CEO Go-Jek Bicara soal IPO dan Masa Depan Go-Pay - Kompas.com

CEO Go-Jek Bicara soal IPO dan Masa Depan Go-Pay

Fatimah Kartini Bohang
Kompas.com - 08/12/2017, 14:12 WIB
Pendiri GO-JEK Indonesia Nadiem Makarim dalam rapat terbatas tentang Pendidikan Vokasi dan Implementasinya di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Kamis (16/11/2017). Presiden berharap agar pembangunan pendidikan di Indonesia dapat relevan dengan perubahan dunia terutama pada bidang teknologi digital.ANTARA FOTO/ROSA PANGGABEAN Pendiri GO-JEK Indonesia Nadiem Makarim dalam rapat terbatas tentang Pendidikan Vokasi dan Implementasinya di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Kamis (16/11/2017). Presiden berharap agar pembangunan pendidikan di Indonesia dapat relevan dengan perubahan dunia terutama pada bidang teknologi digital.

KOMPAS.com - Layanan ride-sharing Go-Jek berencana menawarkan saham ke publik alias initial public offering (IPO). Hal ini dikemukakan CEO Go-Jek, Nadiem Makarim, dalam sebuah acara konferensi di Jakarta.

“Kami tentu saja akan IPO,” ujarnya. Kendati begitu, ia mengatakan belum akan merealisasikan rencana itu dalam waktu dekat.

“Semoga dalam beberapa tahun ke depan,” ia menambahkan.

Go-Jek yang tadinya fokus di bisnis transportasi online kini bertransformasi lintas sektor. Melalui fitur Go-Food, Go-Jek menciptakan raksasa pengiriman makanan terbesar di Indonesia.

Fitur-fitur lainnya seperti Go-Mart Go-Send, Go-Tix, Go-Box, hingga yang tergabung dalam Go-Life (Go-Clean, Go-Glam, dll), mampu mengubah hidup masyarakat modern menjadi lebih praktis dan efisien.

Baca juga: CEO Go-Jek Berambisi Jadikan Go-Pay Platform Transaksi Masa Depan

Apalagi Go-Jek memiliki dompet digital Go-Pay yang mempermudah transaksi pengguna. Tak perlu lagi ribet membawa duit fisik ke mana-mana.

Fokus kembangkan Go-Pay

Ke depan, kata Nadiem Makarim, tujuan Go-Jek adalah memungkinkan pengguna membayar hal-hal lain di luar ekosistem layanannya dengan menggunakan Go-Pay. Dengan begitu, cakupan pemakaian Go-Pay bisa lebih luas dan lintas kalangan.

“2018 akan jadi tahunnya Go-Pay,” kata Nadiem Makarim, sebagaimana dihimpun KompasTekno, Jumat (8/12/2017) dari Bloomberg.

Baca juga: Go-Pay Bakal Dibuka untuk Merchant di Luar Go-Jek

Untuk itu, Go-Jek terus menggencarkan kerja sama dengan merchant offline maupun online di Indonesia sehingga Go-Pay bisa diterima. Cita-cita besarnya menciptakan masyarakat cashless.

“Kami ingin melihat orang-orang Indonesia berjalan-jalan, mengambil Go-Jek untuk moda transportasi keliling kota tanpa memikirkan apakah mereka bawa dompet atau tidak,” ia menjelaskan.

Kompetisi sengit

Kompetisi layanan pembayaran digital di Indonesia mulai gesit. Salah satu yang paling head-to-head dengan GoPay adalah GrabPay karena sama-sama berasal dari layanan ride-sharing.

Kendati begitu, T-Cash milik Telkomsel dan TokoCash milik Tokopedia juga sedang gencar memicu masyarakat Indonesia beralih ke dompet digital. Pemain-pemain ini berlomba menjadi layanan pembayaran digital terbesar di Tanah Air.

Menanggapi hal ini, Nadiem Makarim mengatakan tantangan terbesarnya adalah tak memiliki sumber daya yang cukup untuk mengeksekusi ambisi-ambisi Go-Jek.

“Dulu tantangan kami adalah kompetisi, tapi sekarang sudah tidak,” kata dia.

Indonesia sendiri menempati urutan keempat sebagai negara berpopulasi terpadat dengan masyarakat muda dan melek teknologi alias tech-savvy. Ironisnya, Indonesia adalah negara kedua dengan ketergantungan terbesar pada duit kas menurut World Bank.

PenulisFatimah Kartini Bohang
EditorReska K. Nistanto
SumberBloomberg
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM