Milenial Pilih Belajar Bahasa Pemrograman Ketimbang Mandarin - Kompas.com

Milenial Pilih Belajar Bahasa Pemrograman Ketimbang Mandarin

Fatimah Kartini Bohang
Kompas.com - 15/09/2017, 15:20 WIB
Tidak kurang 30 anak-anak, Sabtu (8/10) belajar membuat game dengan metode bermain game. Ini diharapkan menjadi pintu masuk untuk memahami bahasa pemrograman komputer yang menjadi dasar logika digital di era masyarakat informasi. Kompas/Ingki RinaldiKompas/Ingki Rinaldi Tidak kurang 30 anak-anak, Sabtu (8/10) belajar membuat game dengan metode bermain game. Ini diharapkan menjadi pintu masuk untuk memahami bahasa pemrograman komputer yang menjadi dasar logika digital di era masyarakat informasi. Kompas/Ingki Rinaldi

KOMPAS.com - Sebanyak 72 persen milenial mengatakan lebih penting belajar bahasa pemograman “Phyton” ketimbang Mandarin. Setidaknya begitu hasil survei bank investasi global Goldman Sachs terhadap 2.000-an milenial berusia 20 hingga 21 tahun yang berasal dari Asia, Amerika, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika.

Setiap tahun Goldman Sachs membuka kesempatan magang untuk ribuan anak muda dari seluruh penjuru dunia. Tahun ini perunding andal Wall Street tersebut sekaligus melakukan survei.

Para milenial ditanya tentang hal-hal keseharian, mulai dari media sosial yang paling disukai, kebiasaan menghabiskan duit, hingga proyeksi masa depan.  

Secara garis besar para milenial optimis akan masa depan yang lebih cerah. Mereka melihat ada kesempatan besar bagi pemerintah dan komunitas masyarakat untuk bekerja sama mewujudkannya.

Baca: Apple Store Bakal Dirancang Jadi Tempat Nongkrong Milenial

Mereka juga sadar tentang pentingnya pengembangan teknologi untuk mewujudkan dunia yang lebih baik. Oleh karena itu, mereka merasa penting untuk mengetahui soal pemrograman dasar ketimbang mempelajari bahasa. 

Sebanyak 85 persen mengatakan artificial intelligence dan machine learning bakal memberikan pengaruh global paling signifikan. Sekitar 47 persen mengatakan cybercrime bakal menjadi dampak pengembangan teknologi yang dominan, serta 43 persen merujuk pada perubahan iklim alias climate change.

Di sosial media, lima akun yang paling banyak mereka follow adalah “ESPN”, “Lloyd Blankfein”, “Elon Musk”, “National Geographic”, dan “Donald Trump”. Sementara itu, 30 persen mengaku sebagai pecinta Facebook, 27 persen WhatsApp, 17 persen Snapchat, dan 8 persen Instagram, sebagaimana dihimpun KompasTekno, Jumat (15/9/2017) dari BusinessInsider.

Gaya hidup dan target masa depan

Para milenial juga menjadikan gaya hidup sehat sebagai tren. Sebanyak 36 persen menghabiskan waktu senggang untuk fitnes.

Ada 22 persen yang memilih menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman, 20 persen memprioritaskan tidur, sisanya untuk merilekskan badan dan pikiran.

Sebanyak 83 persen menargetkan punya rumah di usia 40 tahun. Ini berbanding tipis dengan 82 persen yang cita-citanya adalah menikah dan berkembang bersama pasangan. Tak kurang dari 76 persen memiliki impian membesarkan anak, semetara 63 persen berharap bisa membeli mobil sendiri di usia 30 tahun.

Orientasi terhadap masa depan bukan cuma terlihat dari target-target tersebut, tapi juga kebiasaan menabung. Sebanyak 66 persen mengaku bakal menyimpan atau berinvestasi jika diberikan duit 1.000 dollar AS atau Rp 13 jutaan. Cuma 15 persen yang mengatakan bakal berlibur, 11 persen membayar utang, serta 7 persen membeli barang spesial.

Terkait kebiasaan menghamburkan duit, 41 persen mengatakan sudah menyisihkan duit bulanan untuk ditabung. Sebanyak 34 persen memprioritaskan untuk menabung sebanyak mungkin, sementara 25 persen fokus untuk membayar debit bukan menabung.

Perlu digarisbawahi, survei ini memang mengambil sampel dari berbagai negara namun tak bisa serta-merta dianggap mewakili keseluruhan milenial. Ada latar belakang sosial dan pendidikan yang membedakan pilihan dan pemikiran setiap orang.

PenulisFatimah Kartini Bohang
EditorDeliusno
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM