12 Tahun Merugi, Twitter Akhirnya Untung - Kompas.com

12 Tahun Merugi, Twitter Akhirnya Untung

Kompas.com - 09/02/2018, 13:29 WIB
CEO Twitter, Jack Dorsey.ist CEO Twitter, Jack Dorsey.

KOMPAS.com - Setelah dua belas tahun merugi, Twitter akhirnya menunjukkan angka positif. Pada kuartal pertama 2018, jejaring sosial berlogo Burung Biru itu membukukan penghasilan 91 juta dollar AS (sekitar Rp 1,2 triliun).

Kenaikan ini mulai tampak sejak tiga bulan terakhir pada penghujung tahun 2017. Selain kenaikan pendapatan, Twitter juga mengalami kenaikan harga saham hingga 16 persen.

Meski mencatat keuntungan dalam jumlah cukup besar, pemasukan Twitter hanya tumbuh sekitar 2 persen dibanding tahun lalu.

Jumlah ini cukup masuk akal lantaran pengguna Twitter tahun 2017 hanya meningkat sebanyak 4 persen. Artinya, Twitter mempertahankan jumlah pengguna per bulan di angka 330 juta.

Berkat pemangkasan biaya

Mengakali hal tersebut, Twitter banyak melakukan sejumlah terobosan bisnis. Antara lain memotong sejumlah biaya guna mendapatkan keuntungan lebih.

Adapun biaya yang dipotong oleh Twitter meliputi kompensasi berbasis saham sebagai bagian dari gaji karyawan, riset dan pengembangan, dan penjualan pemasaran.

Pada kuartal IV 2016, Twitter membakar uang 138 juta dollar AS (sekitar Rp 1,8 triliun) untuk kompensasi berbasis saham. Sedangkan pada kuartal IV 2017, Twitter hanya menghabiskan 102 juta dollar AS (Rp 1,3 triliun). Penghematan terjadi hingga 26 persen.

Sedangkan untuk dana riset dan pengembangan, Twitter menghabiskan uang hingga 202 juta dollar AS (sekitar Rp 2,7 triliun) pada kuartal IV 2016. Pada Kuartal IV 2017, dana yang dihabiskan hanya 134 juta dolar AS (sekitar Rp 1,8 triliun). Hemat hingga 35 persen.

Sedangkan untuk biaya penjualan dan pemasaran, Twitter menghabiskan biaya hingga 163,5 juta dollar AS (sekitar Rp 2,2 triliun ). Di tahun sebelumnya, Twitter menghabiskan dana hingga 223 juta dollar AS (Sekitar Rp 3 triliun). Turun hingga 30 persen.

Selain melakukan pemangkasan anggaran, Twitter juga memperkuat portofolio bisnisnya. Tahun 2017, Twitter menutup sejumlah fitur pemasaran seperti Tellapart. Artinya, pendapatan Twitter saat ini murni berasal dari fitur aktif yang banyak digunakan pelanggan.

Dikutip KompasTekno dari Recode, Jumat (9/2/2018), CEO Twitter Jack Dorsey menyatakan bahwa ia tidak akan menargetkan profit tinggi untuk Twitter tahun depan. Sebab Dorsey lebih menekankan pada pertumbuhan perusahaan.

"Investasi kami bertujuan untuk mencapai pertumbuhan di tahun 2018 serta pengeluaran yang selaras dengan pendapatan dalam waktu satu tahun," ujarnya.


Komentar
Close Ads X