Salin Artikel

Ditinggal Google, Huawei Kehilangan Pendapatan Rp 196 Triliun

Namun, absennya aneka aplikasi dan layanan populer Google dari smartphone Huawei tak urung berdampak pada pemasukan vendor asal China itu.

Sepanjang 2019, Huawei mencatat pendapatan sebesar 123 miliar dollar AS (Rp 196,8 triliun), meleset dari target sebesar 135 miliar dollar AS (Rp 2.214 triliun) yang ditetapkannya pada April 2019, sebelum masuk daftar hitam AS.

Deputy Chairman Huawei Eric Xu menyalahkan blacklist AS atas kehilangan potensi pendapatan tersebut.

"Kami tidak mencapai target kami yang telah direvisi, yakni 135 miliar dollar AS (Rp 2.214 triliun). Kami kehilangan 12 miliar dollar AS. Ini adalah dampak dari sanksi AS," ujar Xu, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari CNBC, Rabu (1/4/2020).

Kehilangan pendapatan terbesar dialami divisi perangkat konsumen yang berkutat pada bisnis ponsel, tablet, dan laptop. Total pendapatannya pada 2019 adalah 66,93 milliar dollar AS (Rp 1.096 triliun), meleset 10 miliar dollar AS dari target Huawei.

Sebagian besar dari total pendapatan Huawei pada 2019 disumbang oleh divisi perangkat konsumen ini, dengan proporsi 54 persen.

"Jika tahun lalu tidak ada gangguan (blacklist), pendapatan bisnis perangkat konsumen setidaknya bisa tembus 10 miliar dollar AS lebih banyak daripada angka sebenarnya yang kami capai," imbuh Xu.

Meleset, tapi tetap naik

Di luar target yang meleset, pendapatan Huawei pada 2019 diklaim tetap naik sebesar 19,1 persen dalam kurs yuan dibandingkan tahun 2018.u.

Meskipun dijegal pemerintah AS, Huawei pun masih bercokol di peringkat kedua vendor smartphone terbesar dunia pada tahun 2019, menggeser kedudukan Apple, menurut survei beberapa analis pasar.

Neil Shah, salah satu periset pasar Counterpoint Research, mengatakan pencapaian tersebut disumbang oleh pangsa pasar Huawei di China yang masih kuat.

"China berkontribusi sekitar tiga dari lima smartphone Huawei yang terjual secara global pada tahun 2019, dan ini akan meningkat lebih lanjut pada tahun 2020," jelas Shah.

China menjadi satu-satunya pasar Huawei yang aman dari dampak pemblokiran pemerintah AS. Sebab, konsumen di Negeri Tirai Bambu tak bergantung pada aplikasi dan layanan Google yang absen dari ponsel Huawei pasca blacklist. 

Prediksi Shah kini bisa saja berubah megingat pandemi virus corona yang turut menerjang industri smartphone. Xu sendiri belum bisa mengatakan pasti seberapa besar dampak pandemi virus corona bagi Huawei.

"Saat ini kami akan mengevaluasi level dampak dari pandemi pada performa pasar di China. Tapi untuk saat ini, di mana pandemi terus meluas ke berbagai belahan dunia, sangat sulit mengatakan seberapa besar dampaknya pada bisnis kami," jelas Xu.

Xu mengatakan, Huawei bisa saja memenuhi kebutuhan pasar dalam jangka pendek. Namun jika pandemi ini terus belanjut secara global dan membuat beberapa pemasok komponen berhenti produksi, kemungkinan Huawei akan mengalami kesulitan cukup lama.

https://tekno.kompas.com/read/2020/04/01/13100037/ditinggal-google-huawei-kehilangan-pendapatan-rp-196-triliun

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.