Batik Fractal, Teknologi Mewariskan "Ruh" Batik

Kompas.com - 09/08/2008, 05:06 WIB
Editor

Ia mengatakan setiap batik di Indonesia memiliki ciri khasnya sendiri. Ia mencontohkan batik Pekalongan. Menurutnya, ciri batik dari daerah tersebut penuh dengan motif. Ini merupakan akibat dari pengaruh masuknya pedagang China, Arab, dan Belanda ke daerah Pekalongan, katanya.  

Lalu, bagaimana motif batik Solo dan Yogyakarta? Motif batik Solo dan Yogya mencederung teratur dan menoton. Hal ini melambangkan keteraturan yang bersumber dari wilayah keraton, tuturnya. Motif batik pesisir daerah pesisir menurutnya lebih bebas. Namun, motif batik Madura cukup teratur.   

Hingga Milan

Salah seorang anggota Pixel Project, Lucky, mengikuti 10th Generative Art International Conference yang diselenggarakan oleh Politecnico Air di Milano, Desember 2007 lalu. Pengunjung dan peserta konferensi tersebut adalah seniman komputasi, desainer, arsitek, ilmuan matematika, dan lainnya.  

"Respon peserta di sana cukup baik. Dengan keberangkatan kami ke Milan, Indonesia sudah masuk dalam pemetaan perkembangan seni, sains dan teknologi terkini di dunia internasional," tutur Nancy.  

Sedangkan di dalam negeri, Nancy mengakui, respon yang diperolehnya sangat beragam, mulai dari yang positif sampai negatif. "Tetapi perbedaan ini membuat kami tambah semangat untuk menciptakan karya baru dan mengeksplorasi potensi batik," tuturnya.  

"Harga batik fraktal berkisar dari Rp. 500.000 Rp. 2.000.000 per potong. Semuanya tergantung desain dan bahan. Sampai saat ini, kami belum membuat desain terumit karena biaya pembuatan yang sangat mahal," akunya. Itu juga karena mereka melayani pemesanan batik satu persatu. Salah satu pelanggan setianya adalah Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman. 

Saat ini, Pixel Project telah menghasilkan 15 desain utama yang dapat dikembangkan menjadi ribuan varian desain. Ke depan, motif batik apapun dapat dibuat rumus matematikanya ibarat kode DNA. Dengan bantuan teknologi, metode batik fractal tak hanya mewariskan seni dan fisik batik, melainkan ibarat mewariskan ":ruh" batik itu sendiri.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X