Waspadai Fitur Ponsel Cina

Jumat, 27 Juni 2008 | 11:03 WIB

Ponsel-ponsel bermerek baru sebenarnya bisa menjadi alternatif pilihan dari ponsel-ponsel merek mapan. Sebab harganya lebih terjangkau, tetapi fitur-fiturnya menarik, seperti dual-mode atau dual slot (GSM-GSM, GSM-CDMA) dan TV tuner internal.

Apa pun namanya, ponsel merek lokal ataupun merek Cina ini sebenarnya dipasok dari Cina, dan mungkin saja pabrik yang sama. Jadi tak heran jika sebagian besar bentuk, menu dan fiturnya mirip. Agar lebih mudah, ponsel-ponsel buatan negeri Panda ini kita sebut saja sebagai ponsel alternatif.

Harus Lebih Selektif

Saat ini minimal ada 30-an merek ponsel alternatif yang beredar di seluruh Nusantara. Jika satu merek mengeluarkan 10 tipe ponsel, berarti ada sekitar 300-an pilihan ponsel alternatif di pasar. Akibatnya, Anda akan pusing saat memilih ponsel bermoda dual-mode atau ber-TV.

Konsumen tentu saja yang akan memilih ponsel dengan fitur melimpah tetapi berharga murah. Memang begitulah penawaran ponsel alternatif ini: fitur melimpah dan menarik, harga relatif murah.

Sayangnya, memilih ponsel alternatif tidaklah semudah dugaan. Situasinya jauh berbeda dengan ponsel merek ternama; kita tinggal lihat iklan, lalu tunjuk yang disukai. Saat memilih ponsel alternatif yang majoritas buatan Cina, kita harus sedikit berhati-hati. Mengapa?

Demi mempertahankan eksistensi pasar ataupun mendongkrak angka penjualan, ponsel-ponsel alternatif ini adakalanya mengambil jalan ‘alternatif’. Maksudnya, fitur-fitur ponselnya dipromosikan tidak sesuai kenyataan. Contoh, pada casing atau pada brosur tertulis kamera sebesar 2 megapixel (MP), yang sebenarnya hanya mendukung resolusi maksimal 1,3MP.

Perhatikan Ini

Selain itu masih banyak kejanggalan pada ponsel-ponsel alternatif. Berikut hasil penelitian Sinyal:

- Kamera bohongan. Pada badan ponsel terdapat lubang untuk kamera, tetapi ini cuma pemanis saja, karena kameranya tidak ada.

- Resolusi kamera. Pada casing tertera 2MP, padahal aslinya hanya 0,3MP (VGA).

- Tombol akses pada badan samping ponsel hanya hiasan. Contoh, ada tombol untuk kamera tetapi tidak berfungsi. Tombol itu hanyalah asesoris karena bentuk casing-nya yang sudah permanen.

- Model casing mirip ponsel merek terkenal.

- Tidak Dual On. Artinya hanya satu kartu yang aktif, padahal pada brosur ditulis dual-on (kedua kartu aktif).

- Aplikasi Java harus khusus. Ada ponsel alternatif yang telah mendukung teknologi Java tetapi tidak semua aplikasi Java yang beredar dapat di-install.

- Kapasitas batere tidak sesuai brosur.

- Batere tidak bisa di-charge (diisi ulang).

- Service centre digabung dengan toko. Ada kemungkinan merek ponsel seperti ini sifatnya ‘hit and run’ dan tidak mau berinvestasi untuk layanan purna jual. Jika merek ditutup, pemilik toko tidak akan mau menanggung kerugiannya..

- Bahan casing kurang bagus, kadang-kadang ada cacat.

Merek Plesetan dan Almarhum

Tidak semua merek ponsel alternatif dapat bertahan di pasar. Bahkan banyak yang diam-diam sudah menghilang dari pasar. Karena itu berhati-hatilah memilih merek, pertimbangkan juga kelangsungan hidupnya.

Merek yang beredar di tanah air saat ini antara lain: Altrec, Anycool, Beyond, D-One, GStar, Haier, Hi-Tech, Huawei, Imo, iMobile, Kanselir, Kozi, K-Touch, Lotus, Micxon, Mito, My-G, Nexian, Ozon, Startech, Taxco, Techno, Titan, Vitell, VirtuV, dan ZTE. Daftar lengkapnya dapat dilihat di www.postel.go.id .

Sedangkan merek yang sudah mulai menghilang dari pasar adalah Hisense, Inco, Konka, Mobile, dan VK.

Selain merek-merek di atas, ponsel black market (BM – masuk tanpa jalur distributor) dan mereknya merupakan plesetan dari merek-merek terkenal pun ada, yakni Nckia, Nokla, Motolola, Suny Elicsson, dan Vevtu.

Namun ada juga merek yang belum muncul di pasar walaupun terdaftar di Ditjen Postel. Merek-merek yang belum hadir ini seperti Al Tone, Bluedio, Cross, Ivio, Maxtron, M Mobile, nano, Neotel, Vcall, dan Xtelecom.

Sebaliknya, ada ponsel alternatif yang sebenarnya tidak lolos sertifikasi tetapi dijual di pasar. Informasi ponsel-ponsel mana saja yang telah mendapat sertifikasi pemerintah dapat dilihat di http://www.postel.go.id/webupdate/ditstand/sertifikasi/xls/Tahun08.htm.

Sumber: Sinyal

Nilai 3.97 A A A
komentar anda
Herman @ Kamis, 24 Juli 2008 | 17:02 WIB
Seharusnya ada lembaga di Indonesia yang mengawasi dan menguji suatu produk dan memberikan sertifikasi ( Quality Control ) sebelum dipasarkan ke konsumen, saya yakin kalo ada lembaga yang mengawasi Produk, engak akan tuh barang abal abal yang enggak jelas Featurenya bakal lolos ke tangan konsumen...jadi dalam hal ini konsumen tidak dirugikan....
NoNa @ Selasa, 15 Juli 2008 | 11:40 WIB
Makasiy infonya....
deddy @ Senin, 14 Juli 2008 | 09:20 WIB
teliti barang itu perlu, sebaiknya barang yang tidak benar dalam promosi supaya ditertibkan agar tidak merugikan siapapun
samuel @ Senin, 7 Juli 2008 | 11:21 WIB
busway gandeng aja dari China bukan korea DVD, hp huawei china yang saya punya awet tuh
jo tea @ Senin, 7 Juli 2008 | 09:27 WIB
kalo ga salah di indonesia jg udah bikin HP produksi PT INTI bandung....... bentuk nya ga jauh dari produk cibaduyut.. hehehe
28 Komentar
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
 
FEATURE
Kamis, 14 Agustus 2008 | 15:15 WIB
Geliat Portal Berita dan Senjakala Blog
Pertempuran di tingkat software gratis untuk membangun website bertipe Content Management System (CMS) sudah terjadi.
Tutorial
Jumat, 15 Agustus 2008 | 08:02 WIB
Ubah Lokasi Penyimpan Rekaman TV
Ingin merekam tayangan Olimpiade yang disiarkan di TV dengan Media Center milik Windows? Atur saja ke mana Anda akan menyimpannya.
 

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort