Dicari Pemimpin Berbudaya

Kompas.com - 01/04/2008, 12:54 WIB
Editor

Wawasan budaya

Memahami karakter budaya adalah memahami karakter masyarakat pembentuk budaya. Menurut budayawan Jakob Sumardjo (69), pemimpin Jabar harus memiliki wawasan budaya yang kuat. Ia mencontohkan, orang Jabar di daerah pantai punya karakter yang berbeda dengan orang Jabar di pedalaman.

Komunitas etnik Sunda, menurut Jakob, tidak terbentuk seperti Jawa. Orang Garut merasa berbeda dengan Sumedang. Orang Bogor merasa berbeda dengan Karawang, dan lainnya. Itu sebabnya pemimpin Jabar tidak bisa otoriter. Ia harus mampu mendengarkan suara rakyat dengan karakter berlainan itu.

Dalam membangun Jabar, pemimpin Jabar juga harus melibatkan pemimpin kota/kabupaten yang tahu betul karakter dan potensi masyarakatnya.

Perbedaan karakter ini membuat satu program pembangunan harus dilakukan dengan berbagai cara, disesuaikan dengan masyarakat setempat. ”Pemimpin daerah tak bisa mencontoh Jakarta. Bangunlah cara pandang nasional modern dengan metode berpikir masyarakat setempat,” katanya.

Pasar kesenian

Akar budaya yang tercermin dalam produk budaya khas Jabar perlu perlindungan agar tak terkikis perubahan. ”Seniman sadar akan hak cipta, tetapi juga harus diikuti tindakan tegas bagi pembajak,” kata Gugum Gumbira, pencipta tari jaipongan.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Gugum berharap pemimpin Jabar bisa menangani tindakan yang mengurangi kesejahteraan seniman, seperti pembajakan. Dia berharap Jabar bisa membangun ”pasar” pertunjukan untuk seniman tradisional sehingga Jabar bisa jadi tempat kunjungan turis domestik maupun internasional.

”Selama ini pasar pertunjukan hanya Jakarta. Jabar, terutama Bandung, hanya menjadi ’dapur’ tempat melahirkan seniman,” kata Gugum.

Masalah kesejahteraan dan keadilan juga mendesak untuk ditangani pemimpin Jabar. Di mata Rieke Diah Pitaloka (34), artis dan aktivis perempuan, Jabar masih memiliki masalah kemiskinan dan keadilan yang belum didengar pemimpin. Itu sebabnya perempuan berkartu tanda penduduk Depok ini menginginkan pemimpin yang komunikatif sehingga rakyat bisa mengutarakan masalahnya.

Rieke berpesan agar rakyat cermat dan bijak dalam menentukan pilihan. ”Jangan sampai waktu lima menit di ruang kotak suara terbuang sia-sia karena memilih pemimpin yang tidak tepat,” kata Rieke. (Yenti Aprianti)

 

Sumber: Kompas Edisi 1 Maret 2008 Halaman 5

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X