Salin Artikel

Riset: Bitcoin dkk Sudah Sulit Didapat Sebelum Diblokir China

Belakangan, alasan lingkungan juga membuat pemerintah China makin gencar memberangus aktivitas terkait mata uang kripto, termasuk dengan melarang kegiatan penambangannya alias mining.

Pelarangan ini akhirnya membuat sejumlah tambang kripto di China ditutup, termasuk yang berada di provinsi Sinchuan dan Xinjiang.

Padahal, dua daerah itu termasuk penyumbang daya komputasi (hash rate) terbesar untuk jaringan Bitcoin. Akibatnya, hash rate Bitcoin secara global ikut terdampak secara signifikan.

Alhasil, keping Bitcoin baru pun akan semakin sulit didapat karena proses atau kecepatan penambangannya akan semakin lambat.

Meski China bertindak keras terhadap mata uang kripto, ternyata bukan China yang bikin Bitcoin dkk sulit didapat.

Sebab, sebelum ada pelarangan itu mata uang kripto di Negeri Tirai Bambu itu sudah lebih dahulu merosot tajam. Setidaknya begitulah hasil yang terungkap dari penelitian dari Cambridge Center for Alternative Finance yang dipublikasi baru-baru ini.

Penelitian itu menyebutkan, sebulan sebelum adanya pelarangan Bitcoin dkk, tepatnya pada April 2021, China hanya menyumbangkan kinerja hash rate sebesar 46 persen saja pada aktivitas penambangan cryptocurrency global.

Angka hash rate itu merosot tajam bila dibanding 2019 lalu. Pada September 2019, China dilaporkan berhasil meyumbang kinerja hash rate hingga 75,5 persen dalam aktivitas mining mata uang kripto global.

Penelitian Cambridge Center for Alternative Finance juga melaporkan, di saat kinerja hash rate China terjun bebas pada 2021, negara seperti Amerika Serikat dan Kazakhstan justru terlihat mengalami peningkatan secara drastis.

Misalnya, Kazakhstan meningkat enam kali lipat, dari 1,4 persen pada September 2019, menjadi 8,2 persen pada April 2021.

Kinerja hash rate Amerika Serikat naik dari 4,1 persen menjadi 16,8 persen, pada periode yang sama.

Sementara Rusia dan Iran juga tampil menjadi negara terbesar keempat dan kelima sebagai penambangan Bitcoin, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Reuters, Minggu (18/7/2021).

Harga Bitcoin terjun bebas

Akibat pelarangan yang diberlakukan pemerintah China dan kinerja hash rate global yang menurun, Bitcoin menjadi salah satu mata uang kripto yang paling terdampak. Harganya pun terjun bebas.

Menurut situs Coindesk, Bitcoin diperdagangkan dengan harga kisaran 31.000 dollar AS atau sekitar Rp 451 juta, pada Jumat siang.

Angka tersebut tak sampai setengah dari rekor nilai tertinggi Bitcoin sebesar lebih dari 64.000 dollar AS (sekitar Rp 921 juta) per keping yang tercatat pada April lalu.

Pada akhir Mei lalu, harga Bitcoin bahkan anjlok drastis, di mana turun 30 persen dalam sehari hingga nyaris menyentuh angka 30.000 dollar AS (sekitar Rp 431 juta).

https://tekno.kompas.com/read/2021/07/18/18120047/riset--bitcoin-dkk-sudah-sulit-didapat-sebelum-diblokir-china

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Instagram Uji Coba Ubah Semua Video yang Diunggah Jadi Reels

Instagram Uji Coba Ubah Semua Video yang Diunggah Jadi Reels

Software
Daftar Harga iPhone 13, iPhone 13 Mini, iPhone 13 Pro, iPhone 13 Pro Max Terbaru Juli 2022

Daftar Harga iPhone 13, iPhone 13 Mini, iPhone 13 Pro, iPhone 13 Pro Max Terbaru Juli 2022

Gadget
Pria yang Terapung di Tengah Laut Selamat Berkat Apple Watch

Pria yang Terapung di Tengah Laut Selamat Berkat Apple Watch

Gadget
Membosankan dan Mirip Semua, Alasan Samsung Bikin Ponsel Layar Lipat

Membosankan dan Mirip Semua, Alasan Samsung Bikin Ponsel Layar Lipat

Gadget
Hati-hati Jangan Tertipu Aplikasi MyPertamina Palsu, Ini Link Resminya di Play Store dan App Store

Hati-hati Jangan Tertipu Aplikasi MyPertamina Palsu, Ini Link Resminya di Play Store dan App Store

Software
Daftar HP Android Terkencang Juni 2022 Versi AnTuTu, Black Shark 5 Pro Teratas

Daftar HP Android Terkencang Juni 2022 Versi AnTuTu, Black Shark 5 Pro Teratas

Gadget
Daftar Harga iPhone Terbaru Juli 2022: iPhone SE 2, iPhone 11, iPhone 12, iPhone SE 3, iPhone 13 Series

Daftar Harga iPhone Terbaru Juli 2022: iPhone SE 2, iPhone 11, iPhone 12, iPhone SE 3, iPhone 13 Series

Gadget
Starlink Dijanjikan Masuk Indonesia 2023, Seberapa Kencang Internetnya?

Starlink Dijanjikan Masuk Indonesia 2023, Seberapa Kencang Internetnya?

Internet
Cara Daftar TikTok Affiliate untuk Cari Uang Tambahan

Cara Daftar TikTok Affiliate untuk Cari Uang Tambahan

e-Business
Xiaomi Rilis Mi Band 7 Pro Mirip Smartwatch, Layar AMOLED dan GPS Built-in

Xiaomi Rilis Mi Band 7 Pro Mirip Smartwatch, Layar AMOLED dan GPS Built-in

Gadget
Xiaomi 12S Ultra Resmi Dirilis dengan Kamera 50 MP Berlensa Leica

Xiaomi 12S Ultra Resmi Dirilis dengan Kamera 50 MP Berlensa Leica

Gadget
Alasan Samsung 'Pede' Bawa Ponsel 5G ke Indonesia Meski Jaringan Belum Rata

Alasan Samsung "Pede" Bawa Ponsel 5G ke Indonesia Meski Jaringan Belum Rata

Gadget
Samsung Butuh 7 Tahun untuk Bikin Ponsel Layar Lipat

Samsung Butuh 7 Tahun untuk Bikin Ponsel Layar Lipat

Gadget
TM Roh: Fitur Flagship di Galaxy A, Strategi Samsung Hadapi Ponsel China

TM Roh: Fitur Flagship di Galaxy A, Strategi Samsung Hadapi Ponsel China

Gadget
Samsung Pastikan Nasib Smartphone Galaxy Note

Samsung Pastikan Nasib Smartphone Galaxy Note

Gadget
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.