Menghitung Biaya Sebelum Memulai Hobi Kamera Analog - Kompas.com

Menghitung Biaya Sebelum Memulai Hobi Kamera Analog

Deliusno
Kompas.com - 07/08/2017, 17:06 WIB
Contoh kamera film modern. Dari kiri ke kanan: Leica M7 (rangefinder), Nikon FM10 (SLR), dan Polaroid 600 (kamera instan).Leica, Nikon, Polaroid Contoh kamera film modern. Dari kiri ke kanan: Leica M7 (rangefinder), Nikon FM10 (SLR), dan Polaroid 600 (kamera instan).

KOMPAS.com - Hadirnya kamera digital membuat popularitas kamera film semakin menurun. Kamera digital lebih dipilih karena lebih praktis dan ringkas. Meski demikian, masih ada peminat kamera film di era digital ini.

Berbeda dari kamera film, pengguna kamera digital tidak perlu mencetak untuk melihat hasil jepretan. Jika tak suka dengan hasilnya, pengguna bisa langsung menghapus gambar.

Pengguna kamera digital pun tidak perlu menyiapkan tempat khusus untuk menyimpan hasil cetakan foto. Hasil jepretan bisa disimpan di komputer, kartu memori, atau di kamera itu sendiri.

Dengan kemudahan yang ditawarkan kamera digital, kamera film pun mulai ditinggalkan. Para produsen kamera film pun perlahan mulai beralih membuat kamera digital. Pembuatan roll film pun banyak disetop.

Namun, kamera film tak serta-merta mati. Segelintir orang masih tetap suka menjepret dengan medium analog ini. Belakangan, kamera film malah kembali naik daun dan kembali digunakan, khususnya oleh anak-anak muda.

Baca: Istilah-istilah Kamera Analog yang Perlu Diketahui

Sebuah survei yang dilakukan pada 2015 oleh Ilford Photo, salah satu pabrikan kamera film asal Inggris, menunjukkan bahwa 60 persen pengguna kamera film baru mulai memakai medium tersebut dalam waktu lima tahun terakhir. Sebanyak 30 persen dari mereka berumur di bawah 35 tahun.

Itu artinya, Anda masih belum terlambat untuk mengikuti tren kamera analog ini. Lantas, perangkat apa saja yang dibutuhkan untuk tren tersebut?

Kamera analog

Salah satu "senjata" yang dibutuhkan untuk memulai hobi kamera 35 mm tentunya adalah kamera itu sendiri. Beberapa orang masih memiliki kamera film di rumah, mungkin warisan atau pernah digunakan orangtua.

Jadi, sebelum memutuskan untuk membeli kamera film, coba tanyakan terlebih dahulu ke orang-orang di rumah. Siapa tahu, masih ada kamera jenis analog ini.

Apabila tidak ada, kamera analog ini banyak dijual di Indonesia. Anda bisa mencari dan mendapatkan kamera analog melalui toko online atau media sosial, seperti Instagram.

Yang harus diingat, sebagian besar, bahkan semua produk yang dijual sudah merupakan produk bekas. Jika ingin membeli, harap perhatikan terlebih dulu kondisi perangkat, jangan langsung membeli karena harganya yang murah.

Ada dua jenis kamera film yang bisa ditemukan saat ini, yakni kamera poket dan SLR (bisa digonta-ganti lensanya). Berikut beberapa kamera analog yang KompasTekno temukan di Instagram.

Informasi ini bisa memberikan sedikit gambaran harga kamera analog atau kamera film di Indonesia.

Kamera poket

- Olympus Superzoom 110: Rp 300.000
- Olympus Stylus 140: Rp 450.000
- Olympus XB 700: Rp 300.000
- Olympus MJU III 150: Rp 700.000
- Canon WP-1: Rp 950.000

- MJU I f3.5: Rp 1.250.000
- Fujifilm DL-7: Rp 258.000

SLR

- Nikon FM10: Rp 650.000
- Nikon FM2: mulai Rp 2 juta
- Nikomat FT2: Rp 3,3 juta
- Nikon EM: Rp 1,2 juta
- Yashica FX-3: Rp 575.000 hingga Rp 875.000
- Canon QL GIII: Rp 575.000 hingga Rp 659.000

Harga-harga di atas hanya sebagai gambaran. Harga bisa berbeda tergantung dengan kondisi kamera analog atau kamera film itu sendiri.

Harga film

Untuk mengetahui lebih lanjut soal apa dan bagaimana menggunakan kamera film, silahkan kunjungi tautan berikut ini: Berkenalan dengan Kamera Film yang Kembali Digandrungi di Indonesia

Film-film memang memiliki tanggal expired (basi). Beberapa pengguna ada yang mencari film yang sudah basi, tujuannya untuk menghasilkan efek jadul di foto.

Ada juga yang berjeniskan film berwarna dan juga hitam-putih.

- Kodak Ektar 100: Rp 113.000 hingga Rp 120.000 per roll

- Kodak Gold 200: Rp 70.000

- Kodak Pro Image 100: Rp 38.000 per roll

- Kodak T-Max 400: Rp 110.000 per roll

- Kodak ColorPlus 200: Rp 50.000 per roll

- Kodak Ultramax 400: Rp 100.000

- Ilford XP2 Super 400: Rp 115.000 per roll

- Ilford FP4 Plus: Rp 100.000 per roll

- Ilford HP5 Plus: Rp 70.000 hingga Rp 100.000 per roll

- Fujifilm Superia 200: Rp 65.000

- Fuji Superia X-TRA 400: Rp 75.000 per roll

- Fuji Superia X-TRA 800: Rp 65.000 per roll

- Fujicolor C200: Rp 55.000 per roll (isi 1)

Film-film di atas memiliki tanggal kadaluarsanya masing-masing. Harap diperhatikan sebelum membeli. Namun, ada juga pengguna yang sengaja membeli film yang sudah kadaluarsa. Ini dilakukan untuk membuat efek warna yang tak terkendali.

Selain membeli di pusat-pusat kamera, film-film tersebut juga bisa dibeli melalui situs jual beli online di Indonesia, akun-akun Instagram, dan sebagainya.

Tarif cuci cetak

Tarif cetak film tentunya memiliki tarif yang berbeda, tergantung dari jenis film yang akan dicetak. Menurut pantauan KompasTekno, harga dari cuci cetak film dimulai dari Rp 50.000 hingga Rp 120.000 per roll.

Baca: Era Digital, Kenapa Anak Muda Kembali ke Kamera Analog?


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisDeliusno
EditorReska K. Nistanto
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM