VCD dan DVD Bajakan Marak, Bioskop Terancam Tutup

Kompas.com - 02/12/2008, 20:02 WIB

JAKARTA, SELASA -- Kehadiran bioskop sejak 108 tahun lalu di Indonesia telah turut memberikan warna bagi perkembangan sejarah bangsa Indonesia. Selama puluhan tahun bioskop telah memberikan sumbangsih yang sangat bersar bagi pembangunan daerah melalui PAD dari sektor pajak hiburan.

Adanya kemerosotan dalam jumlah bioskop dewasa ini, yang pada awal dekade 90-an bioskop mencapai puncaknya yakni 3.600 layar/bioskop, dan banyaknya kota dan daerah yang bioskopnya berhenti beroperasi, maka sudah saatnya pemerintah daerah memberikan insentif untuk menggairahkan kembali perbioskopan di daerah.

Demikian dikatakan produser film/sinetron dan pengusaha bioskop Chand Parwez Servia, pada seminar Peranan Film dalam Pembangunan Ekonomi Daerah, yang digelar Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N), Selasa (2/12) di Jakarta. "Maraknya VCD dan DVD film bajakan, menimbulkan persaingan tidak sehat antara bioskop dengan peredaran rekaman film bajakan, yang harga per kepingnya pun relatif sama atau lebih murah dari harga tiket bioskop," katanya.

Menurut Chand, bila pemerintah ingin turun tangan, seyogianya bukan melalui regulasi. Akan tetapi melalui bantuan langsung kepada bioskop tahap menengah ke bawah atau bisa kembali tampil representatif. Bantuan itu bisa berupa dana penjaminan agar produser mau memberikan film atau bantuan rehabilitasi bioskop yang ada. Termasuk memberikan keringanan pajak hiburan dan penyederhanaan perizinan.

Satu hal yang pasti, perkembangan perbioskopan tidak saja memanjakan penonton sebagai pemangku kepentingan utama yang sangat penting perannya dalam industri film. Akan tetapi juga akan turut memberikan kontribusi yang relatif besar terhadap pendapatan asli daerah.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Editor
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X