I Love Facebook, Epidemi Skizofrenia

Rabu, 12 November 2008 | 17:40 WIB
Teman saya keranjingan Facebook. Hari pertama menggauli mesin virtual ini  ia bertemu dengan kawan lamanya yang nyaris tak dikenalinya. Ia begitu takjub akan keajaiban Facebook. Malam itu ia baru meninggalkan ruang kerjanya saat lampu kantor dipadamkan.

Bukan cuma teman saya yang tergila-gila, saya pun tengah gandrung dengan mainan baru ini. Facebook menghubungkan saya dengan sejumlah orang yang tak dapat saya jumpai di dunia nyata. Teman-teman sekolah saya yang tak tahu di mana rimbanya saya temui kembali di sini. Tidak hanya teman sekolah, banyak orang juga bisa berkawan dengan sejumlah orang yang sosoknya terasa jauh di alam nyata. Ada artis, ada politisi, budayawan, dan sejumlah orang beken. Keajaiban Facebook. Lupakan jarak dan waktu serta batas sosial. Ketiganya hanya ada di dunia nyata.

Siapa yang belum punya account Facebook? Hari geneee belum punya Facebook?! Orang-orang di seluruh dunia tengah gandrung dengan mesin ajaib ini. Cobalah lihat data di Alexa. Facebook adalah mesin jejaring sosial nomor satu. Sementara, untuk keseluruhan situs di dunia, Facebook menempati rangking ke-5 setelah Yahoo, Google, YouTube, dan Windows Live. Data ComScore Mei 2008 menyebutkan, situs web ini dikunjungi 123,9 juta orang sekolong langit.

Semua prestasi Facebook dicapai hanya dalam waktu empat tahun. Mark Zuckerberg meluncurkan situs ini pada 4 Februari 2004. Awalnya, keanggotaan Facebook dibatasi hanya untuk siswa Harvard College. Selanjutnya, diperluas ke kampus-kampus lain dan akhirnya meluas ke seluruh dunia. Di Indonesia Facebook masih kalah populer dibanding Friendster. Data alexa, Friendster nangkring di posisi 3, sementara Facebook 7.

Inilah zaman baru. Zaman yang merevolusi cara orang berkomunikasi dan berjejaring. Teknologi telah menisbikan ruang, waktu, dan batas sosial. Komunikasi terjalin sedemikian intens dalam kesunyian, tanpa kata-kata. Tidak ada suara. Keriuhan komunikasi jutaan orang di dunia berlangsung riuh dalam aneka simbol. Kalau pun ada keriuhan itu terjadi hanya di dalam benak mereka yang termangu di depan komputer. Zaman yang aneh karena kode-kode berupa huruf dan angka mampu mencipta realitas lain di dunia yang maya.

Melalui bahasa program, apakah itu html, xml, java, dan lainnya, alfabet yang jumlahnya hanya 26 dan angka yang hanya berjumlah 10 plus belasan tanda baca lainnya mampu menciptakan sebuah dunia baru, dunia cyber, yang meluluhlantakkan dimensi ruang dan waktu yang selama berabad-abad membatasi manusia. Dahsyatnya lagi miliaran aktivitas kode itu berjalan di sebuah kabel serat optik yang sedemikian tipisnya, setipis rambut manusia.

Realitas baru ini terepresentasikan sedemikian utuhnya meski hanya berupa simbol, mulai dari sekadar mengirim secangkir kopi hingga memeluk dan mencium mesra. Meski hanya berupa kode interaktivitas ini mampu membuat enzim kimiawi pembawa emosi di dalam tubuh kita bergejolak juga. Di dunia maya itu terbit rasa senang, sedih, bahagia, cemburu, kesal, semuanya.

Realitas maya itu telah jauh melebihi realitas itu sendiri. Seperti kisah kawan saya di atas. Realitasnya ia tidak tahu di mana temannya berada. Namun di dunia serat optik ia bertemu dengan temannya. Ia tidak lagi perlu tahu temannya yang di Swedia sono alamatnya di mana.  tapi, ketidaktahuan teritorial di alam nyata bukanlah hambatan untuk berkomunikasi. Lucunya, semua dari kita percaya saja bahwa teman-teman kita di Facebook adalah benar teman kita yang kita kenal di dunia nyata.

Ada sebuah karikatur lucu yang pernah saya temukan di internet. Dua ekor kucing terlihat asyik di depan komputer, berselancar di internet. Kucing yang satu tampak gelisah dan bertanya kepada temannya, dan bertanya,
“Eh, nanti kalau ketahuan gimana nih?”
“Udah, tenang aja, percaya deh, mereka enggak tahu kalau kita kucing,” jawan temannya.

Zaman yang mengagumkan. Dunia kode melebur dan menjadi realitas baru. Makin lama makin sulit saja membedakan mana yang nyata dan tidak nyata. Dalam ilmu psikologi ketidakmampuan membedakan mana yang nyata dan tidak nyata adalah gejala penyakit neurotik skizofrenia.

Penyakit ini nampaknya tengah meluas menjangkiti banyak orang di seluruh dunia. Telah terjadi epidemi skizoferenia. Demikian masifnya epidemi ini sehingga tidak lagi dianggap sebagai penyakit. Orang disebut gila jika ia hidup sebagai minoritas yang sangat minoritas di tengah mayoritas orang waras. Sebaliknya jika minoritas orang waras yang sangat minoritas hidup di tengah masifitas orang gila orang waras itulah yang disebut gila. Ketika menulis inipun saya sangat bingung menemukan batas kewarasan dan kegilaan.

Ah, enggak penting ya...

Heru Margianto

http://m.kompas.com di mana saja melalui ponsel, Blackberry, iPhone, atau Windows Mobile Phone Anda
Share on Facebook  
Nilai 1 A A A
komentar anda
achmad syauqi @ Minggu, 14 Juni 2009 | 12:10 WIB
ikan di laut tak pernah terasa asin. so, be your self aja laaa.. sesuai kebutuhan
gading afrijal @ Kamis, 11 Juni 2009 | 13:32 WIB
menambah pergaulan semakin akrab
oci @ Rabu, 10 Juni 2009 | 18:38 WIB
facebook di HARAMKAN!!!!no facebook yes prestasi!!!!!
azhari @ Rabu, 3 Juni 2009 | 16:30 WIB
gue ngak ngerti sama sekali
abing @ Rabu, 27 Mei 2009 | 01:09 WIB
saya belum punya facebook, tapi syukur masih sehat-sehat saja. dan di tengah pro dan kontra facebook, syukurnya lagi saya masih netral-netral aja.
25 Komentar
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
 
FEATURE
Kamis, 18 Maret 2010 | 20:01 WIB
Heboh Ririn Dumin, Asli atau Palsu?
Namanya Ririn Dumin, 22 tahun, wanita berambut panjang lurus yang berobsesi menjadi artis dan berhasil mewujudkannya. Kisahnya bikin heboh bloger.
Tutorial
Kamis, 28 Januari 2010 | 16:49 WIB
Cara Cepat Merespon E-mail di Outlook 2010
Inilah cara cepat merespon e-mail. Tidak perlu bolak-balik mengetikkan alamat e-mail tujuan yang itu-itu saja.
 

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort