Internet Akan Macet Berat

Zaman Internet,

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Invalid argument supplied for foreach()

Filename: views/read_view.php

Line Number: 108

    A PHP Error was encountered

    Severity: Notice

    Message: Trying to get property of non-object

    Filename: views/read_view.php

    Line Number: 156

    A PHP Error was encountered

    Severity: Warning

    Message: Invalid argument supplied for foreach()

    Filename: views/read_view.php

    Line Number: 156

    A PHP Error was encountered

    Severity: Notice

    Message: Trying to get property of non-object

    Filename: views/read_view.php

    Line Number: 163

    A PHP Error was encountered

    Severity: Warning

    Message: Invalid argument supplied for foreach()

    Filename: views/read_view.php

    Line Number: 163


Rabu, 23 April 2008 | 21:03 WIB

Oleh NINOK LEKSONO

"Internet sekarang ini rawan. Bukan karena ia akan kolaps, tetapi karena banyak peluang akan hilang." (Robert Metcalfe, "entrepreneur" dan pelopor jaringan, seperti dikutip Steve Lohr/IHT (13/3/2008)

Internet, yang semula diciptakan untuk tujuan militer, kini semakin menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Kegandrungan orang terhadap internet menyebabkan pemanfaatannya pun melonjak drastis. Oleh sebab perkembangan amat cepat ini, kini muncul kekhawatiran baru bahwa medium ini akan dilanda kemacetan parah.

Berbagai kalangan sepandangan, ancaman kemacetan berasal dari melonjaknya desain visual yang kaya pada komunikasi dan hiburan online - yang mewujud pada klip video dan film, jaringan sosial/komunitas, dan game multipemain.

Seperti dilaporkan Steve Lohr di International Herald Tribune (14/3/2008), citra bergerak (moving image) di internet--dengan ukuran jauh melebihi kata-kata--merupakan bit digital yang melewati pipa dan gerbang internet, dan itu membutuhkan pita komunikasi (bandwidth) lebih banyak. Tahun lalu saja, situs video YouTube mengonsumsi bandwidth yang banyaknya sama dengan seluruh bandwidth yang dikonsumsi internet pada tahun 2000.

Bulan November silam, satu lembaga riset memproyeksikan bahwa permintaan penggunaan internet akan melebihi kapasitas jaringan yang ada pada tahun 2011. Atas dasar itu pula, judul perdebatan dalam konferensi teknologi yang berlangsung di Boston pada bulan April ini mencerminkan kekhawatiran yang ada, yakni "Akhir Internet?"

Sebelum ini sudah ada ramalan dari Deloitte Touche Tohmatsu yang menyebutkan bahwa internet akan kehabisan kapasitas pada tahun 2007. Deloitte menyatakan, "Internet sering dianggap sebagai sumber daya tak terbatas. Sayangnya, tidak demikian, dan di sejumlah bagian dunia, penggunaannya tampak mendekati kapasitas total yang ada pada tahun 2007." (Greg Goth, IEEE Internet Computing/PaperPicker.worldpress.com, 5/07)

Lebih jauh ditambahkan, "Pertumbuhan tak henti-henti trafik internet selama tahun 2007 akan meruntuhkan sejumlah tulang punggung internet: pipa-pipa berkapasitas terabit yang menghubungkan benua-benua."

Ada juga eksperimen laboratorium yang dilakukan (oleh Daniel Friedman dari Universitas California) dan Bernardo Huberman (dari Laboratorium Hewlett-Packard California) untuk meneliti kemacetan internet (www.hpl.hp.co.uk/2004).

Melambat

Pada sisi lain, para ahli mencoba menenteramkan pengguna bahwa pelonjakan trafik tidak akan menyebabkan terjadinya bencana crash, tetapi hanya berupa pelambatan kecepatan pengunduhan (download). Frustrasi juga diramalkan muncul karena layanan dengan data tinggi tidak lagi menyenangkan.

Memang ada kemajuan dalam teknologi penanganan trafik internet. Komputer router relay data makin cepat, transmisi serat optik makin baik, dan perangkat lunak untuk mengolah paket data bertambah pintar.

Sekadar catatan, pertumbuhan dan tuntutan yang ada di internet terkait dengan munculnya inovasi, bisnis, pasar, dan lapangan kerja baru. Diingatkan bahwa bangsa yang tidak melakukan investasi di sektor ini akan kalah dengan mereka yang menjadikan internet berkecepatan sebagai prioritas.

Menurut Odlyzko, dari internet berkecepatan tinggilah akan muncul inovasi dari Google, YouTube, eBay, atau Amazon berikut.

Menanggulangi masalah

Setelah mengetahui di satu sisi ada tantangan dan di sisi lain ada peluang, tiap-tiap pihak kini mulai merancang langkah untuk menjawab tantangan yang ada.

Salah satu langkah adalah penguatan kapasitas lokal. Ini diperlukan karena meskipun merupakan jaringan global, dalam banyak hal internet bersifat lokal. Pada kenyataannya, internet memang bangunan besar yang tersusun dari jaringan-jaringan kecil yang dihubungkan satu sama lain.

Kalau sekarang dicemaskan terjadinya kemacetan lalu lintas digital, itu sebenarnya bukan mengenai cabang utama internasional, yang bisa disetarakan dengan jaringan jalan tol, tetapi yang berdekatan dengan rumah--mulai dari kapasitas sakelar lingkungan (neighborhood switch), router, hingga pipa ke rumah-rumah. Kalau ingin dipasang kabel serat optik untuk mendukung internet kecepatan tinggi, di AS biayanya sekitar 1.000 dollar AS.

Adanya elemen lokalitas di atas menjelaskan mengapa kecepatan internet berbeda-beda untuk setiap negara. Seorang peneliti AS mengaku bahwa akses internet di Taiwan dua kali lebih cepat dan jauh lebih murah dibandingkan dengan layanan "kecepatan tinggi" premium yang ia langgan di California.

Di AS sendiri, investasi yang dibutuhkan untuk merespons meningkatnya trafik internet tidak terbatas hanya untuk kabel dan pembawa telekomunikasi mengingat penyebab munculnya persoalan beragam. Seperti disebut Tim Pozar dari perusahaan penyedia layanan internet di San Francisco, kekuatan yang memicu melejitnya trafik internet adalah maraknya aplikasi video yang haus bandwidth di situs-situs web, meningkatnya kebutuhan untuk menangani pengguna dengan menggunakan telepon seluler yang bisa untuk internet, dan keterbatasan daya listrik untuk pusat data di kota padat seperti San Francisco.

Daya saing

Perkiraan sekarang memperlihatkan bahwa akan ada lonjakan pertumbuhan sangat besar dalam lalu lintas internet mengingat internet dikaitkan dengan potensi perekonomian, bangsa yang ingin punya daya saing besar didorong untuk berinvestasi di sektor internet kecepatan tinggi.

Bagaimana kalau bangsa tidak berinvestasi? Besar kemungkinan ia akan kehilangan banyak peluang. Namun, internetnya sendiri tidak akan kolaps, seperti diakui sendiri oleh Metcalfe.

Indonesia yang masih dalam fase peningkatan penetrasi internet juga dihadapkan pada tantangan pembangunan internet berkecepatan tinggi meskipun pemanfaatannya untuk tujuan-tujuan ekonomi belum signifikan.

Share on Facebook
Nilai 9 A A A
komentar anda
rokenrollbodjo @ Rabu, 7 Mei 2008 | 17:47 WIB
sudah saatnya kita tinggalkan dumia maya, kembali kedunia nyata!
aming @ Selasa, 6 Mei 2008 | 02:08 WIB
buat macam makan obat saja...kalau sakit minum obat...ada perlu banget barulah pakai internet...boleh nggak ya??
aan @ Jumat, 2 Mei 2008 | 13:49 WIB
masih bisa sms................
yono @ Rabu, 30 April 2008 | 10:49 WIB
gitu aja ko repot...internetan ga ada ya panggil pak pos
Oda 11 @ Rabu, 30 April 2008 | 08:04 WIB
Santai walll, bangsa kita masih buta internet kok. yang penting dengan uang urusan beres
8 Komentar
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
 
FEATURE
Sabtu, 27 Desember 2008 | 09:44 WIB
Lima Cara Amankan Blackberry
Agar Blackberry Anda dan juga isinya tidak berpindah tangan, perhatikan lima tips berikut.
Tutorial
Rabu, 7 Januari 2009 | 08:16 WIB
Ambil Frame File Video dengan ACDSee
Ingin mencuplik adegan dari film video menjadi file gambar? Mudah saja kok.
 

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort