Mengenang Calon Insinyur dan Calon Ekonom di Museum Tragedi - Kompas.com

Mengenang Calon Insinyur dan Calon Ekonom di Museum Tragedi

Kompas.com - 12/05/2008, 15:16 WIB

GEDUNG M Sjarief Thayeb kampus Universitas Trisaksi, Jakarta menjadi saksi bisu, empat nyawa mahasiswa terenggut sia-sia melalui selongsongan peluru yang membubarkan barisan mahasiswa, saat melakukan aksi mimbar bebas 12 Mei 1998 lalu.

Sebuah lubang kecil masih terlihat menganga di salah satu dinding kaca gedung tersebut. Lubang itu sengaja dibiarkan. Sebuah lubang yang menjadi tanda bahwa sebuah peluru pernah menerjang kampus itu. Salah satu ruang dis isi kanan Gedung Sjarief Thayeb dijadikan Museum Tragedi Trisakti 12 Mei 1998. Tempat yang menyimpan cerita tentang 4 putra kebanggaan keluarga. Mereka adalah Elang Mulia Lesmana (mahasiswa Arsitektur), Hendriawan SIe (jurusan Manajemen), Hery Hartanto (Teknik Mesin) dan Hafidhin Royan (Teknik Sipil).

Pada sebuah panel "In Memoriam" terpampang foto 4 pejuang reformasi itu. Di sebelahnya, pada sebuah panel berwarna merah terdapat sebuah puisi karya Taufiq Ismail, yang ditulis tanggal 13 Mei 1998, sehari setelah tragedi berdarah yang menewaskan Elang, Hafidhin, Hery dan Hendri.

Inilah puisi yang menggugah hati siapa saja yang membacanya:

Empat syuhada berangkat pada suatu malam, gerimis air mata -Tertahan di hari keesokan, telinga kami lekapkan ke tanah kuburan,dan simaklah itu sedu sedan -Mereka anak muda pengembara tiada sendiri, mengukir reformasi karena jemu deformasi, dengarkan saban hari langkah sahabat-sahabatmu beribu menderu-deru -Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu -Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad 21 -Tapi malaikat telah mencatat prestasi kalian tertinggi di Trisakti, bahkan seluruh negeri, karena kalian berani mengukir alfabet pertama dari kata Reformasi-Damai dengan darah arteri sendiri -Merah putih yang setengah tiang ini, menunduk di bawah garang matahari, tak mampu mengibarkan diri karena angin lama bersembunyi -Tapi peluru logam telah kami patahkan dalam doa bersama dan kalian pahlawan bersih dari dendam, karena jalan masih jauh dan kita memerlukan peta dari Tuhan

Hari ini, Senin (12/5), Museum Tragedi yang buka setiap Senin dan Kamis itu tampak ramai dikunjungi para mahasiswa yang masih 'hijau'. Mengenal sosok kakak angkatan mereka yang telah berpulang. Di bagian bawah foto, terdapat sekelumit cerita yang mengenalkan pengunjung pada sosok 4 mahasiswa itu.

Elang Mulia Lermana, lahir 5 Juli 1978, anak kedua dari 3 bersaudara. Ia gemar melukis. Itulah yang mendasarinya memilih jurusan arsitektur. Elang tercatat sebagai mahasiswa angkatan tahun 1996. Elang, yang tertembak di halaman gedung Dr. Sjarief Thayeb, bukanlah aktivis dan tidak aktif di senat mahasiswa.

Hafidhin Royan, yang kerap dipanggil Idhin adalah mahasiswa jurusan Teknik Sipil, kelahiran Bandung 28 September 1976. Idhin yang dijuluki Ustad oleh teman-temannya, seorang aktivis yang vokal. Beberapa hari sebelum berpulang, Ibunya sempat bertanya kapan ia akan mudik ke Bandung. Idhin menjawab, akan pulang Rabu, 13 Mei 1998. Dan ia memang pulang, tapi sudah dalam keadaan terbujur kaku.

Hendriawan Sie adalah mahasiswa jurusan Manajemen, perantau asal Balikpapan, Kalimantan Timur. Hendri adalah putra tunggal pasangan Hendrik Sie dan Karsiyah, kelahiran 3 Mei 1978. Kepada kakeknya, ia selalu mengatakan akan selalu berada di garis depan dalam setiap aksi demonstrasi. Dalam pertemuan terakhirnya dengan sang pacar, Hendri memberikan sebuah sapu tangan berwarna merah.

Heri Hartanto, merupakan mahasiswa jurusan Teknik Mesin Trisakti angkatan 1995. Ia dikenal getol berwirausaha. Sebelum nyawanya terenggut, Heri sempat mengajukan pinjaman kredit sebesar Rp200 juta untuk usahanya. Sebuah usaha yang tak pernah ia wujudkan.

Kini, Museum Tragedi itulah yang menyampaikan aspirasi, perjuangan pengorbanan mereka hingga titik darah penghabisan. Berbagai barang kenangan almarhum juga terpajang di sebuah meja kaca. Catatan kuliah, sepatu, pakaian dan topi. Saksi bisu perjuangan mereka, yang hidupnya diakhiri dengan sebuah peluru.


Editor

Close Ads X