|
Tak Ada Alasan Menjual Software Bajakan
Pembajakan software di Indonesia tak kunjung berkurang secara drastis meskipun penegakan hukum gencar dilakukan di berbagai daerah. Dalam tiga tahun terakhir, tingkat pembajakan hanya turun satu persen tiap tahun dari 87 persen di tahun 2004 menjadi 84 persen di tahun 2007 sesuai data survei Business Software Alliace (BSA) dan Incorporated Data Services (IDC). Hal tersebut tidak lepas dari masih maraknya penjualan software di gerai komputer hingga emperan toko. Mystery Shopper yang dilakukan Microsoft di sejumlah mal di Indonesia menunjukkan bahwa 59 persen reseller atau penjual langsung masih menjajakan software palsu tersebut. "Yang melakukan bukan perorangan tapi organisasi kriminal yang terorganisasi sehingga kami terus berupaya memberantas kelompok ini," ujar David Finn, Associate General Counsel untuk Worldwide Anti-piracy dan Anti-counterfeiting Microsoft saat menghadiri Global Fair Play Day di Surabaya, 22 Oktober 2008. Seiring penegakan hukum yang ketat, software bajakan yang dijajakan di sejumlah toko kini dikemas sedemikian profesional bahkan semirip mungkin dengan software asli dan dijual dengan harga tak jauh berbeda. Hal tersebut tentu menimbulkan masalah baru karena dapat mengecoh dan merugikan konsumen. Perbedaan harga antara software palsu dan asli menciptakan lingkungan bisnis yang tidak fair. Penjual yang jujur dan hanya berkomitmen menjual software asli tidak dapat bersaing dengan penjual yang menawarkan software bajakan. Menurut Finn, langkah utama untuk mengatasi pembajakan software adalah melalui edukasi kepada konsumen maupun penjual software seperti dengan menggelar kampanye Global Fair Play yang serentak digelar di 46 negara termasuk Indonesia. Konsumen perlu mendapat pemahaman yang cukup untuk mengetahui ciri-ciri software asli dan hanya membelinya dari reseller resmi. Sementara perlu kesadaran para penjual software untuk melindungi hak konsumen dengan hanya menjual software legal. "Dengan kampanye Global Fair Play, kita ingin menciptakan kompetisi dan business environment yang sehat," kata Anti Suryaman, License Compliance Manager, PT Microsoft Indonesia. Selama kampanye yang digelar 3 bulan dari Oktober hingga Desember 2008, Microsoft melakukan mystery shopper, dealer trip test purchase, dan channel enforcement di 6 kota. Dari Surabaya, Jakarta, Bandung, Medan, Makassar, hingga Batam. Harus legal Selain itu, pusat bisnis yang biasa menajajakan software seperti mal didorong untuk berkomitmen hanya menjual software asli. Hi-Tech Mall di Surabaya, misalnya, telah mewajibkan tenant (penyewa lahan) di lokasi perbelanjaannya untuk hanya menjual software legal. "Sebetulnya awalnya bimbang. Kalau berkomitmen tidak menjual software palsu, takut ditinggalkan tenant karena tidak dapat omzet," ujar Rudy Sukamto, General Manager PT Sasana Boga yang mengelola mal tersebut. Di lain sisi, pihaknya tidak mungkin membiarkan penjualan software palsu terus dilakukan karena akan berhadapan dengan aparat keamanan. Sebagai solusi Hi-tech Mall bekerja sama dengan Kelompok Linux Arek Suroboyo (KLAS) untuk menyediakan software-software berbasis open source yang dapat didistribusikan cuma-cuma. Produk-produk berbasis open source inilah yang hanya boleh dijualbelikan di Hi-tech Mall. Hanya menyediakan produk open source saja ternyata tidak menjawab kebutuhan konsumen yang sebagian tetap menginginkan software-software proprietary seperti dari Microsoft. Secara proaktif Hi-tech Mall pun mengajak sekitar 800 tenant-nya untuk memesan software secara bersama-sama agar memperoleh harga terbaik. Keraguan hilang ketika ratusan tenant-nya megaku tetap untung meski harus menjual software asli saat Microsoft merilis Windows Vista akhir tahun lalu. "Jual yang asli juga dapat untung jadi jangan jual yang palsu," ujar Rudy. Ia mengatakan kalau memang tidak bisa menjual produk Microsoft yang asli, gunakan open source. Dengan catatan, Hi-tech Mall sudah membuka peluangnya dengan menyediakan alternative dari KLAS. Langkah dan komitmen Hi-tech Mall merupakan solusi yang masuk akal dan pantas ditiru pengelola pusat bisnis lainnya. Dengan pilihan hanya software legal yang bisa dijual, tak ada alasan untuk menjual software bajakan bukan? Tri Wahono Tri Wahono komentar anda
yuzz @ Rabu, 24 Desember 2008 | 09:46 WIB mahal tuh relatif,kl bnyk duit ya jdnya mrh,kl duitnya krng ya jdnya mhl.mngkin bg sebgian org softw asli tuh mhl krn tingkat pendptan kt tuh berapa.dikantorku aja beli 3dmax asli US$4000an bt 1 PC. blm vray nya US$1500an,blm photoshopnya,corel nya,dll.beli PC plus softwnya bisa plhan juta sampe rtsan juta.mayoritas pendptan kita tuh blm menckpi untuk beli softw asli untuk PC pribadi.kl bt perusahaan itu beda lg Amrul @ Rabu, 17 Desember 2008 | 17:24 WIB Paling yg sanggup beli (adobe CS, MS Offices, dll) yg asli cm beberapa org yg tinggal dikota2 besar, sebagian besar masyarakat indonesia jangan kan beli software, komputer aja gak sanggup beli. Mungkin Open Source adalah solusi yg tepat buat masyarakat kita. zappy @ Selasa, 9 Desember 2008 | 17:04 WIB software bajakan itu gunanya sbg try n error dl sblm beli yg asli. Wong kt blm tau apa softwarenya bgs msk udh hrs keluar duit mahal, rugi donk apalagi ntr softwarenya itu cuman sampah. Dukung software bajakan sbg alternatif try error sblm beli ASLI: sam @ Sabtu, 6 Desember 2008 | 11:39 WIB mahal? nggak juga. itung aja sendiri, kita bisa beli komputer bbrp juta, laptop bbrp juta, handphone bbrp juta... software asli? rata2 buat pc (bukan server) US$100 an (liat aja di bhineka) kalau mau dicari, alasan nggak bakal ada abisnya buat melegalkan tindakan yg ilegal :) leo @ Kamis, 4 Desember 2008 | 12:53 WIB saya rasa untuk harga yang terbilang mahal sebuah software microsoft asli adalah suatu yang normal karena untuk menciptakan sebuah software tidak lah mudah dan memakai tenaga ahli yang gaji pun tidak murah.Jadi logikanya jika kita bersekolah hingga memiliki title apakah kita mau untuk bekerja dengan gaji yang kecil?karena untuk memperoleh title atau menghasilkan sebuah software tidaklah mudah dan memerlukan dana yang cukup besar,lalu apakah dengan proses tersebut kita rela untuk digaji kecil Posting komentar anda
|
FEATURE
Sabtu, 27 Desember 2008 | 09:44 WIBLima Cara Amankan Blackberry Agar Blackberry Anda dan juga isinya tidak berpindah tangan, perhatikan lima tips berikut.
Tutorial
Rabu, 7 Januari 2009 | 08:16 WIBAmbil Frame File Video dengan ACDSee Ingin mencuplik adegan dari film video menjadi file gambar? Mudah saja kok. |
|||
|
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
|
||||