Yuk, Menghitung Emas di Ponsel Bekas

Kamis, 29 Mei 2008 | 16:41 WIB

Semua barang elektronik, seperti TV, radio, tape atau komputer, selalu mengandung emas. Namun dibandingkan semua perangkat tersebut, daur ulang ponsel lebih diminati. Pasalnya jumlah emas yang dikandung lebih besar. Belum lagi ukuran fisiknya lebih kecil sehingga proses pengumpulannya lebih praktis.

Di negara-negara maju, peralatan elektronik bekas atau yang rusak memang menjadi persoalan tersendiri. Tukang servis di luar masa garansi sangatlah jarang. Kalaupun ada, ongkosnya sangat mahal, sehingga lebih praktis membeli baru.

Karena itu, barang elektronik rusak di sana nyaris tidak ada harganya. Sementara itu, di Indonesia ponsel bekas yang sudah mati total sekalipun, masih dihargai sekitar Rp 50 ribu, karena ada beberapa komponen yang bisa dikanibal ke ponsel lain yang sedang diservis.

Jumlah ponsel yang digunakan di seluruh dunia memang mencengangkan. Tahun ini saja, penjualan ponsel global akan meningkat 12 persen dibandingkan tahun 2007, menjadi 1,28 miliar unit. Padahal, model-model dan merek baru terus bermunculan, menggoda pemilik ponsel lama untuk berganti dan membuang ponsel lamanya.

Dari miliaran ponsel tersebut, tentu ada jutaan ponsel yang rusak atau dibuang. Jika ada 10 juta saja dari seluruh ponsel tersebut rusak atau dibuang, dengan berat rata-rata 100 gram per ponsel, maka bisa didapat 1000 ton ponsel bekas yang bisa didaur ulang --sebuah angka yang sangat besar.

Di Jepang, dari 128 juta penduduknya, rata-rata orang memakai ponselnya selama 2 tahun 8 bulan. Di Indonesia, meskipun belum ada penelitian resmi, banyak yang mengganti ponselnya setelah sekitar 1 tahun pemakaian. Tak heran, merek dan model baru selalu disambut hangat di pasar. Sepuluh operator GSM/CDMA yang cenderung makin menurunkan tarifnya, mendorong konsumsi ponsel ini lebih cepat lagi. Bahkan mulai banyak pula yang merasa perlu memiliki ponsel lebih dari satu.

Tentu saja dari ponsel yang beredar ini – diperkirakan ada sekitar 60 juta unit ponsel yang beredar di Indonesia saat ini – ada saja yang rusak. Tinggal dihitung nilainya saja jika ada sekitar 10% yang rusak dan didaur ulang.

Lebih Banyak Dibandingkan Tambang Emas

Perusahaan Jepang, Yokohama Metal Co Ltd, pernah melakukan penelitian dan menemukan bahwa satu ton bahan tambang emas setelah diolah, rata-rata hanya menghasilkan 5 gram emas. Padahal, satu ton ponsel bekas bisa menghasilkan 150 gram emas atau lebih. Selain emas, 1 ton ponsel bekas juga bisa menghasilkan 100 kg tembaga, 3 kg perak, dan logam-logam lain.


Pabrik daur ulang ponsel di Jepang,
Eco-System Recycling Co, menghasilkan emas batangan antara 199.58 - 299.37 kg per bulan, yang nilainya berkisar US$ 5,9 juta – US$ 8,8 juta. Hasil yang hampir sama dengan sebuah penambangan emas skala kecil, dengan risiko dan modal yang lebih kecil.

Bahan-bahan logam yang telah diekstraksi tersebut umumnya digunakan lagi untuk pembuatan rangkaian elektronik di ponsel atau perangkat elektronik lainnya. Logam dalam jumlah sangat sedikit seperti Indium, merupakan komponen penting dalam pembuatan TV layar datar dan layar komputer. Logam seperti antimony dan bismuth juga dipakai pada banyak perangkat berteknologi tinggi.

Untuk bahan yang didaur ulang, selain dari dalam negeri, beberapa perusahaan Jepang sudah mulai mengimpor PCB (rangkaian elektronik) dari Singapura dan Indonesia. Jepang sendiri mendapat saingan cukup ketat dari perusahaan daur ulang lain dari Cina.

Proses daur ulang ini menjadi begitu menarik karena harga logam di pasaran internasional terus naik. Emas diperdagangkan pada kisaran harga US$ 890 per ounce (1 ounce = 28.35 g), setelah pada bulan Maret menyentuh harga tertinggi sepanjang sejarah yaitu US$ 1,030.80.

Tembaga dan timah juga mencapai harga tertingginya di pasar, sedangkan harga perak bergerak di atas rata-rata. Inilah tambang emas baru yang belum banyak disadari oleh dunia industri kita.

(sumber: Sinyal)

 

http://m.kompas.com di mana saja melalui ponsel, Blackberry, iPhone, atau Windows Mobile Phone Anda
Share on Facebook  
Nilai 4.11 A A A
komentar anda
azumi @ Rabu, 18 Juni 2008 | 09:40 WIB
yupz bnr bgt tu kta roy,,,,
Yogi @ Senin, 16 Juni 2008 | 08:25 WIB
Cukup menarik untuk dikaji lebih lanjut kalau bisa teknik daur ulangnya di infokan dong ...
vic @ Sabtu, 14 Juni 2008 | 07:54 WIB
Aku setuju dengan Denny, hargailah diri sendiri dulu, kalo mau dihargai orang lain! INDONESIA BISA!!
Dennys @ Kamis, 12 Juni 2008 | 21:38 WIB
duh duh... liat komen di atas koq ada yg bikin gerah yah... jangan dong ngata"in bangsa sendiri dan bikin diri sendiri down dengan ngecap bangsa sendiri gk bs apa apa... justru karna cap diri yang kita bikin sendiri lah mental psikologis kita jadi berbuat seperti "cap tidak ada apa-apanya" tersebut... Lebih baik sekarang kita bangkit dan memperbaiki cap negara kita, bangun mental bangsa yang lebih baik sehingga dapat menguntungkan bangsa kita sendiri... salah satu caranya bisa aja dengan jalan seperti artikel d atas... :)
almensia @ Kamis, 12 Juni 2008 | 16:26 WIB
masa seeech...!!!
16 Komentar
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
 
FEATURE
Senin, 8 Februari 2010 | 15:44 WIB
Jejaring Sosial di Mata Seorang Tukang Becak
Sekalipun hanya seorang tukang becak, saya mulai tertarik dengan bidang komputer.
Tutorial
Kamis, 28 Januari 2010 | 16:49 WIB
Cara Cepat Merespon E-mail di Outlook 2010
Inilah cara cepat merespon e-mail. Tidak perlu bolak-balik mengetikkan alamat e-mail tujuan yang itu-itu saja.
 

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort