teridentifikasi sebelum benar-benar terunggah. Tool Facebook mempelajari foto-foto dan video radikal berbau propaganda dari ISIS yang telah dihapus Facebook.

Dari situ, tool akan melacak setiap foto dan yang hendak diunggah pengguna. Jika mirip dengan konten-konten radikal yang telah dihapus sebelumnya, maka Facebook tak akan mengizinkan pengguna mengunggahnya.

“Artinya, konten teroris yang hendak diunggah ke Facebook tak akan bisa terunggah,” kata perwakilan Facebook.

Kedua, Language Understanding. AI Facebook juga mampu memahami teks yang merujuk ke ajakan atau advokasi untuk melakukan aksi terorisme. Lagi-lagi, teknologi ini belajar dari teks-teks yang sebelumnya diunggah ISIS dan organisasi radikal lainnya di Facebook dan telah diberantas.

“Ada algoritma yang mempelajari dan mengidentifikasi secara cepat postingan teks berbau terorisme. Makin lama, algoritma itu akan semakin pintar,” kata Facebook.

Ketiga, menghapus afiliasi teroris. Facebook menggunakan signal untuk menemukan akun yang berteman dengan akun-akun para teroris sebelumnya. Jika akun tersebut memasang profil atau mengunggah postingan berbau ajakan terorisme, akun itu juga akan dihapus.

Sama pula dengan akun Pages dan Groups. Jika teridentifikasi berafiliasi dengan gerakan terorisme, maka akan disapu bersih dari jagat Faceboook.

Keempat, menghapus residivisme atau akun pengulangan. Facebook mengklaim teknologi AI yang dikembangkan semakin pintar dan cerdas mengidentifikasi akun-akun palsu baru berbau terorisme.

Akun-akun palsu itu biasanya dibuat oleh para teroris atau oknum terkait yang sudah dihapus Facebook lantas mau coba masuk kembali. Facebook mengakui para teroris semakin cerdas dan penuh taktik untuk mengelabui sistem.

“Kami pun akan terus memperbarui taktik kami untuk mengelabui para oknum teroris,” Facebook menuturkan.

Terakhir, kolaborasi lintas platform. Tak cuma di layanan inti Facebook, tool AI pembasmi aksi terorisme juga dibawa ke WhatsApp dan Instagram. Semua data berbau terorisme yang sempat wara-wiri di tiga platform tersebut akan dipakai sebagai bahan belajar AI agar lebih cerdas.

“Kolaborasi dari seluruh anggota keluarga (Facebook, Instagram, WhatsApp) sangat diperlukan untuk menjaga agar semua platform tetap aman,” Facebook memungkasi.

Baca: Ramai Status Teks Berlatar Foto di Facebook, Cara Mencobanya?

PenulisFatimah Kartini Bohang
EditorDeliusno
Sumbernewsroom fb,
Komentar
Close Ads X