Salin Artikel

Media Asing Soroti Kesulitan Siswa dan Guru di Indonesia Belajar Online

Kebijakan itu merupakan salah satu upaya untuk menekan laju penyebaran Covid-19 yang hingga hari ini di Indonesia tetap menyentuh angka ribuan kasus baru tiap harinya.

Namun, belajar daring menyimpan banyak ganjalan, terutama soal keterjangkauan sinyal seluler. Hal ini pun menjadi sorotan beberapa media asing. Salah satunya adalah New York Times yang menyoroti tiga siswi di Desa Kenalan, Yogyakarta.

Mereka harus mengendarai motor untuk mencari lokasi yang terjangkau oleh sinyal seluler. Tempat itu bukan kafe, balai, atau gedung lainnya, melainkan pinggiran jalan yang dilalui pesepeda motor yang hilir mudik.

"Ketika sekolah meminta kami untuk belajar di rumah, kami kebingungan karena tidak ada sinyal di rumah," aku Siti Salma Putri Salsabila (13).

Upaya lebih ekstrem juga dilakuksan siswa lain si Sumatera Utara. Beberapa siswa rela memanjat pohon yang jauh dari desa mereka di pegunungan demi mendapat sinyal. Tidak cuma siswa, guru-guru pun mengupayakan berbagai cara untuk menyampaikan ilmu.

Beberapa guru di wilayah terpencil rela berjalan kiloan meter untuk mendatangi murid mereka agar bisa memberikan materi secara tatap muka.

Masalah tidak cuma berkutat soal sinyal, tetapi juga ketersediaan perangkat. Tidak sedikit keluarga yang hanya memiliki satu smartphone (ponsel pintar), kemudian digunakan putra-putrinya secara bergantian.

Selain New York Times, media online Arab News juga menyoroti soal masalah belajar daring di Indonesia. Dewi Listiani (14), seorang siswi kelas IX SMP, harus memajang ponselnya di dinding dapur rumahnya karena hanya titik itu yang terjangkau sinyal yang kuat.

Dia pun harus mendongak selama kegiatan belajar mengajar daring berlangsung. Susah sinyal juga dialami beberapa siswa yang tinggal di Desa Pranten, Batang, Jawa Tengah. Salah satunya adalah Fika Nur Aini yang mengaku kesulitan mendapat sinyal untuk belajar daring.

Kendati demikian, beberapa guru juga masih tetap melakukan pelajaran tatap muka. Kepala sekolah salah satu SD di Pranten, Kumpul Edy Suwanto, mengatakan bahwa beberapa muridnya tidak memiliki ponsel pintar.

"Mereka yang tidak memiliki smartphone sering berkumpul dalam kelompok kecil untuk melihat layar smartphone bersamaan, dan itu sebenarnya melanggar protokol kesehatan," kata Suwanto kepada Arab News.

"Jadi kami meminta tolong kepada guru-guru untuk mengunjungi mereka untuk belajar di rumah," lanjut Suwanto.

Suwanto juga mengatakan, tidak ada pengawasan saat belajar daring. Sebab, di daerahnya, orangtua atau wali murid kebanyakan bekerja sebagai petani yang pergi ke sawah sejak pagi buta.

Menurut Luhur Bima, peneliti senior dari Smeru Research Institute, kesenjangan mendapatkan hak pendidikan bukan baru terjadi saat pandemi menyerang.

"Bahkan tanpa pandemi pun, ada gap yang besar antara wilayah terpencil dan urban. Siswa belajar sangat sedikit saat waktu normal dan ketika pandemi, kegiatan belajar mengajar berhenti," kata Luhur.

Selain mengandalkan pelajaran secara daring, pemerintah pun memberikan alternatif dengan menayangkan acara pendidikan di saluran televisi TVRI setiap harinya.

Sinyal 4G belum merata

Dirangkum KompasTekno, New York Times menyoroti kesenjangan belajar daring di kala pandemi antara negara maju dan berkembang. Bagi negara maju, guru-guru berusaha untuk memberikan pengalaman belajar jarak jauh sebaik mungkin.

Namun, di negara berkembang seperti Indonesia, tantangannya lebih sulit dikarenakan berbagai faktor, seperti minimnya infrastruktur. Lebih dari sepertiga siswa di Indonesia memiliki internet yang terbatas, bahkan belum terjamah sinyal seluler.

Kekurangan infrastruktur ini membuat pemerintah dan para ahli khawatir bahwa banyak siswa akan tertinggal jauh, terutama di daerah terpencil.

Staf Khusus Menteri Kominfo Dedy Permadi mengatakan, secara geografis, lebih dari 50 persen dari keseluruhan wilayah daratan Indonesia belum terjangkau 4G.

"Apabila dilihat dari pendekatan geografis, sinyal 4G itu baru menjangkau 49,33 persen dari luas wilayah daratan di Indonesia," ujar Dedy dalam sebuah acara bertajuk "Peran Sektor Telekomunikasi dalam Pemulihan Ekonomi Nasional" yang digelar di Sekolah Politik Indonesia, Jumat (11/9/2020).

Edy mengatakan, secara administratif, dari total ada 83.218 desa dan kelurahan yang ada di Indonesia, ada sekitar 12.548 desa dan kelurahan yang belum terjangkau sinyal 4G. Dari 12.548 sendiri, 9.113 desa dan kelurahan berada di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), sedangkan 3.435 lainnya berada di wilayah non-3T.

Pemerintah menargetkan wilayah-wilayah yang belum terjangkau tadi akan ter-cover sinyal 4G pada tahun 2022.

https://tekno.kompas.com/read/2020/09/15/10410097/media-asing-soroti-kesulitan-siswa-dan-guru-di-indonesia-belajar-online

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.