Perempuan Nelangsa dalam Cerpen Happy Salma

Kompas.com - 09/09/2008, 23:48 WIB
Editor

oleh Asep Sambodja

Pada mulanya adalah kecurigaan. Kita dapat saja curiga kenapa Happy Salma menulis karya sastra. Kenapa Happy Salma menulis cerpen dan sudah pula diterbitkan dalam kumpulan cerpen Pulang (Depok: Koekoesan, 2006)?

Kalau kita mengutip Ignas Kleden, setidaknya ada tiga kegelisahan yang menyebabkan seseorang menulis, yakni kegelisahan eksistensial, kegelisahan politik, dan kegelisahan metafisik. Yang menjadi persoalan kemudian adalah kegelisahan macam apa yang melatarbelakangi Happy Salma ketika menulis cerpen?

Sebagai seorang artis sinetron dan bintang iklan, Happy Salma tidak perlu lagi mencemaskan persoalan eksistensial karena ia sudah eksis di bidangnya. Namun, sebagaimana Rieke Diah Pitaloka—artis yang juga menghasilkan karya sastra berupa puisi dan berpolitik praktis—Happy Salma tampaknya merasa tidak cukup puas dengan gemerlapan di dunia selebritis. Ia ingin lebih dari sekadar terkenal sebagai artis dan bintang iklan, ingin lebih dari sekadar meraih uang dalam jumlah besar, dengan menulis karya sastra, dalam hal ini cerpen.

Karena apa? Kita tahu bahwa sastra sebagai karya seni berpotensi menyimpan sekaligus merekam pikiran dan perasaan kita lebih lama dan “abadi”. Dengan menuangkan gagasannya melalui karya sastra, kita sebagai pembaca tidak saja menikmati cerita Happy Salma, tetapi juga menangkap pesan yang hendak disampaikannya. Bisa jadi melalui media sastra ini, Happy Salma lebih leluasa menyampaikan dan mengekspresikan gagasannya.

Kumpulan cerpen Pulang karya Happy Salma ini sebagian besar berbicara tentang pulang; yang berarti kembali ke rumah, kembali ke kampung halaman, kembali ke orangtua, kembali ke alam baka, atau yang dikenal sebagai sangkan paraning dumadi, manusia berakal yang mencoba mencari asal-muasalnya dan pencarian tujuan bagi segala yang diciptakan di muka bumi. Dalam cerpen-cerpen Happy Salma, Pulang juga bisa berarti meninggalkan tindakan buruk (Pada Sebuah Pementasan), kematian (Adik), atau juga firasat buruk yang dirasakan ibu terhadap anaknya yang tak pernah memberi kabar meskipun terus mengirim uang dari perantauan (Pertemuan).

Ada tiga cerpen dalam kumpulan buku ini yang memperlihatkan Happy Salma serius menghasilkan karya sastra, yakni cerpen Pulang, Pertemuan, dan Ibu dan Anak Perempuannya. Saya katakan serius karena Happy Salma tidak sekadar menghibur, tapi juga bersuara, yakni menyuarakan jeritan perempuan yang nelangsa, perempuan yang sengsara. Dengan demikian, cerpen Happy Salma memenuhi fungsi karya sastra yang disebut Horatius sebagai dulce et utile (menghibur dan bermanfaat).

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam cerpen Pulang, Happy Salma memperlihatkan seorang perempuan yang memberontak terhadap kekangan budaya patriarki. Semakin keras kekangan itu atau semakin besar represi yang dilakukan oleh orangtua, semakin besar pula resistensi yang dilakukan seorang anak terhadap orangtua.

Dalam cerpen tersebut, sang bapak melarang anaknya berhubungan dengan lelaki yang berbeda agama atau keyakinan. “Nar, kita orang Sunda, orang Sunda tidak ada yang memiliki dua keyakinan dalam satu rumah, apa pun alasannya,” suara Bapak berubah parau (halaman 94).

Sang Bapak sangat yakin anaknya dapat mengerti dan memahami pernyataannya. Namun, tanpa sepengetahuan sang bapak, sang anak sebenarnya sangat membencinya, karena hubungannya dengan lelaki beda agama itu sudah demikian jauh, karena ia sudah tidak perawan lagi. Tapi, bukan soal tidak perawan itu yang menggelisahkannya, melainkan kepergian sang kekasih setelah tidak mendapat restu dari orangtua. Meskipun demikian, perlawanan yang dilakukan sang anak hanyalah perlawanan dalam kepatuhan.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X