Dari Pemalsuan Kartu Kredit ke Pedagang Gadungan di Internet


Jumat, 6 November 2009 | 20:00 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com - Banyak pengguna Internet di luar negeri yang menjadi korban kejahatan melalui dunia maya (cyber crime) yang dilakukan oleh pelaku-pelaku di Indonesia. Interpol Indonesia mengaku banyak menerima laporan dan pengaduan dari pengguna Internet di negara lain yang merasa ditipu oleh orang yang mengaku pedagang di Indonesia.

"Menurut keterangan para korban, mereka telah ditawari barang oleh pedagang di Indonesia melalui Internet, namun ketika sudah membayar uang muka (down payment), orang yang mengaku pedagang itu menghilang," kata Sekretaris National Central Bureau (NCB)-Interpol Indonesia Brigadir Jenderal Halba Rubis Nugroho, di Bandung, Kamis (5/11).

"Setelah buyer membayar DP sekian persen, pembeli itu menghilang dan tidak bisa dikontak," ujarnya di Bandung.

Menurutnya, tren cyber crime di Indonesia kini mulai berubah. Dahulu, pelaku cyber crime modusnya memakai kartu kredit orang lain untuk membeli barang dari luar negeri. "Nah kini sebaliknya. Banyak korban dari luar negeri justru yang tertipu dengan pedagang palsu dari Indonesia saat transaksi via Internet," ujarnya di Bandung.

Dia menghimbau agar semua pihak berhati-hati sebelum transaksi via dunia maya. Selain itu, sebelum melakukan transaksi, baiknya melaporkan dahulu kepada NCB melalui www.interpol.go.id. "Dengan laporan itu, nanti kami akan mengecek si pedagang itu apa benar atau fiktif. Dan begitu juga sebaliknya," ucapnya.

Di tempat yang sama, Kanit V/Cyber Direktorat II Bareskrim Mabes Polri Komisaris Beras Petrus Golose menuturkan, Indonesia pernah tercatat sebagai negara yang paling banyak tindak cyber crime-nya.

"Itu secara kuantitas. Namun secara kualitas, Amerika nomor satu karena dari aksi cyber crime itu, 85 persen IP Protokolnya dari Amerika. Yang 15 persen tersebar di seluruh dunia," katanya. Menurutnya, sejak 2006 hingga 2009, telah ada banyak korban dari 49 negara di dunia yang mengaku menjadi korban cyber crime oleh orang Indonesia.

Selain itu, dia menambahkan, pekerjaan menyidik cyber crime tergolong unik. Pasalnya, tidak diketahui pelakunya. "Paling yang ketemu komputernya. Dan untuk menangani kasus cyber crime di Indonesia itu, kami baru punya 20 orang," katanya.

WAH/ANT



Editor: wah
http://m.kompas.com di mana saja melalui ponsel, Blackberry, iPhone, atau Windows Mobile Phone Anda
Share on Facebook  
A A A
komentar anda
jahorman @ Senin, 9 November 2009 | 14:04 WIB
Ya kllu pelapor ngasi dana operasional mngkin POL akan segera bertugas
Tondo @ Senin, 9 November 2009 | 07:30 WIB
buaya, mana bisa mikir
rendy @ Sabtu, 7 November 2009 | 08:18 WIB
jangn bingung Pak yang ngurusi memang nggak sesuai bidangnya coba baca dengan teliti "Mabes Polri Komisaris Beras Petrus Golose" jadi yang diurusi seharusnya urusan beras bukan ini...hehehehehe Sukses ya Pak POLRI
Pairo @ Sabtu, 7 November 2009 | 07:19 WIB
sudah saatnya interpol Indonesia juga merekrut para hacker
WIDI @ Jumat, 6 November 2009 | 21:43 WIB
KETEMU KOMPUTERNYA SAJA???? Ah yang bener saja?!! Apa emang ga ada niat memberantas hai buaya? Kan transaksi terakhir juga pakai rekening bank kan?? (maaf kalau keliru) Apa rekening bank tidak bisa dilacak pemiliknya atau siapa yang mencairkannya? ANEH!!! La wong penipuan di dalam negeri saja lewat sms ga pernah kedengaran penyelesaiannya, padahal jelas nomor telepon dan nomor rekeningnya! Bagaimana to, bingung aku!!!!
5 Komentar
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
 
FEATURE
Senin, 8 Februari 2010 | 15:44 WIB
Jejaring Sosial di Mata Seorang Tukang Becak
Sekalipun hanya seorang tukang becak, saya mulai tertarik dengan bidang komputer.
Tutorial
Kamis, 28 Januari 2010 | 16:49 WIB
Cara Cepat Merespon E-mail di Outlook 2010
Inilah cara cepat merespon e-mail. Tidak perlu bolak-balik mengetikkan alamat e-mail tujuan yang itu-itu saja.
 

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort