Perangkat Lunak Tingkatkan Pendapatan Pelabuhan 15 Persen

Kompas.com - 26/11/2008, 22:31 WIB
Editor

BANDUNG, RABU - Sebagian besar pelabuhan di Indonesia belum menggunakan perangkat lunak yang modern untuk mendukung operasionalnya. Padahal, penggunaan perangkat lunak di pelabuhan terbukti mengefisienskan pengeluaran dan menambah pendapatan setidaknya hingga 15 persen.

President Director and Chief Executive Officer PT Dycode Cominfotech Development Andri Yadi di Bandung, Rabu (26/11), mengatakan, di Indonesia terdapat 1.735 pelabuhan. Sebagian memang sudah menggunakan aplikasi komputer namun tidak sesuai sasaran, mislanya di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

"Perangkat lunak yang dipakai di sana pun sudah ketinggalan zaman. Pegawai di pelabuhan yang tidak menggunakan perangkat lunak sering salah memasukkan data. Selain itu, kerap terjadi kebocoran dalam bentuk pungutan tak resmi bila pengguna jasa menghadap petugas pelabuhan," ujarnya.

Menurutnya, pemakaian perangkat lunak yang sesuai kebutuhan operasional pelabuhan akan dapat mencegah kebocoran itu. Sebab, pengguna jasa pelabuhan tak perlu bertemu petugas. Mereka cukup mengirimkan berkas-berkas melalui internet. Prosesnya pun diawasi. Di pelabuhan Batu Ampar, Batam, sudah dioperasikan perangkat lunak modern.

Kepala Bidang Komersil Kantor Pelabuhan Batam, Heri Kahfianto mengatakan, perangkat buatan Dycode sudah diuji coba sejak Agustus 2008. Sejak itu, terjadi peningkatan pendapatan sekitar 15 persen dari Rp 10 miliar per bulan menjadi Rp 12 miliar.  

"Data-datanya dibenahi. Sebelumnya, pengguna pelabuhan masih bertemu petugas. Kalau ada empat meja, kemungkinan bisa terjadi pungutan tak resmi sebanyak itu," katanya.

Di Batam terdapat 111 pelabuhan. Menurut Heri, di seluruh pelabuhan itu sedang dipasang perangkat lunak yang akan dioperasikan tahun 2009 dan berpusat di Batu Ampar. Perangkat lunak membuat penyediaan informasi tentang kapal, jenis barang, dan penumpang lebih cepat dan mudah.

"Petugas dipantau, ada atau tidak di tempat. Kalau ada kapal datang tidak dilayani, bisa ketahuan. Sebelumnya, kebanyakan keluhan memang seperti itu," katanya.

Kapal barang yang datang ke Batam sebanyak 150 unit per hari. Adapun kapal penumpang internasional dan domestik masing-masing 120 unit. Turis yang datang sebanyak 4 juta orang per tahun, terdiri dari 2,5 juta wisatawan domestik dan 1,5 juta wisatawan asing.

Jumlah kapal yang berlabuh di Batam sebanyak 20.000 kapal per tahun masih kalah jauh dibandingkan Singapura sebanyak 100.000 kapal. Kuan titas bongkar-muat barang di Batam hanya 5 juta ton per tahun, sedangkan Singapura 17 juta ton.  

"Di negara-negara maju, pelaksanaan jasa pelabuhan sudah sangat efisien dan efektif dalam pelayanannya berkat perangkat lunak," kata Heri.

Seluruh pelabuhan di Singapura, Korea Selatan, Jepang, dan Hongkong sudah menggunakan perangkat lunak. Singapura bahkan sudah memiliki dua sistem perangkat lunak yaitu portnet untuk mengelola pelabuhan serta trade net untuk bea dan cukai.

"Kapal bisa memilih mau ke Batam atau Singapura. Tapi, jelas ada yang salah dengan Batam dan sedang diperbaiki," katanya.

 



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X