"Cinta untuk Membenci" Jadi Alasan Susah Tinggalkan Facebook? Halaman 1 - Kompas.com

"Cinta untuk Membenci" Jadi Alasan Susah Tinggalkan Facebook?

Fatimah Kartini Bohang
Kompas.com - 17/07/2017, 13:08 WIB
Ilustrasi Facebook mobileFB Ilustrasi Facebook mobile

KOMPAS.com - Layanan jejaring sosial Facebook saat ini disesaki lebih dari 2 miliar pengguna aktif bulanan (monthly active users). Angka itu lebih besar ketimbang total penduduk China, Amerika Serikat, Meksiko, dan Jepang jika dijumlahkan.

Menurut laporan penelitian dari The Centre for Research in Education and Educational Technology (CREET), ada alasan Facebook begitu digandrungi dan sulit ditinggalkan, walau di dalamnya terkadang menghimpun pesan-pesan kebencian.

Jika merujuk pada tujuan CEO Facebook, Mark Zuckerberg, platform tersebut sejatinya bertujuan memberikan kekuatan bagi khalayak untuk membangun komunitas dan membawa dunia lebih dekat.

Caranya dengan menghubungkan semua orang di seluruh penjuru dunia dengan memanfaatkan internet, tanpa ada halangan jarak dan waktu.

Baca: Penduduk Tembus 2 Miliar, Facebook Masih Jadi Medsos Terbesar

Tapi, kenyataannya Facebook menunjukkan bentuk yang lebih kompleks dari tujuan ideal Zuckerberg. Survey dari CREET yang melibatkan lebih dari 100 pengguna Facebook menunjukkan fakta unik.

Cinta untuk membenci

Mayoritas pengguna Facebook tetap menggunakan platform tersebut dan terkoneksi dengan orang-orang yang sering membuat mereka kesal atau tersinggung, sebagaimana dihimpun KompasTekno, Senin (17/7/2017), dari penelitian CREET yang dilaporkan TheNewxtWeb.

Dengan kata lain, Facebook merefleksikan dinamika perasaan dan emosional atas hubungan manusia dengan sesamanya. Terkadang semakin manusia membenci seseorang, semakin cinta dan ingin rasanya mengetahui hal-hal yang dilakukan orang itu.

Inilah salah satu alasan yang membuat seseorang susah untuk lepas dari Facebook.

Hal-hal yang kerap membuat seseorang tersinggung adalah postingan teman yang mengutarakan opini ekstrem atau pendapat politik yang kuat. Misalnya berkaitan dengan rasisme, homofobia, atau pandangan politik.

Selain itu, sindiran-sindiran tanpa tujuan alias no mention di Facebook juga kerap membuat orang-orang di Facebook tersinggung.

Misalnya si A menyindir orang-orang yang oversharing di Facebook, maka sejatinya si C, D, E, F, G, hingga Z, berpotensi tersinggung dan merasa merekalah yang disindir. Padahal, belum tentu demikian.

Istilah oversharing sendiri merujuk ke orang-orang di media sosial yang terlalu rajin membagikan momen-momen keseharian atau promosi diri.

Indikator untuk orang yang bisa disebut “oversharing” ini tak jelas dan sangat relatif, sehingga siapa saja bisa menganggap orang lain oversharing atau merasa terkena sindiran oversharing.

Page:
PenulisFatimah Kartini Bohang
EditorReska K. Nistanto

Komentar