Salin Artikel

Anak 12 Tahun Jual NFT Emoji Ikan Paus, Laku Rp 5 Miliar

Namun, tak dinyana, karya seni berisi total 3.350 buah emoji ikan paus itu berhasil terjual sebesar 290.000 poundsterling atau setara dengan Rp 5,7 miliar sebagai Non-Fungible Token (NFT).

Uang yang didapat Ahmed ini disimpan dalam bentuk Ethereum, mata uang kripto yang juga digunakan untuk menjual karya seni ikan pausnya itu.

Pantauan KompasTekno di situs opensea.io tempat Ahmed menjual NFT Weird Whales, deretan emoji ini sudah diperjualbelikan sebanyak 1.400 kali. Tercatat sudah ada 1.500 orang yang membeli karya seni Weird Whales ini.

Memang, belakangan ini NFT menjadi salah satu alternatif orang untuk menjual karya seni digitalnya.

NFT dapat diartikan sebagai sebuah token kriptografi yang mewakili suatu barang yang dianggap unik. Dengan memiliki aset NFT, pemilik seperti memiliki karya seni atau barang antik.

Sebenarnya NFT ini mirip dengan aset digital lainnya, seperti Bitcoin dan Ethereum. Namun, perbedaan mendasarnya ialah NFT ini tidak bisa dipertukarkan.

Karya seni kedua

Weird Whales sendiri adalah koleksi karya seni digital kedua dari Ahmed. Sebelumnya, ia juga pernah membuat koleksi karya seni digital yang terinspirasi dari game piksel Minecraft, bernama "Minecraft Yee Haa".

Koleksi NFT milik Ahmed yang pertama berisi 40 tipe avatar bergaya piksel. Namun, penjualan NFT Minecraft Yee Haa ini tidak sesukses Weird Whales.

"Saya membuatnya setelah menghabiskan terlalu banyak waktu bermain video game Minecraft," kata Ahmed. Dia menciptakan karya seni, lalu memprogram karya seni itu satu per satu sendiri.

Dalam menciptakan Weird Whales, Ahmed terinspirasi dari meme ikan paus bergaya piksel popular. Kemudian, ia mengawinkannya dengan gaya seni digital melalui program yang dibuatnya sendiri. Maka, jadilah 3.350 tipe emoji Weird Whales.

Saat ini, Ahmed sedang mengerjakan koleksi karya seni digital ketiganya yang bertema superhero. Ia juga ingin membuat game bawah air yang menampilkan ikan paus.

Ayah Ahmed, Imran, menjamin karya seni anaknya ini tidak melanggar undang-undang hak cipta dan telah melibatkan pengacara untuk mengaudit karya seni Ahmed sebelum dijual.

Belajar coding dari 5 tahun

Di usia 12 tahun, Ahmed sudah akrab dengan dunia teknologi, bahkan sukses membuat karya seni digital yang dijual sebagai NFT.

Hal ini tak lepas dari pengaruh ayahnya, Imran, yang bekerja sebagai seorang pengembang software yang bekerja di sebuah perusahaan keuangan.

Karena itu, Ahmed dan kakaknya, Yousef, mulai didorong untuk belajar coding alias pemograman sejak usianya masih lima dan enam tahun, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari BBC, Senin (30/8/2021).

Menurut Imran, anak-anaknya biasanya latihan coding selama 20 atau 30 menit dalam sehari, termasuk pada hari libur.

Dia mulai belajar HTML dan CSS, dan terus mengembangkan keterampilan coding miliknya. Kemudian mempelajari JavaScript dan program lainnya. Namun, akhir-akhir ini NFT menarik perhatian Ahmed.

“Saya pertama kali belajar tentang NFT awal tahun ini. Saya terpesona dengan NFT karena Anda dapat dengan mudah mentransfer kepemilikan NFT melalui blockchain,” kata Ahmed, sebagaimana dihimpun CNBC.

Dari situlah akhirnya Ahmed yang tertarik dengan teknologi ini mulai menciptakan koleksi karya seni dalam bentuk NFT miliknya sendiri, menggunakan pemrograman Python. 

https://tekno.kompas.com/read/2021/08/30/10210047/anak-12-tahun-jual-nft-emoji-ikan-paus-laku-rp-5-miliar

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.