Salin Artikel

Membedah Jual Beli Akun Premium "Tak Resmi" Netflix dan Spotify

Ia membeli akun Spotify Premium lewat salah satu penjual di dunia maya dengan harga Rp 58.000 untuk satu tahun berlangganan, jauh lebih terjangkau dibanding harga resmi yang dipatok Spotify (Rp 500.000/tahun).

Setelah dua bulan berjalan, Adam mengaku tak menemukan masalah yang berarti. Keuntungan yang ia dapatkan pun diklaim serupa dengan layanan premium yang ditawarkan oleh Spotify seperti mengunduh lagu untuk didengarkan secara offline, bebas iklan, dan lain sebagainya.

Sejalan dengan Adam, pembeli lainnya bernama Faruq juga merupakan seorang pengguna akun hiburan premium murah yang ditawarkan oleh penjual pihak ketiga.

Alih-alih Spotify, Faruq membeli akun Netflix untuk menonton aneka serial favoritnya dengan merogoh kocek sebesar Rp 100.000 untuk satu tahun.

Berbeda nasib dengan Adam, Faruq mengaku bahwa ia menemukan sejumlah kendala selama  menikmati layanan premium terjangkau itu.

"Karena ganti akun setiap bulan, jadi tidak bisa membuat watchlist. Seperti kemarin saat sempat baru nonton sebentar, terus aku tunda, ternyata belum ketonton lagi, jadi riwayat yang aku tonton jadi hilang," tutur Faruq ketika dihubungi KompasTekno, Rabu (24/6/2020).

Terlepas dari kendala yang muncul, mengapa para penjual tak resmi bisa menawarkan harga yang jauh lebih ramah kantong dibanding harga resmi?

Pakai sistem langganan keluarga

Salah satu penjual akun online tak resmi, berinisial AP, mengaku bahwa ia mengandalkan sistem berlangganan keluarga, atau biasa disebut paket Family Plan.

Paket tersebut, seperti namanya, memungkinkan seorang pengguna mengajak beberapa pengguna lainnya untuk "urunan" demi mendapatkan benefit dari satu akun yang sama. Jadi, satu akun bisa dipakai oleh beberapa orang sekaligus dengan profil masing-masing.

Tagihannya sendiri nantinya bakal digabungkan menjadi satu pembayaran, dan biasanya memang lebih murah ketimbang paket berlangganan pribadi (personal).

"(Berlangganan) ini sistem family, jadi dimasukkan manual satu per satu. Kami di sini jadi manajer akun yang bisa memasukkan beberapa akun ke satu family (keluarga)," ujar AP kepada KompasTekno, Rabu (24/6/2020).

AP tidak menjelaskan rahasia di balik harga murah yang ditawarkan. Namun, ia mengklaim bahwa layanan premium yang dijualnya legal, alias bukan abal-abal yang memanfaatkan benefit free trial atau aplikasi Android (APK) non-resmi.

Lebih lanjut, AP sendiri menyediakan jasa upgrade akun pribadi, dari reguler (basic/free) ke premium, serta menjual akun baru yang sudah mendapatkan benefit premium.

Apabila pembeli ingin pakai akun pribadi yang sebelumnya sudah dibuat, maka mereka perlu memberikan informasi alamat e-mail dan kata sandi (password) kepada AP. Sebaliknya, pembeli tidak perlu memberikan informasi semacam itu jika mereka membeli akun baru.

Terkait pemberian data pribadi, AP mengklaim bahwa seluruh data yang diberikan kepadanya dijamin tersimpan dengan aman. "(Informasi pribadi) aman karena saya sendiri yang mengerjakan, jadi data disimpan dan aman," klaim AP.

Bahaya mengintai

Kendati menggiurkan karena murah, praktisi keamanan siber Vaksin.com, Alfons Tanujaya, mengungkap bahwa ada sejumlah bahaya yang bisa saja mengintai pembeli layanan premium dari pihak ketiga non-resmi ini.

Salah satunya adalah peluang phising yang digunakan untuk mencuri informasi penting pengguna, seperti e-mail, username, password, dan sebagainya.

Hal seperti ini bisa terjadi jika pembeli memberikan informasi e-mail dan password mereka ke penjual, seperti apa yang ditawarkan AP tadi. Selain itu, ada potensi lain yang secara tidak langsung bisa mengancam, yakni pencurian data kartu kredit (carding).

"Kalau tidak langsung bisa saja (carding), misalnya akun e-mail tercuri dan digunakan untuk mencuri atau mengakses data lain seperti data kartu kredit atau lainnya," jelas Alfons melalui pesan singkat, Rabu (24/6/2020).

Meski begitu, menurut Alfons, apabila yang dijual dalam bentuk kredensial atau sudah tersedia username dan password (akun baru), secara teknis hal itu cukup aman dari eksploitasi.

Sebab, pembeli hanya memasukan kredensial akun streaming yang diberikan penjual.

"Risiko di sini adalah produk yang dibeli tidak sesuai dengan yang dijanjikan, namun tidak sampai mengancam hal lain seperti kredensial pembeli yang lain atau memasang malware," pungkasnya.

https://tekno.kompas.com/read/2020/07/07/12010067/membedah-jual-beli-akun-premium-tak-resmi-netflix-dan-spotify

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.